Berwisata Sambil Simak Sejarah


Halo Jakartans! Rute bis wisata Jakarta barangkali bagi sebagian warga ibu kota sudah tak asing. Namun mungkin saja, kendati acap dilalui tetapi tidak menyadari bahwa gedung atau patung yang sering kita lewati tersebut memiliki kisah tersendiri.

Bus Wisata Jakarta persembahan dari TransJakarta

Bus Wisata Jakarta persembahan dari TransJakarta (via transjakarta.co.id)

Saat ini, PT Transjakarta telah mengoperasikan 18 buah bus tingkat wisata yang mengelilingi kota Jakarta secara gratis. Layanan ini disebut juga dengan istilah Jakarta Explorer. Kini TranJakarta melayani 4 rute wisata yang berbeda.

Bus Wisata ini melewati beberapa bangunan bersejarah, di antaranya :

Gedung Sarinah

Gedung Sarinah Plasa di Jalan MH Thamrin

Gedung Sarinah Plasa di Jalan MH Thamrin (via jakartabytrain.com)

Sarinah adalah nama pengasuh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Wanita tersebut bekerja sebagai pelayan keluarga Soekarno. Presiden Soekarno sangat menghormati wanita desa itu dan menyebutnya sebagai salah satu orang yang sangat memengaruhi perjalanan hidupnya.

“Dialah yang mengajarku untuk mengenal cinta-kasih, Aku tidak menyinggung pengertian jasmaniahnya bila aku menyebut itu. Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Massa rakyat, rakyat jelata,” ujar Bung Karno dalam biografinya yang ditulis oleh Cindy Adams, “Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat”.

Ajaran cinta kasih yang diterima Soekarno dari Sarinah sangat melekat hingga Soekarno dewasa dan menjabat Presiden RI. Hal itu membawanya pada pemahaman soal kemanusiaan yang saat itu masih dianggap tabu, yakni kesetaraan gender. Pada tahun 1947, gagasan kesetaraan gender dituangkan dalam buku yang banyak membahas tentang pentingnya perempuan dalam membangun negara-bangsa, yakni buku yang berjudul Sarinah.

Hal itu kemudian menginspirasi Soekarno untuk membangun sebuah pusat perbelanjaan di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat dan diberi nama “Sarinah”. Sarinah berbentuk sebuah gedung setinggi 74 meter terdiri 15 lantai. Pembangunannya dimulai pada 23 April 1963 dan diresmikan tanggal 15 Agustus 1966. Saat itu Sarinah merupakan pusat perbelanjaan pertama di Indonesia dan juga pencakar langit pertama di Jakarta.

Gedung Wisma Nusantara

Gedung Wisma Nusantara di Bundaran HI

Gedung Wisma Nusantara di Bundaran HI (via wikipedia.org)

Wisma Nusantara adalah gedung perkantoran setinggi 117 meter terdiri 30 lantai yang terletak di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Gedung ini mulai dibangun pada tahun 1964 dan selesai dibangun pada tahun 1967 dan merupakan gedung pencakar langit pertama di Indonesia. Gedung ini berada di dekat Hotel Nikko, berseberangan dengan Hotel Indonesia.

Pembangunan Gedung Wisma Nusantara dimulai pada tahun 1961 dan terhenti pada tahun 1963 karena dananya yang berasal dari pampasan perang habis. Proyek yang dirancang Kjima Design Department Jepang ini dilanjutkan kembali pada tahun 1970 sebagai proyek investasi PT Wisma Nusantara International -perusahaan patungan antara Bank Indonesia (mewakili Pemerintah Indonesia) dan perusahaan Jepang, Mitsui & Company Ltd.

Hotel Indonesia

Gedung Hotel Indonesia Kempinski yang merupakan simbol kebanggaan Indonesia

Gedung Hotel Indonesia Kempinski yang merupakan simbol kebanggaan Indonesia (via destinasian.com)

Hotel Indonesia adalah hotel berbintang pertama yang dibangun di Jakarta. Hotel ini diresmikan pada tanggal 5 Agustus 1962 oleh Presiden RI pertama, Soekarno, untuk menyambut Asian Games IV tahun 1962. Bangunan Hotel Indonesia dirancang oleh arsitek Abel Sorensen dan istrinya, Wendy, asal Amerika Serikat. Menempati lahan seluas 25.082 meter persegi, hotel ini mempunyai slogan A Dramatic Symbol of Free Nations Working Together.

Hotel ini ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemda DKI dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No.475 tanggal 29 Maret 1993.

Patung Selamat Datang

Patung Selamat Datang di tengah Bundaran Hotel Indonesia

Patung Selamat Datang di tengah Bundaran Hotel Indonesia (via tabloidbintang.com)

Patung yang terletak di tengah bundaran air mancur ini dikenal dengan nama lain Patung Jali-Jali atau Patung Hotel Indonesia. Belakangan di kitaran patung ini sering dijadikan pusat kegiatan unjuk rasa dan dikenal dengan Bundaran HI. Saat malam hari di sekitar patung ini banyak anak muda menghabiskan malam sambil menikmati gemericik air mancur dan permainan indah tata cahaya lampunya.

Patung Selamat Datang dibangun untuk menyambut atlet peserta Asian Games IV tahun 1962. Patung ini ada di depan gedung Hotel Indonesia, berdiri persis di atas air mancur Bunderan HI. Patung perunggu ini dibuat oleh Edhi Sunarso, dan perancang Henk Ngantung, Gubernur DKI Jakarta kedua.

