Batavia, Perencanaan Kota Yang Cermat

Sebarkan artikel ini :

Halo Jakartans! Jika kemacetan makin sering terjadi di Jakarta, jawaban yang mudah terlihat adalah karena semakin banyak mobil pribadi yang dioperasikan sebagai sarana transportasi sehari-hari. Sekitar 20 juta pelaku perjalanan di Jakarta, sebagian juga dari wilayah Bodetabek, banyak yang memilih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang angkutan umum.

Selain itu, orang acap menuding bahwa kemacetan di Jakarta tak lepas dari tata ruang Jakarta yang kurang bagus. Padahal Jakarta tempo dulu (baca – Batavia), banyak dipuji ahli perkotaan sebagai kota yang memiliki desain tata kota yang cerdas.

Kota Batavia dibangun Jan Pieterzoon Coen di sebelah selatan Kastil Batavia. Dalam peta kuno kota Batavia tahun 1627. Kota Batavia mula-mula dibangun di sebelah timur Ciliwung (Oostervoorstad). Kemudian pengembangan kota diarahkan ke tepian barat Ciliwung (Westervoorstad). Melihat letaknya yang rendah dan berawa-rawa seperti di negeri asalnya, Nederland, serta lokasi Batavia yang mirip kota Amsterdam yang dialiri sungai Amstel, Coen ingin mendirikan Kota Batavia mirip Amsterdam. Ambisi serta impian Coen ini didukung oleh fanatisme orang Belanda yang ingin “memindahkan” Amsterdam ke negeri timur, yakni Batavia.

Sebagai kota jiplakan Amsterdam, Batavia dibangun berbentuk seperti persegi panjang. Rencana pembangunan kota baru ini, menurut Dr. F. De Haan, mungkin dibuat oleh ahli ukur Florisz van Berckenrode. Pada masa pemerintahan Coen, untuk mengisi sektor ekonomi, orang-orang China diizinkan tinggal di Kota Batavia. Ahli-ahli bangunan serta tukang-tukang China berperan penting terhadap pembangunan Kota Batavia. Mereka memiliki kedudukan penting di bidang perniagaan dan sebagi pemilik perusahaan. Bahkan pada zaman VOC, pemungutan pajak oleh VOC digadaikan kepada warga China.

Gedung sejarah milik Bank Mandiri di ujung jalan Kali Besar

Gedung sejarah milik Bank Mandiri di ujung jalan Kali Besar (via kartika-airlines.com)

Dalam pembangunan kota Batavia, aliran sungai Ciliwung yang di bagian muaranya semula berkelok-kelok, diluruskan sejajar dengan jalan-jalan dalam kota yang dibangun dari utara ke selatan dan berpola papan catur. Terusan lurus Ciliwung ini dulu disebut de Groote Rivier yang kini dikenal dengan Kali Besar. Ia membelah kota Batavia menjadi dua bagian yang hampir sama besarnya. Kota sebelah timur tempat berdirinya Stadhuis atau Balai Kota, merupakan pusat pemerintahan Batavia. Kota Batavia bagian barat adalah lokasi bekas reruntuhan Kraton Jayakarta.

Dalam catatan sejarah, Sultan Agung dari Mataram (1613-1645) dua kali menyerang VOC di Batavia. Pertama pada 1628 di bawah pimpinan Baurekso, Bupati Kendal. Kedua pada 1629 di bawah pimpinan Dipati Ukur, Bupati Dayeuh Kolot, Priangan. Pada saat terjadi penyerangan kedua, Jan Pieterzoon Coen mendadak meninggal dunia pada 20 September 1629. Konon karena terserang kolera.

Model Romawi

Guna lebih mengenal kota asli Batavia yang dikitari tembok dan parit pertahanan, mungkin perlu dilakukan pelacakan secara intensif dan serius. Namun jika hanya sekadar mengikuti sebuah Old Batavia Tour, seorang pemandu wisata biasanya cukup mengantar kita ke sejumlah obyek wisata sejarah yang masih tersisa di dalam bekas kota asli Batavia Lama (Kota Tua). Kawasan Jakarta Kota saat ini, dulu merupakan kota Batavia dalam lingkaran tembok kota. Peta Batavia dari Van der Parra tahun 1770 atas perintah Gubernur Jendral VOC Petrus Albertus Van der Parra (1761-1775) itu pasti sangat bermanfaat.

