10 Rahasia Menjadikan Anak Anda Jutawan di Masa Mendatang (Bagian 2)


Halo Jakartans! Bagian pertama tentu sudah kita baca dan telah kita resapi dengan baik, bahkan mungkin sudah ada yang mendiskusikan dan memperdebatkannya. Apapun, terima kasih atas respon yang Anda berikan karena dengan merespon setidaknya Anda telah menyediakan diri untuk berjalan bersama-sama dengan kami untuk membentuk generasi mendatang menjadi generasi yang melek dan mapan finansial sejak dini. Cara kita masing-masing tentu sah-sah saja berbeda, dan tetap berbagi pengalaman serta pandangan tentu akan memperkaya wawasan kita bersama.

Mengajarkan investasi sejak usia dini adalah salah satu hal yang baik untuk mendidik

Mengajarkan investasi sejak usia dini adalah salah satu hal yang baik untuk mendidik (via pixabay.com)

Berikut bagian kedua dari tulisan tersebut :

6. Arahkan anak untuk mampu membaca trend bisnis dan memulainya lebih dini dengan investasi serendah mungkin

Seorang kawan kami keturunan Tionghoa, menolak keras anggapan bahwa “para keturunan Tionghoa memang dilahirkan untuk berbisnis”. Ia tidak pernah sependapat akan hal itu dan itu pula yang menarik perhatian kami. Namun ia mengatakan bahwa jika kalangan ini jawara berbisnis karena memang “lahan” mereka lebih sempit, sehingga diperlukan fokus, keseriusan serta pengembangan diri sejak dini dan terus menerus. Semata-mata masalah survival, tuturnya. Sepakat dengannya 100%.

Ia mengatakan, orang tuanya sejak ia kecil memaksa dirinya untuk menceritakan satu berita bisnis di malam hari sembari makan malam. Ayahnya yang memiliki beberapa toko, rupanya ingin membangun dua hal : minat akan dunia bisnis dan ekonomi, serta kemampuan membaca trend. Modalnya sederhana : koran. Kita tahu, saat kita kecil, sekitar 30 tahun lalu, tentu media informasi belum seperti sekarang. Jadi memang koran adalah sumber informasi yang kita miliki, dan itu lah yang dicoba untuk dimaksimalkan oleh ayah rekan kami tersebut.

Hasilnya, saat kita masih SD dan kelayapan dengan Game Watch, kawan kami ini sudah tahu berapa nilai tukar dollar ke rupiah dan dampaknya jika terjadi perubahan yang drastis. Saat kami SD pernah terjadi suatu devaluasi dan rekan kami ini mampu menterjemahkan apa pengaruhnya terhadap toko arloji ayahnya yang memiliki sejumlah inventori impor. Lalu saat lebih besar, ia sudah mengetahui soal potensi investasi dalam bentuk emas yang baru diributkan sekarang ini.

7. Bukakan anak anda rekening investasi, jangan pernah bukakan rekening hutang atau kartu kredit dalam bentuk apapun

Sejumlah bank memiliki produk tabungan pendidikan atau tabungan rencana. Ini adalah media termudah dan termurah untuk ajarkan arti berinvestasi dan membuat perencanaan keuangan bagi putra putri kita. Libatkan mereka ke dalam proses registrasi dan jelaskan dengan seksama mengenai tujuan dari pembukaan rekening itu. Kalimat-kalimat sederhana berikut bisa digunakan layaknya kita seorang salesman menjelaskan kepada calon nasabahnya : “Ini adalah tabungan yang dibuka untuk merencanakan biaya kuliah kamu sepuluh tahun dari hari ini. Dengan menabung Rp 100.000,- harusnya kita akan memiliki Rp 12 juta, namun karena ini adalah investasi maka sesuai kalkulasi kita akan memperoleh Rp 18 juta (misalkan)…”

Dengan demikian bukan hanya pemahaman positif yang akan diperoleh tetapi juga rasa ikut memiliki dan bertanggung jawab atas kelangsungan pendidikannya yang akan muncul. Bandingkan jika kita perkenalkan dengan kartu belanja, kartu kredit atau kartu debit atau apalah… Bukan cuma kita yang akan pusing untuk mengawasi dan melunasi penggunaannya, namun kita juga akan gagal dalam ajarkan arti bertanggungjawab dan bijaksana dalam melakukan perencanaan keuangan pada anak.

8. Secara perlahan dan konsisten arahkan anak anda untuk penuhi sebagian keinginannya dari hasil usahanya sendiri

Pernah mendengar cerita berikut : seorang ibu mengajak dua putranya membeli game console dengan jalan meminjami uang lalu mengumpulkan uang tabungan anak-anaknya dan pergi ke toko. Sepulangnya dari toko, selain minta si ayah untuk memasang console tersebut dan mengajari anak-anaknya, si ibu membuat aturan bahwa jam bermain adalah jam-jam tertentu saja, dan menyewa. Menyewa? ya, si ibu ingin si anak tidak menikmati permainan itu secara gratis dan tidak bertanggung jawab. Si anak wajib menyewa dan memasukkan uangnya ke box yang sudah disiapkan.

