Asian Games Jadi Momen Bersejarah bagi Indonesia


Jakarta Siap Menjadi Tuan Rumah untuk Kedua kali!

Halo Jakartans! Tanggal 24 Agustus 1962 adalah hari bersejarah bagi Indonesia. Sebanyak 100 ribu orang berkumpul di Stadion Senayan (kini Stadion Utama Gelora Bung Karno atau GBK) untuk menyaksikan pembukaan Asian Games IV. Inilah kali pertama Indonesia jadi tuan rumah kompetisi olahraga terbesar di Asia itu.

Kala itu, GBK yang berkapasitas total 120 ribu penonton tersebut menjadi salah satu stadion terbesar di dunia. Pembangunannya dimulai pada 8 Februari 1960 dengan bantuan Uni Soviet (kini Rusia). Ada 17 negara dengan 13 cabang olahraga yang dipertandingkan, yakni atletik, akuatik (renang, loncat indah, dan polo air), bola basket, tinju, balap sepeda (jalan raya dan trek), hoki, sepak bola, menembak, tenis meja, tenis, bola voli, dab gulat.

Indonesia terpilih menjadi tuan rumah pada 23 Mei 1958 pada pemungutan suara yang dilaksanakan oleh Dewan Federasi Asian Games di Tokyo, Jepang, sebelum Asian Games 1958. Saat itu, Indonesia bersanding dengan Pakistan. Dari hasil pemungutan suara, 22 suara memilih Jakarta, sedangkan 20 suara lainnya memfavoritkan Ibu Kota Pakistan, Karachi. Sejak saat itu, Pemerintah melakukan pembangunan sarana dan prasarana olahraga.

Asian Games IV di Jakarta berlangsung pada 24 Agustus – 4 September 1962 yang diikuti oleh 1.460 atlet. Upacara pembukaan dibuka oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Saat itu, Efendi Saleh menjadi pembawa obor pertama.

Untuk pertama kalinya, Indonesia menjadi sorotan dunia di bidang olahraga. Pasalnya, Indonesia berhasil menduduki peringkat kedua setelah Jepang dengan total 77 medali yang terdiri dari 21 emas, 26 perak, dan 30 perunggu. Presiden Soekarno lantas membentuk Dewan Asian Games Indonesia (DAGI) melalui Keputusan Presiden RI No.79 tahun 1961. DAGI bertugas menjamin perlombaan Asian Games IV dan membangun tim olahraga Indonesia yang kuat.

Di Gelora Bung Karno, Presiden RI Soekarno membuka Asian Games IV pada 24 Agustus 1962

Di Gelora Bung Karno, Presiden RI Soekarno membuka Asian Games IV pada 24 Agustus 1962 (via terakota.id)

DAGI melibatkan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan sebagai Ketua Umum DAGI, Menteri Penerangan sebagai Sekretaris Umum DAGI, dan Menteri Pertanian selaku Ketua Tim Indonesia yang melaksanakan semua ketentuan yang telah ditetapkan DAGI. Selain membangun sarana olahraga, Pemerintah juga membangun beberapa bangunan seperti Patung Selamat Datang di Bundaran HI, Jembatan Semanggi, Hotel Indonesia, dan bandara internasional Kemayoran.

Patung Selamat Datang dibuat untuk menyambut tamu-tamu Asian Games 1962. Patung sepasang manusia yang sedang menggenggam bunga dan melambaikan tangan itu merupakan hasil sketsa dari pelukis Henk Ngantung. Henk sendiri pernah menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 26 Agustus 1964 – 15 Juli 1965. Pembuatan patung tersebut dilakukan oleh tim pematung Keluarga Arca pimpinan Edhi Sunarso di Karangwuni.

Dari GOR hingga Velodrome

Pembangunan yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk menyambut Asian Games 1962 memang sangat masif. Mulai dari stadion balap sepeda Velodrome, arena pacuan kuda equestrian, serta GOR. Tidak hanya itu, Pemprov DKI Jakarta juga membangun Light Rapid Transit (LRT) untuk menunjang transportasi tersebut.

Venue Istora Senayan setelah direnovasi sebagai ajang pertandingan bulu tangkis

Venue Istora Senayan setelah direnovasi sebagai ajang pertandingan bulu tangkis (via katadata.co.id)

 

Kondisi Gelanggang Renang yang siap menyambut Asian Games 2018

Kondisi Gelanggang Renang yang siap menyambut Asian Games 2018 (via okezone.com)

 

Stadion Gelora Bung Karno yang kini tampak megah dan siap sebagai venue acara pembukaan Asian Games 2018

Stadion Gelora Bung Karno yang kini tampak megah dan siap sebagai venue acara pembukaan Asian Games 2018 (via merdeka.com)

Berdasarkan informasi dari pihak Pemprov, terdapat 10 Gelanggang Olahraga (GOR) yang telah direvitalisasi di seluruh Jakarta. Antara lain, GOR Pulogadung, Cempaka Putih, Sunter, Soemantri Brojonegoro, Bulungan, Ragunan, Senen, GOR Jakarta Barat, GOR Jakarta Timur, dan GOR Jakarta Utara. GOR-GOR tersebut akan menjadi tempat latihan para atlet selama mengikuti Asian Games 2018. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Inilah Sejarah Asian Games di Jakarta

  1. 8 Februari 1960 – Presiden Soekarno menancapkan tiang pancang untuk Stadion Utama Senayan (Gelora Bung Karno) sebagai awal pembangunan kompleks olahraga di Senayan. Kala itu, Wakil Perdana Menteri Uni Soviet, Anastas Mikoyan ikut serta menyaksikan acara tersebut.
  2. Pada Juni 1961 – Stadion renang berkapasitas 8.000 penonton selesai dibangun. Stadion ini terdiri dari kolam tanding 50 meter, kolam loncat indah, kolam pemandian, dan kolam anak.
  3. 25 Desember 1961 – Stadion Tenis berkapasitas 5.200 penonton selesai dibangun.
  4. Pada Desember 1961 – Stadion Madya (lapangan bola) berkapasitas 20.000 penonton selesai dibangun. Berdiri di area seluas 1,75 hektar dengan sumbu panjang 176,1 meter, sumbu pendek 124,2 meter, dan dilengkapi dengan 2 tribun; tribun barat dengan kapasitas 8.000 penonton dan tribun timur dengan kapasitas 12.000 penonton.
  5. 21 Mei 1962 – Istora Olahraga (Istora Senayan) berkapasitas 10.000 penonton selesai dibangun dan untuk pertama kalinya digunakan untuk penyelenggaraan kejuaraan dunia bulu tangkis beregu putra memperebutkan Piala Thomas.
  6. Juni 1962 – Gedung Bola Basket berkapasitas 3.500 penonton selesai dibangun.
Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.