Peta tersebut akan membantu pelacakan jejak-jejak kota asli Batavia. Kota Batavia dibangun dengan rumusan segi empat lurus, sesuai model Romawi. Dalam kurun waktu antara 1630-1650, pembangunan kota ini dilanjutkan, Dengan demikian, bentuk kota Batavia pada 1650 telah mencakup seluruh wilayah kota, baik bagian timur maupun barat Ciliwung. Bentuknya, mengambil contoh dari sebuah rancangan ilmuwan Belanda, Simon Stevin, yang menghasilkan sebuah kota berbentuk bujur sangkar pada setiap sisi Sungai Ciliwung. Seluruh kota dikelilingi tembok pertahanan. Tembok ini diapit pertahanan luar kota (Stads Buiten Gragt) dan parit pertahanan dalam kota (Stad Binnen Gragt).

Museum Wayang dengan arsitektur Belanda di kawasan Kota Tua

Museum Wayang dengan arsitektur Belanda di kawasan Kota Tua (via thecrazymuseum.wordpress.com)

Untuk keamanan dan pertahanan kota, pada 1634 seluruh kota dilengkapi bastion atau benteng-benteng. Di dalam bastion, ditempatkan pasukan penjaga dilengkapi meriam. Jarak antara bastion hampir sama. Nama-nama bastion atau kubu pertahanan kota, meniru nama-nama kota provinsi di Nederland, tempat kantor-kantor dagang VOC berada.

Pada tembok luar sebelah timur, dari utara ke selatan tegak berdiri Bastion Amsterdam, Middleburgh, Rotterdam, Delft, dan paling selatan Bastion Gelderlandt. Pada tembok pertahanan luar kota sebelah selatan dari timur ke barat (kini Jl. Jembatan Batu dan Jl. Asemka) terdapat Bastion Gelderlandt, Orengien, Nieuw Poortr atau Gerbang Baru menuju selatan ke luar kota Batavia. Pada pojok paling barat, tembok sebelah selatan hingga ujung jalan Hospitaalstraat (Sekarang Jl. Bank). Di lokasi ini ada jembatan paling selatan yang menghubungkan kota Batavia sebelah timur dan sebelah barat yang dipisahkan oleh de Groote Rivier atau Kali Besar. Jembatan ini bernama Hospitaslsburg. Pada ujung sebelah timur jembatan terdapat Bastion Grimbergen. Deretan bastion ini terdapat pada tembok pertahanan kota Batavia sebelah timur.

Pada kota Batavia sebelah barat, tembok luar kota pun dilengkapi sejumlah Bastion. Tembok sebelah selatan, di tepi barat Hospitaalsburg, tegak berdiri Pintu Gerbang Diest atau Diestspoort, berhadapan dengan bastion Grimbergen di sebelah timur jembatan. Dari sini tembok pertahanan luar kota kembali berbelok tajam ke arah barat (sekarang sekitar Jl. Telepon Kota dan Jl. Roa Malaka). Di sini terdapat bastion Nassaouw dan bastion Zeelandia terletak ujung paling barat dari tembok kota Batavia sebelah barat.

Tembok pertahanan benteng kota yang tersisa di Museum Bahari

Tembok pertahanan benteng kota yang tersisa di Museum Bahari (via thebattleofthejavasea.net)

Dari sini, tembok kota kembali berbelok tajam lurus ke arah utara atau menuju Laut Jawa. Pada tembok barat kota Batavia, terdapat sejumlah bastion sebagai pengaman kota. Pada tembok luar kota sebelah barat ini (sekitar Jl. Pejagalan sekarang), dari selatan ke utara tegak berdiri bastion Zeelandia, Pintu Gerbang Uytrecht, Bastion Westvriestladt, Bastion Overrysel dan Bastion Groeningen pada tembok kota paling utara. Dari sini tembok pertahanan luar kota kembali berbelok ke arah timur. Di sini terdapat bastion Zeeburch dan Cuylenburch yang berada di tepian muara Ciliwung, di depan Museum Bahari sekarang. Tetapi, seluruh tembok yang merupakan pertahanan kota itu, kini hampir tak kelihatan. Hanya sedikit yang masih tersisa, dan kini dapat dilihat di depan Komplek Museum Bahari. Di atas tembok itu ada jalan sempit yang dahulunya digunakan oleh para serdadu saat mengawasi kota.

Jalan dan Kanal

Dalam peta kota Batavia lama, tampak jelas bahwa jalan-jalan di dalam kota tertutup ini dibangun lebar dan lurus, saling menyilang dengan siku-siku yang tajam. Seperti halnya dengan nama benteng kota, penggunaan nama jalan di dalam kota Batavia pun semuanya berbau kolonial. Jalan utama Batavia dulu namanya Prinsenstraat (kini Jl. Cengkeh). Jalan utama ini menghubungkan Kastil Batavia di sekitar Jl. Tongkol sekarang, di pesisir laut Jawa dengan Stadhuis atau Balai Kota, yang kini menjadi Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta.