Di akhir bulan, box itu dibuka, dan uangnya dibagi empat. Masing-masing seperempat bagian dikembalikan ke tiap anak sebagai “bagi hasil” atas “usaha penyewaan” console tersebut. Dan sisa separuh bagian, merupakan seperempat bagian milik masing-masing anak diambil si Ibu untuk pengembalian utang, atas pinjaman kepada anak-anaknya untuk “memulai usaha penyewaan console” tersebut. Setiap anak tetap memperoleh uang saku, dan kemampuan mereka menyisihkan uang saku menentukan berapa lama mereka bisa menyewa console permainan tersebut.

Ilustrasi di atas, dan ini adalah kisah nyata, menunjukkan tekad si ibu untuk mengajari anaknya lima prinsip penting untuk menjadi kaya. Satu, mengenai konsep meminjam untuk usaha produktif sebagai leverage factor kesuksesan finansial. Dua, mengenai konsep aset produktif, yang dapat memberikan penghasilan secara rutin dan untuk melakukan pengembalian pinjaman produktif. Tiga, mengenai konsep mengelola uang tunai dan menunda keinginan untuk mewujudkan keinginan yang lebih besar. Empat, mengenai konsep investasi bersama untuk memulai suatu usaha. Lima, mengenai konsep bagi hasil atas investasi tersebut.

9. Belikan aset produktif, jangan beban finansial ; Belikan saham, surat investasi dan properti, Jangan pernah belikan mobil

Permainan finansial dengan mempergunakan game console sebagai media seperti contoh di atas hanyalah salah satu. Ada banyak hal lain yang juga riil dan dapat kita terapkan. Seorang kawan mencicil rumah di pinggir kota, rumah kecil dan sederhana di lingkungan asri dan disewakan, rumah itu diperuntukkan bagi putranya. Sang putra yang sudah SMU dilibatkan dalam proses renovasi, mengadministrasikan uang sewa dan membayarkan aneka pajak serta iuran atas properti tersebut. Seorang kawan lain mengenalkan reksadana kepada putranya yang masih SD. Dibelikan reksadana yang sederhana dan mulai diajarkan konsep “pertambahan nilai melalui investasi”. Seorang kawan lainnya mewariskan putranya saham PT Telkom Tbk yang termasuk blue chip dan merangsang untuk diikuti pergerakannya. Intinya, apapun yang positif dan produktif, layak untuk diperkenalkan kepada calon jutawan muda. Namun jangan pernah kenalkan mereka dengan liabilitas yang hanya akan bebani hidup finansial mereka.

Mobil adalah contoh yang paling umum ditemui. Juga kartu belanja atau kartu kredit remaja. Mana mungkin remaja bisa bertanggung jawab atas pembelanjaan jika tidak pernah bekerja untuk memperoleh uang dan bertransaksi tanpa merasa mengeluarkan uang? Mobil pun memiliki biaya operasional yang besar sebenarnya yang tidak pernah terpikirkan oleh para calon jutawan muda itu : pajak, asuransi kredit, biaya-biaya administrasi kredit, asuransi kendaraan dan sebagainya. Sementara mobil tidak bisa dikatakan aset produktif karena setiap harinya akan berkurang nilainya. Inikah yang akan kita perkenalkan kepada calon jutawan muda? tentu tidak…

10. Investasikan waktu pada jaringan dan pengetahuan, bukan pada kesenangan. Jadikan networking sebagai kesenangan

Ini cukup pelik. Di sekitar kita pun, sejumlah kolega manager bahkan direktur, senang sekali melakukan “networking” yang pada akhirnya akan mereka akui sendiri secara tidak sadar sebagai sesuatu yang “untuk kesenangan, namun sesungguhnya tidak memberi manfaat lain bagi saya dan bahkan membuang uang saya…”. Lucu ya jika statement itu keluar dari para eksekutif, namun itu fakta. Tidak dipungkiri bahwa naluri manusia sebagai makhluk sosial akan menuntunnya untuk merasa aman dan nyaman saat bertemu dan bersama “kawanan”-nya. Namun jangan sampai naluri ini merusak apalagi membunuh aspek finansial kita.

Kita dituntut untuk selalu perluas jaringan dan menambah pengetahuan kita, dan ini harus dilakukan secara cermat. Bukan melakukan networking hanya karena ingin santai dan merasa senang, namun tidak memberi manfaat nyata apapun. Dari setiap upaya networking yang dilakukan harus memperoleh setidaknya salah satu dari tiga aspek berikut : referensi, pengetahuan yang produktif, dan akses ke bisnis. Masih ingat cerita Michael Dell, pendiri dan pimpinan Dell Computer? Sekalipun Drop Out dari universitas ia menjadi jutawan melalui bisnis komputer yang dirintisnya dari garasi rumah. Salah satu hobinya adalah bergaul dan berdiskusi dengan orang-orang yang dianggap keluarga dan gurunya “aneh”, yaitu tukang pos, kasir, pengantar koran, teknisi komputer dan tukang pipa. Apa yang didapat? Pengetahuan mahal mengenai tiga hal : spesifikasi komputer yang tidak sesuai kebutuhan, seluk beluk bisnis kurir dan pengantaran surat, serta seluk beluk jasa teknisi dan perakitan. Ketiganya memiliki andil besar dalam model bisnis yang dirintisnya, dan… sukses besar !

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.