Bebek Goreng H Yogi, Berawal Dari Serba Gratis


Halo Jakartans! Strategi promosi yang cerdas menjadi pilihan pasangan suami-istri ini membuka warung nasi bebek. Setelah menjamu makan gratis, pelanggan datang dan datang lagi. Apa lagi rahasia suksesnya?

Rasa gurih, manis, dan pedasnya pas di lidah. Rasa areh (buih) santan kelapa kental yang melumuri tiap potongan daging bebek bakar, menyentuh hingga tulang-tulangnya.

Bila daging bebek bakar atau goreng itu disantap dengan nasi uduk hangat plus sambal mangga yang asem pedas, hmm nikmatnya terasa hingga suapan terakhir.

Daging bebek yang terkenal alot dan amis, rupanya telah dikikis oleh si peramu bumbu sekaligus pemilik warung Bebek Goreng, Ati dan  H. Yogi. Berkat ramuannya, warung yang dikelola di Jalan Raya Kelapa Dua, Jakarta Barat ini tak pernah sepi pembeli.

Biasanya, daging bebek, baik bakar maupun goreng atau diolah apa pun, lebih nikmat disantap saat panas. Daging bebek pun tidak akan liat dan keras saat dikunyah. Namun, di Warung H. Yogi, meski daging bebek sudah dingin, dagingnya tetap empuk.

Warung Bebek Goreng H. Yogi di Jakarta Barat

Warung Bebek Goreng H. Yogi di Jakarta Barat (via tribunnews.com)

Menemukan Warung Bebek Goreng H. Yogi tidaklah sulit. Bila Anda dari arah Jalan Daan Mogot, posisinya ada di sebelah kiri jalan setelah perempatan Kebon Jeruk. Namun, bila Anda dari arah Permata Hijau, letaknya di sisi kanan kurang, lebih 50 meter sebelum perempatan Kebon Jeruk.

Yogi membuka warung di sana, mulai pertengahan Januari 2006. Dengan cepat warungnya dibanjiri pencinta makanan.

“Awalnya, saya hanya menempati emperan show room motor di sebelah warung yang sekarang ditempati. Dulu cuma pakai mobil pick up. Habis enggak punya warung.

Cara Promosi

Hanya dua minggu pertama sejak dibuka, “warung mobilnya” dipenuhi mobil berderet-deret. Wah, kok cepat sekali laris? Jangan salah. Itu bukan pembeli sebenarnya, namun bagian dari cara berpromosi H. Yogi.

“Mereka teman-teman kantor suami saya. Mereka kami undang makan gratis. Syaratnya, harus bawa mobil dan memarkirnya dekat warung,” ungkap Ati tergelak.

Kenapa harus bawa mobil? “Itu strategi dagang suami saya. Maksudnya agar orang-orang yang lewat mengira, pembeli kami langsung banyak. Kalau pembeli banyak, pasti mengundang penasaran calon pembeli lainnya. Orang, kan, selalu beranggapan, bila ada warung dikerubuti pembeli, artinya makanan yang dijajakan pasti enak.”

Tentu saja bukan hanya itu cara menarik pembeli. Syarat utama pastilah rasa yang enak di lidah pembeli. Mereka berusaha mengolah daging bebek agar tak alot.

“Orang selalu beranggapan, daging bebek alot dan amis. Itu yang jadi target kami. Selain olahan enak, bebek kami benar-benar tidak amis. Dagingnya empuk. Biasanya kami merebus dulu daging bebek selama tiga jam. Untuk bumbu, rempah-rempah dan santan kami ramu dengan takaran yang pas,” jelas Ati.

Sajian Bebek Goreng H Yogi

Sajian Bebek Goreng H Yogi (via foursquare.com/h42ch)

Strategi dagang mereka terbukti jitu. Pembeli datang satu per satu. “Setiap ada pembeli, teman-teman suami saya menggeser duduknya. Biar pembeli kebagian tempat,” tutur perempuan asal Surabaya yang ingat wajah pelanggan pertamanya.

Pelanggan ini ikut berjasa demi kemajuan usahanya “Soalnya dia datang lagi membawa teman. Lalu, temannya datang lagi mengajak teman lain. Begitu seterusnya.”

Sekarang, pelanggan pertamanya ini sudah pindah kantor di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang jaraknya lumayan jauh dari tempatnya berjualan. “Tapi, dia masih suka pesan lewat telepon. Untuk pelanggan pertama ini, saya kadang memberinya gratis,” ujar Ati.

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.