Peta kuno Batavia lama

Peta kuno Batavia lama (via wikimedia.org)

Di depan Nieuw Poort atau Pintu Gerbang Baru yang berada di tembok kota sebelah selatan, terbentang lurus ke utara Nieuwpoortstraat (Jl. Pintu Besar Utara sekarang). Jalan ini kemudian bersambung ke utara dengan Heerenstraat (sekarang Jl. Teh). Pada ujung paling selatan Jl. Kali Besar Timur, dulu terdapat Hospitalstraat, kemudian berubah menjadi Bank Straat, yang kini menjadi Jl. Bank. Letaknya antara eks Bank Exim dan gedung eks Bank Dagang Negara.

Disebut Hospitalstraat, karena di lokasi yang kini berdiri gedung Bank Indonesia ini dulu pernah berdiri Rumah Sakit dalam kota (Binnen Hospitals). Di sebelah barat Kali Besar Barat yang merupakan kota Batavia sebelah barat terbentang de West atau Kali Besar. Letaknya di tepi barat Kali Besar. Beberapa jalan jalan utama lainnya antara lain de Jonker’s straat (kini Jl. Roa Malaka Utara), dan de Uytrechtstraat, sekitar Jl. Kopi sekarang

Jalan-jalan di dalam kota, dibangun pula di pinggir-pinggir kanal atau terusan yang cukup banyak mengalir di dalam kota Batavia yang dibangun lurus dan saling berpotongan tegak lurus lengkap dengan jembatan-jembatan di setiap perempatannya.

Banyak bangunan peninggalan kolonial Belanda di sepanjang tepian jalan Kali Besar

Banyak bangunan peninggalan kolonial Belanda di sepanjang tepian jalan Kali Besar (via okezone.com)

Terusan-terusan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana lalu lintas air dalam kota, tetapi juga sebagai pengendali banjir saat sungai Ciliwung meluap. Namun saat ini hampir semua kanal atau terusan itu telah lama ditimbun tanah dan sebagian sudah berubah menjadi jalan. Di kota Batavia sebelah timur misalnya, Jl. Lada yang kita kenal sekarang, dulu merupakan sebuah terusan dengan nama Tijgersgracht atau Terusan Macan. Di depan Kastil Batavia, mengalir sebuah kanal bernama Amsterdamschegracht (kini Jl. Nelayan Timur). Di sebelah selatan Groenegracht, mengalir de Leeuwinnengracht, sekitar Jl. Kunir dan Jl. Kali Besar Timur III sekarang.

Jl. Roa Malaka sekarang, dulu terdapat terusan bernama Roea Malacca dan de Jonker’sgracht, kini menjadi Jl. Roa Malaka Utara dan Jl. Roa Malak Selatan. Di sebelah barat, dari selatan ke utara ada terusan Rincamagracht atau sekitar Jl. Tiang Bendera saat ini. Di sebelah utara mengalir, Moorschegracht atau sekitar Jl. Sumut sekarang.

Pembangunan kota Batavia secara cermat, teratur, bermotifkan penghematan, memudahkan arus lalu lintas secara mudah dan baik. Di samping itu, dari segi keamanan, mudah diawasi dan dibersihkan dari unsur-unsur yang mengganggu keamanan dan ketertiban kota.

Menara Syahbandar di komplek Museum Bahari

Menara Syahbandar di komplek Museum Bahari (via flickr.com)

Perencanaan tata kota Batavia, yang khas Belanda ini didukung pula oleh penempatan ruang kota sesuai tujuan dan fungsinya. Balai Kota (Stadhuis) berada pada sebuah poros menuju Kastil Batavia di pesisir Laut Jawa. Jalan utama dalam kota Batavia yang menghubungkan Stadhuis dengan Kastil Batavia dulu bernama Prinsenstraat, kini Jl. Cengkeh dan Jl. Tongkol. Sebelah barat Kastil Batavia merupakan areal pergudangan dan perbengkelan. Lokasi sepanjang Kali Besar merupakan Central Business District atau Pusat Perdagangan Besar dan Industri Batavia De Utrechtsestraat, kini Jl. Kopi dan Niewpoorstraat, kini Pintu Besar Utara adalah daerah pusat pertokoan.

Di tepian kanal-kanal atau terusan, dibangun gedung-gedung ala Belanda yang terbuat dari susunan batu bata yang dibawa oleh armada VOC (Kompeni) dari negerinya, sebagai alat penyeimbang dan pemberat kapal-kapal layar VOC. Rumah-rumah tempat tinggal dibangun bertingkat dua atau tiga, dan saling berhimpitan. Kawasan sepanjang Tijgersgracht (sekitar Jl. Lada dan Jl. Pos Kota sekarang) merupakan daerah permukiman elit Belanda. Di usia ke-491 Kota Jakarta saat ini, situasi di daerah ini sudah berubah 360 derajat, menjadi pusat kemacetan lalu lintas. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.