Asal Muasal Penamaan Hari di Pasar Jakarta


Halo Jakartans! Ada Pasar Minggu, ada Pasar Senin, dan juga Pasar Rebo (Rabu). Ternyata asal muasal berbagai nama-nama di Jakarta itu memiliki sejarah panjang.

Menurut Ketua Badan Musyawarah Betawi, Zainudin, sejarah munculnya Pasar Minggu erat kaitannya dengan sejarah kawasan lain di Jakarta yang juga memiliki nama depan hari. Misalnya saja Pasar Senen, Selasa, Rebo, Kemis, Jumat, dan Sabtu. Nama-nama pasar tersebut pertama kali muncul saat Jakarta masih ada di bawah kekuasaan Hindia Belanda.

Saat itu, kata Zainudin, warga Betawi yang menyebar hingga ke luar Jakarta seperti Depok, Tangerang, dan Bekasi, terbiasa dengan kehidupan yang rukun dan gotong-royong. Warga memanfaatkan benar pasar yang di dirikan oleh pemerintah saat itu. Saat ada di pasar, warga Betawi bercengkerama, silaturahmi, guyub, dan melakukan transaksi bisnis.

Pasar Koja Baru (dulu Pasar Selasa) di Jakarta Utara yang penuh dengan kios pedagang

Pasar Koja Baru (dulu Pasar Selasa) di Jakarta Utara yang penuh dengan kios pedagang (via jakrev.com)

Keberadaan pasar yang dibuka dalam sekali seminggu di berbagai kawasan itu dimanfaatkan oleh warga Betawi sebagai wahana silaturahmi dan sekaligus ajang jual beli hasil pertanian, kerajinan tangan, maupun makanan tradisional khas Betawi.

“Tak terbayang jika dulu pasar beroperasi setiap hari. Bagaimana warga Betawi datang ke pasar? Dulu itu warga Betawi masih sangat sedikit dan tinggalnya saling berjauhan. Pada masa itu juga belum ada transportasi seperti sekarang,” tutur Zainudin.

Kebijakan Hindia Belanda

Pengoperasian pasar hanya sehari dalam sepekan, menurut Zainudin, tak lepas dari kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang menginginkan pasar beroperasi dalam pengawasan dan pengamanan yang baik. Selain itu, Pemerintah saat itu ingin memberi kemudahan bagi warga Jakarta yang ingin berkunjung ke pasar dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Dengan kebijakan tersebut, di Jakarta tempo dulu berdiri sejumlah pasar yang dipelopori Vincke Passer atau kini dikenal dengan sebutan Pasar Senen di Jakarta Pusat. Pasar Senen yang di dirikan tuan tanah dengan nama yang sama, kemudian diikuti oleh pasar lainnya. Khusus penamaan hari di belakang pasar, itu didasarkan pada waktu operasi yang mulai ditetapkan Pemerintah saat itu di awal 1800-an.

Suasana pedagang buku di Pasar Minggu yang masih eksis berjualan hingga saat ini

Suasana pedagang buku di Pasar Minggu yang masih eksis berjualan hingga saat ini (via republika.co.id)

Setelah Pasar Senen yang beroperasi pada hari Senin dan menjadi pasar pertama dalam sepekan, pasar kedua yang beroperasi pada Selasa adalah Pasar Selasa yang di kemudian hari berganti menjadi Pasar Koja di Jakarta Utara. Selain itu, pasar yang beroperasi pada Rabu adalah Pasar Rebo di Jakarta Timur.

Pasar berikutnya yang mempunyai sejarah panjang, adalah Pasar Kamis yang dulunya bernama Mester Passer dan kini berganti menjadi Pasar Jatinegara (Pasar Mester) di Jakarta Timur. Setelah itu, pasar yang beroperasi pada Jumat, adalah pasar di Lebak Bulus, Klender, dan Cimanggis.

Suasana Pasar Jatinegara (dulu Pasar Kamis) yang terus menyesuaikan dengan perkembangan zaman

Suasana Pasar Jatinegara (dulu Pasar Kamis) yang terus menyesuaikan dengan perkembangan zaman (via masandiwibowo.com)

Sementara, pasar yang beroperasi pada Sabtu adalah Tenabang atau sekarang dikenal dengan sebutan Tanah Abang. Pasar di Jakarta Pusat itu, sejak dulu sudah dikenal oleh penduduk Jakarta sebagai pusat tekstil murah dan berkualitas.

“Nah, untuk pasar yang beroperasi pada Minggu, adalah Pasar Minggu yang dulunya dikenal dengan nama Tanjung Oost Passer,” jelas Zainudin. Setelah pasar-pasar tersebut berdiri dan menarik banyak orang bertransaksi menggunakan mata uang Hindia Belanda, Zainudin menambahkan, perekonomian di Jakarta dan sekitarnya semakin berkembang dengan pesat. Salah satu bukti pesatnya ekonomi, saat itu dibangun jalan yang menghubungkan Tanah Abang dengan Senen.

“Jalan tersebut sekarang dikenal dengan nama Jalan KH Wahid Hasyim di Jakarta Pusat. Itu adalah bukti perkembangan ekonomi di masa lalu,” jelas Zainudin. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.