10 Rahasia Menjadikan Anak Anda Jutawan di Masa Mendatang (Bagian 1)


Penting merencanakan investasi yang terbaik untuk anak-anak sejak usia dini

Penting merencanakan investasi yang terbaik untuk anak-anak sejak usia dini (via pixabay.com)

Halo Jakartans! Membaca suatu artikel di koran elektronik mengenai 10 rahasia menjadikan anak anda jutawan di masa mendatang. Luar biasa menarik dan relatif sederhana. Kami mencoba mengintisarikannya untuk Anda, dan mencoba untuk mengadaptasikannya dengan realita di Indonesia. Apa saja?

1. Jangan “Over Educate”, Lengkapi pendidikan wajib dengan baik dan jangan berinvestasi terlalu banyak disini

Banyak orang beranggapan makin banyak yang diketahui seseorang akan makin kaya dan sukses orang tersebut. Dan ini diterapkan pada pendidikan anaknya. Menjejali aneka kursus, les, keterampilan dan bahasa, seolah menjadi beban yang tidak terhingga bagi anak-anak.

Padahal sebenarnya cukup lakukan tiga hal untuk investasi yang baik dan produktif bagi anak-anak kita : (1) sekolahkan dengan baik di sekolah yang relatif baik untuk memperoleh pendidikan wajib yang memadai ; (2) ajari nilai-nilai kehidupan yang luhur dan etos serta etika yang akan menjaga perilaku anak-anak hingga mereka dewasa dan menjadi landasan karakter mereka ; (3) berikan keterampilan dasar yang berguna saat menjalani hidup : bergaul, berkomunikasi dan bekerjasama.

2. Arahkan anak pada pendidikan tingkat pertama (kesarjanaan) yang akan memberikan “dividen” melimpah

Memang ada banyak pilihan program studi. Namun anak tetap perlu pengarahan. Jika sejak awal memang niat berbaktinya tinggi dan ingin menjadi seorang guru, rohaniwan, pekerja sosial atau peneliti, tentu tidak bisa kita halangi niat luhur anak kita. Tapi jika sejak awal dia tidak tahu mau ke arah mana dan di sisi lain kerap menyampaikan niatnya untuk menjadi orang kaya, segera lakukan pengarahan yang memadai.

Sejumlah program studi tidak menawarkan lahan pekerjaan yang berlimpah pada disiplin ilmu tersebut. Perlu keberanian untuk melintas pagar dan masuk ke area disiplin ilmu lain untuk bisa berhasil secara karir dan finansial. Maka untuk anak-anak seperti ini arahkanlah ke area seperti Ilmu Hukum Bisnis, Akuntansi, Perbankan, Teknologi Industri, Komputasi dan Informatika, Teknologi Informasi, Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Seni Desain Grafis.

Namun jangan lupakan etika dan etos kerja. Tanpa kerja keras semua tidak akan ada hasilnya. Dan etika lah yang akan memandu anak-anak itu dalam menjalani hidupnya. Cukup sering bukan kita dengar berita seorang ahli hukum yang asal bicara demi klien yang dibelanya sekalipun jelas bersalah? Atau cerita tentang dokter yang super komersil sehingga jasa dan ilmunya tidak dapat dinikmati orang banyak yang membutuhkannya.

3. Berinvestasi pada pendidikan lanjutan yang tepat guna dan jangan terlalu banyak investasikan uang disini

Pendidikan lanjutan bisa jadi diperlukan. Untuk menjadi kaya, hal ini mengerucut pada tiga disiplin ilmu saja : ilmu manajemen terutama manajemen bisnis, ilmu kedokteran terutama jenjang spesialisasi, serta ilmu teknologi informasi. Namun ketiganya memiliki tarif yang cukup mahal. Termurah dari ketiganya untuk realita di Indonesia adalah Ilmu Manajemen, di sekolah tinggi negeri terkemuka bisa mencapai Rp 100 juta untuk biaya kuliah saja. Jangan kita bayangkan di luar negeri.