Sesuai namanya, patung ini berdiri untuk memberi salam selamat datang bagi para pendatang. Patung ini menghadap ke arah Kota (utara) sebagai pusat bisnis, perdagangan dan arah pendatang dari pelabuhan waktu itu. Di sekitar patung ini ada lima formasi Air Mancur yang dijadikan simbol dari tanda memberi salam kepada kota Jakarta sebagai Ibu Kota Negara dan Kota Metropolitan yang tak pernah tidur.

Patung Arjuna Wijaya

Patung Arjuna Wijaya di kawasan Medan Merdeka, Jakarta Pusat

Patung Arjuna Wijaya di kawasan Medan Merdeka, Jakarta Pusat (via wikipedia.org)

Dikenal dengan nama lain Patung Asta Brata atau Patung Kuda. Patung Arjuna Wijaya yang dibangun Agustus 1987 ini menggambarkan Arjuna dalam perang Baratayudha yang kereta perangnya dikemudikan oleh Batara Kresna. Adegan patung karya pematung Nyoman Nuarta itu diambil dari fragmen sewaktu melawan Adipati Karna. Kereta itu ditarik 8 kereta, yang melambangkan delapan ajaran kehidupan yang diidolai oleh Presiden Soekarno.

Asta Brata itu meliputi falsafah bahwa hidup harus mencontoh bumi, matahari, api, angin, bintang, samudra, hujan, dan bulan. Di bagian patung menempel prasasti yang bertuliskan ‘Kuhantarkan kau melanjutkan perjuangan dengan pembangunan yang tidak mengenal akhir’.

Pada waktu pembuatannya, karena keterbatasan dana, akhirnya patung ini dibuat dari bahan poliester resin yang punya kelemahan mudah rapuh jika terkena sinar ultraviolet. Akhirnya terbukti patung ini mulai keropos dan di tahun 2003 direnovasi dengan menelan biaya Rp 4 miliar dan material patungnya diganti dengan bahan tembaga.

Gedung Gajah

Patung Gajah menjadi simbol ikonik dari Museum Gajah

Patung Gajah menjadi simbol ikonik dari Museum Gajah (via pegipegi.com)

Museum ini sangat dikenal di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya penduduk Jakarta. Mereka menyebutnya “Gedung Gajah” atau “Museum Gajah” karena di halaman depan museum terdapat sebuah patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand yang pernah berkunjung ke museum pda tahun 1871. Kadang disebut juga “Gedung Arca” karena di dalam gedung memang banyak tersimpan berbagai jenis dan bentuk arca yang berasal dari berbagai periode.

Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal sebagai masjid ikonik milik Indonesia

Masjid Istiqlal sebagai masjid ikonik milik Indonesia (via merdeka.com)

Masjid Istiqlal adalah masjid yang terletak di pusat Ibu Kota Negara Republik Indonesia, Jakarta. Masjid ini adalah masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid ini diprakarsa oleh Ir. Soekarno. Pemancangan batu pertama, sebagai tanda dimulainya pembangunan masjid Istiqlal dilakukan oleh Bung Karno pada tanggal 24 Agustus 1951. Arsitek Masjid Istiqlal adalah Frederich Silaban yang beragama Kristen Protestan.

Lokasi Masjid ini berada di timur laut lapangan Monumen Nasional (Monas). Bangunan utama masjid ini terdiri dari lima lantai. Masjid ini mempunyai kubah yang diameternya 45 meter. Masjid ini mampu menampung orang hingga lebih dari dua ratus ribu jamaah. Selain digunakan sebagai aktivitas ibadah umat Islam, masjid ini juga digunakan sebagai kantor Majelis Ulama Indonesia, aktivitas sosial, dan kegiatan umum.

Masjid ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata yang terkenal di Jakarta. Kebanyakan wisatawan yang berkunjung umumnya wisatawan domestik, dan sebagian wisatawan asing yang beragama Islam.

Monumen Nasional

Monumen Nasional atau Monas dengan tata cahaya lampu yang sangat menarik

Monumen Nasional atau Monas dengan tata cahaya lampu yang sangat menarik (via panduanwisata.id)

Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia-Belanda.

Pembangunan ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah Presiden Soekarno, dan dibuka untuk umum pda tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala.

Monumen Nasional terletak di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00-15.00 WIB. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulan ditutup untuk umum. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Rute Wisata 1 Bus Jakarta Explorer – Sejarah Jakarta (History of Jakarta)

Rute 1 Bus Wisata Jakarta

Rute 1 Bus Wisata Jakarta (via transjakarta.co.id)

 

Rute Wisata 2 Bus Jakarta Explorer – Jakarta Baru (Jakarta Modern)

Rute 2 Bus Wisata Jakarta

Rute 2 Bus Wisata Jakarta (via transjakarta.co.id)

 

Rute Wisata 3 Bus Jakarta Explorer – Kesenian dan Kuliner (Art and Culinary)

Rute 3 Bus Wisata Jakarta

Rute 3 Bus Wisata Jakarta (via transjakarta.co.id)

 

Rute Wisata 4 Bus Jakarta Explorer – Pencakar Langit (Jakarta Skyscrapers)

Rute 4 Bus Wisata Jakarta

Rute 4 Bus Wisata Jakarta (via transjakarta.co.id)

Sebarkan artikel :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.