Ada ‘Hijau’ dan Damai Di Pinggir Jakarta


Halo Jakartans! Riak kehidupan Jakarta kadang memunculkan kerinduan besar, terhadap sebuah tempat damai dan hijau. Di pinggir Jakarta pun kita masih bisa temui lahan kosong yang dimanfaatkan untuk pertanian kota, salah satunya di kawasan Rawasari, Jakarta Pusat. Sederet rumah sangat sederhana tampak hening di bawah rindang pohon, dan di sekitarnya terhampar lahan pertanian yang hijau.

Lahan itu pun ditanami bermacam sayuran yang hasil panennya masuk di banyak rumah makan terkenal di Jakarta. Tanpa disadari para petani tersebut, telah menciptakan suasana damai dengan hamparan hijau, yang bisa dianggap sebagai pengimbang kebisingan Jakarta.

Pagi itu, persimpangan Jalan Pemuda masih lengang. Jarum jam baru beranjak dari angka 6 pagi. Beberapa asongan koran, rokok dan masker penutup wajah masih santai di bawah tiang lampu merah.

Beberapa meter dari persimpangan yang sebentar lagi dipadati kendaraan itu, kesibukan sudah dimulai. Belasan pria berkulit gelap bolak-balik menyiram tanaman dari dua ember besar dipikulan. Di lahan luas yang sempat jadi pemukiman liar itu kini berubah hijau, segar dan menjadi sumber penghasilan bagi banyak orang di sana.

Dekat pintu masuk lahan seluas 1,8 hektar itu berdiri papan nama yang sudah usang. Samar-samar terbaca tulisan yang menjelaskan tanah tersebut dikuasai Pemkot Jakarta Pusat. Lantas bagaimana ceritanya lahan ‘sengketa’ itu bisa dimanfaatkan oleh para petani kota tersebut.

Lahan pertanian di kawasan Rawasari, Jakarta Pusat

Lahan pertanian di kawasan Rawasari, Jakarta Pusat (via katadata.co.id)

Lahan ini memanglah lahan sengketa, tetapi sengaja dibuatkan plang “milik Pemda”, konon awalnya bermula ketika seseorang bernama Pak Tri mengajukan diri ke pejabat Pemda untuk memanfaatkan lahan kosong tersebut daripada menjadi lahan permukiman liar. Dan hal itu disetujui hingga akhirnya lahan kosong ini menjadi area pertanian di tengah Ibukota.

Lahan seluas itu digarap oleh lima pemborong yang telah mendapat ‘jatah’ lahan garapan sesuai kesepakatan dengan Pak Tri selaku pengelola lahan. Tiap pemborong mempekerjakan buruh tani antara 2 sampai 5 orang. Mereka dibayar Rp 50.000 perhari. Tugas mereka mulai dari menanam bibit sampai panen. Saat ini terdapat 5 unit pompa air yang siap mengairi lahan setiap harinya. Hampir semua yang menggantung hidup di lahan itu berasal dari Bogor, Jawa Barat.

Semua kebutuhan bercocok tanam menjadi tanggung jawab pemborong. Mulai dari membeli bibit, pupuk dan obat anti hama, hingga termasuk membayar uang listrik. Para pemborong hanya menanam lima jenis sayuran yang dianggap mudah dijual, seperti kangkung, selada, sawi putih, kemangi dan bayam. Mereka lebih suka menanam selada dan dan kemangi karena sudah punya beberapa pelanggan tetap.

Lahan ini dikelola oleh para pemborong dan buruh tani yang berasal dari Bogor, Jawa Barat

Lahan ini dikelola oleh para pemborong dan buruh tani yang berasal dari Bogor, Jawa Barat (via jalurkiri.blogspot.com)

Selain membawa hasil panen ke pasar terdekat, mereka juga punya konsumen tetap penjual masakan pecel lele dan beberapa rumah makan di sekitar Jakarta. Terkadang ada konsumen rumah tangga datang membeli untuk dikonsumsi sendiri. Alasan mereka, selain masih segar, harganya lebih murah. Sebuah rumah makan terkenal yang mengandalkan menu bebek kremes pun menjadi pelanggan tetap pemborong tersebut.

Agar tanamannya bisa sering dipanen, para pemborong harus bisa mengatur waktu tanam yang tepat. Sekian ratus pohon ditanam hari ini, ratusan lain di hari berikutnya. Habis panen langsung tanam lagi, begitu seterusnya. Tapi, bisa gagal panen juga kalau kurang hati-hati merawatnya.

Pendapatan para pemborong berbeda-beda tergantung dari luas lahan yang digarapnya. Semakin luas lahan yang digarap, semakin besar pendapatan yang diterimanya.

Dibayar Harian

Tumbuh subur atau matinya tanaman di sana tergantung dari perlakuan para buruh tani yang bekerja. Terdapat 24 buruh tani yang bekerja mulai pagi hingga petang berkutat di antara tanaman di bawah terik matahari. Semuanya asli Bogor, Jawa Barat. Mereka rata-rata dibayar uang Rp 50.000 per harinya. Mungkin upah sebesar itu relatif cukup untuk para buruh yang masih lajang. Bagi yang sudah berkeluarga terkadang dibantu oleh istri yang berjualan nasi di sekitar kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur.

Pak Tri dan para mereka yang mengandalkan hidup dari lahan sengketa ini tidak tahu sampai kapan bisa bertani disana. Diawal mereka sudah membuat perjanjian tidak akan menuntut apa-apa jika tanah ini akan digunakan oleh pemiliknya. Selain Rawasari, Pak Tri juga mengelola lahan serupa di area Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Jika setahun lagi, sebulan lagi, atau mungkin minggu depan lahan itu harus dikosongkan, mereka wajib angkat kaki. Mungkin mereka akan cari lahan lain, atau pekerjaan lain. Pastinya mereka harus memulai dari nol lagi.

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.