Pikirkan, apakah hal ini bisa menjadi leverage factor kesuksesan anak-anak kita secara cepat dan manjur? Jika semua orang sudah ambil jurusan yang sama apakah nilai diferensiasi yang timbul? Hal ini hendaknya dipikirkan seksama. Biaya, dan juga tenaga serta waktu yang terbuang, apakah dapat memberikan dividen yang diharapkan? Saya malah berpikir, sekolah informal kewirausahaan menjadi solusi yang lebih dapat diterima jika aspek finansial menjadi ultimate goal.

4. Berikan anak pembelajaran akan nilai uang, investasi serta berwirausaha sejak dini dan terus menerus

“Suka suka dong, duit juga duit gue, mau gue kasih berlimpah ke anak gue sah sah aja dooong”. Muak sebenarnya mendengar ucapan seperti itu saat seseorang menjejali anak-anaknya dengan harta berlimpah, bukan membekalinya dengan pembelajaran akan pengelolaannya.

Ada tiga komponen kebendaan yang perlu ditanamkan sejak dini dan terus dipupuk sehingga membentuk sikap mental yang positif terhadap uang : nilai uang, konsep investasi dan kewirausahaan.

Nilai Uang menekankan aspek mental (dan juga moral) di balik suatu nilai uang. Konsep bahwa “uang membuat manusia menjadi jahat” sudah harus digantikan dengan konsep bahwa “ketiadaan uang yang membuat orang menjadi jahat”. Atau konsep “uang tidak bisa membeli segalanya” sudah harus dibuang dan digantikan dengan konsep “tanpa uang kita bahkan tidak bisa makan apalagi membeli yang kita inginkan”.

Konsep Investasi dan Lindung Nilai juga harus ditanamkan sejak dini. Konsep menabung sudah seyogyanya ditinggalkan karena tidak lagi sesuai dengan perkembangan jaman dan lansekap ekonomi di negara kita. Kadar ketidakpastian yang tinggi menjadikan tabungan menjadi menyusut. Konsep investasi, pertambahan nilai, lindung nilai serta kontra inflasi, sudah harus diajarkan perlahan, dan dipraktekkan sesuai tingkat pemahaman anak-anak.

Kewirausahaan. Inilah yang menjadikan negara kita mudah ambruk. Semua orang mau aman, menjadi pegawai. Padahal menjadi pegawai juga tidak aman sebenarnya… Sejalan dengan konsep pertambahan nilai, lindung nilai dan kontra inflasi, kewirausahaan harus dibina sejalan dengan pemupukan konsep investasi. Pembelajaran akan konsep kongsi, partnership serta investasi dalam bentuk saham usaha, harus mulai ditanamkan sejak dini.

5. Persiapkan anak sebuah rumah sedini mungkin sebagai faktor pengungkit finansialnya di masa mendatang

Jika waktunya tiba, maka akan dibutuhkan suatu keberanian dan modal besar dari diri anak-anak kita untuk “mentas”. Modal tersebut dapat kita sediakan, dan kita persiapkan sejak dini untuk jika waktunya tiba digunakan berwirausaha.

Jangan berpikir terlalu jauh bahwa rumah akan dijadikan agunan atau dijual untuk dijadikan modal usaha. Pikirkan hal-hal yang sederhana dulu. Bagaimana jika anak kita hendak berwirausaha dan tidak memiliki ruang usaha? Rumah itu bisa menjadi showcase miliknya yang tidak akan menguras modal untuk biaya perolehan lahan dan bangunan. Atau bagaimana jika ia membutuhkan kantor? Rumah bisa disulap menjadi kantor.

Atau bagaimana jika ia membutuhkan rumah sendiri dan tidak mampu menyicil KPR untuk membeli rumah karena ia masih sibuk kembangkan usahanya? Tentu anak itu membutuhkan rumah siap huni bukan? Dan rumah yang kita sediakan sejak awal akan membebaskannya dari aneka beban tambahan secara finansial.

Kelima poin di atas tentu bisa memicu perdebatan dan diskusi, namun diharapkan layak untuk menjadi bahan pertimbangan. Ikuti tulisan kami berikutnya di bagian kedua dari rangkaian tulisan ini.

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.