Antara Sejarah, Suasana Mencekam, dan Teduhnya Hutan Kota


Monumen Pancasila Sakti

Halo Jakartans! Sebelum menjadi kompleks memorial yang megah, kawasan Monumen Pancasila Sakti merupakan hutan karet yang sunyi. Meski kini tak sesunyi dulu, tapi semilir angin dengan naungan pepohonan rindang masih bisa dirasakan untuk mengiringi perjalanan Anda menilik satu babak sejarah kelam yang pernah terjadi di tempat ini.

Lebih dikenal masyarakat sebagai Museum Lubang Buaya, tempat bersejarah ini merupakan salah satu obyek wisata sejarah yang ada di sisi timur Ibu Kota Jakarta. Di akhir pekan, kawasan ini cukup ramai. Area yang luas dan rindang membuat banyak warga yang memanfaatkannya untuk berolahraga.

Sehari-hari, tempat ini juga banyak dikunjungi wisatawan yang ingin menilik sejarah. Sebagian besar merupakan rombongan pelajar. Tapi kadang pengunjungnya juga para pelancong dari luar Jakarta. Lahan kawasan Monumen Pancasila Sakti mencapai 14 hektar. Terletak di Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

Monumen ini cukup mudah diakses, baik menggunakan kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi. Anda hanya perlu mencari rute TransJakarta menuju Halte Bus Pinang Ranti di Jakarta Timur dan melanjutkan perjalanan kembali ke arah Pondok Gede dengan berganti angkutan kota atau angkot. Kawasan Monumen Pancasila Sakti ini ditandai dengan gapura besar yang megah di sisi kanan jalan arah terminal Pinang Ranti – Pondok Gede.

Gapura Monumen Pancasila Sakti sebagai pintu akses utama

Gapura Monumen Pancasila Sakti sebagai pintu akses utama (via tribunnews.com)

 

Monumen Pahlawan Revolusi sebagai pengingat peristiwa penculikan dan pembunuhan para petinggi Angkatan Darat oleh Gerakan 30 September PKI

Monumen Pahlawan Revolusi sebagai pengingat peristiwa penculikan dan pembunuhan para petinggi Angkatan Darat oleh Gerakan 30 September PKI (via tribunnews.com)

Dari gerbang utama ini, Anda harus melalui pos penjagaan dan terlebih dahulu membayar tiket di sana, Rp 4.000 per pengunjung. Melewati pos penjagaan, Anda akan terlebih dahulu menyusuri deretan pohon-pohon karet di sisi kanan jalan. Cukup rindang dan sejuk untuk menemani perjalanan sekitar 300 meter sebelum bertemu dengan zona inti dari wisata sejarah ini. Pusat wisata sejarah di kompleks ini terbagi dalam beberapa zona. Di antaranya adalah zona satu yang menjadi pusat dari wisata sejarah kawasan ini.

Zona satu meliputi situs-situs bersejarah mulai dari sumur maut dan tiga rumah lainnya, yakni rumah penyiksaan, rumah komando, dan juga rumah untuk dapur umum. Ketiga rumah tersebut masih dipertahankan sebagaimana aslinya, termasuk beberapa perabotan yang ada di dalamnya.

Sementara sumur maut sendiri, merupakan sumur kecil dengan diameter tak sampai satu meter. Tapi kedalamannya mencapai 12 meter. Sumur ini dulunya digunakan untuk mengubur para jenderal dan seorang ajudan jenderal yang kemudian dikenang sebagai pahlawan revolusi. Para korban ini kemudian diabadikan dalam sebuah patung perunggu seukuran tinggi manusia berlatar belakang burung Garuda. Lokasinya bersandingan dengan sumur maut. Patung-patung dengan latar belakang burung Garuda inilah yang disebut Monumen Pahlawan Revolusi.

Sumur maut digunakan untuk mengubur para jenderal yang kemudian dikenang sebagai Pahlawan Revolusi

Sumur maut digunakan untuk mengubur para jenderal yang kemudian dikenang sebagai Pahlawan Revolusi (via netralnews.com)

Kalau Anda ingat, di film Pemberontakan G30S PKI, sumur maut ini ditutup dengan pohon pisang untuk mengurangi kecurigaan, maka kini sumur maut tersebut di pagari pembatas dan ditata serupa pendopo. Tak hanya melihat-lihat, beberapa pengunjung terkadang menyempatkan diri untuk berdoa di depan sumur. Untuk mengenang dan menghormati Pahlawan Revolusi.

Zona lain yang harus dikunjungi di kawasan ini adalah Museum Paseban dan Museum Pengkhianatan PKI. Di Museum Paseban, pengunjung akan diajak untuk merunut cerita persiapan pemberontakan 30 September tersebut. Termasuk di antaranya adalah penculikan jenderal, penganiayaan serta pelarangan partai komunis, hingga masa-masa peralihan kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto yang saat itu masih berstatus Letnan Jenderal.

Patung-patung di rumah penyiksaan, diorama pada Museum Pengkhianatan PKI, dan informasi yang disajikan pada diorama tersebut, merupakan penggambaran kekerasan yang vulgar

Patung-patung di rumah penyiksaan, diorama pada Museum Pengkhianatan PKI, dan informasi yang disajikan pada diorama tersebut, merupakan penggambaran kekerasan yang vulgar (via winnymarlina.com)

 

Di kompleks yang dikelola oleh Pusat Sejarah TNI ini terdapat bangunan-bangunan bersejarah yang masih dilestarikan keasliannya

Di kompleks yang dikelola oleh Pusat Sejarah TNI ini terdapat bangunan-bangunan bersejarah yang masih dilestarikan keasliannya (via ivanpenedektus.blogspot.com)

Selanjutnya ada Museum Pengkhianatan PKI (Komunis). Menurut salah satu seorang petugas pembimbing informasi Monumen Pancasila, museum ini merupakan zona terakhir yang dibangun di kompleks ini. Diresmikan pada 1992, bangunan ini memuat runutan peristiwa terkait pengkhianatan PKI. Pengunjung akan dibawa pada suasana mencekam melalui diorama-diorama yang disuguhkan dalam etalase-etalase. Runut dari masa ke masa. Ada sekitar 40 diorama yang dipajang di bangunan dua lantai ini.

Mula-mula pengunjung akan dibawa pada peristiwa tiga daerah usai proklamasi 1945 dimana saat itu kelompok komunis sudah mulai menyusup ke organisasi-organisasi massa serta pemuda untuk memulai pergerakan mereka. Diorama selanjutnya terus bergulir dari berbagai peristiwa pemberontakan PKI di berbagai daerah, Madiun, Yogyakarta, Jakarta, dan beberapa kota lainnya. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Bagikan :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.