Cikal Bakal Orkestra di Jakarta



Jakarta Philharmonic Orchestra

Halo Jakartans! Setiap kota besar di dunia mempunyai orkestra. Bahkan, orkestra sudah menjadi kebanggaan di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Inggris, Austria, dan Australia.

Beberapa negara memiliki orkestra terkenal seperti New York Philharmonic Orchestra (Amerika Serikat), Tokyo Philharmonic Orchestra (Jepang), Vienna Philharmonic Orchestra (Austria), Moscow Philharmonic Orchestra (Rusia), dan Seoul Philharmonic Orchestra (Korea Selatan).

Lalu, bagaimana dengan orkestra di Jakarta? Orkestra sudah ada di Jakarta sejak zaman penjajahan Belanda. Kala itu, salah satu orkestra yang populer bernama Orkes Nederlandse Indie Radio Omroep Maatscaapij (NIROM) dengan 63 pemain musik. Orkestra itu bermarkas di Radio Republik Indonesia (RRI), Jakarta. Wakil Presiden Republik Indonesia, Mohammad Hatta menjadi pelindung orkestra tersebut. Pada 1949, digelar konser di Garden Hall (sekarang Taman Ismail Marzuki) yang ditonton lebih dari 1000 penonton. Konser itu sukses dengan karcis habis terjual.

Beberapa kali orkestra ini berganti nama dari Orkes Radio Djakarta, Orkes Studio Djakarta dan Orkes Simphony Jakarta (OSJ). Semasa pemerintahan daerah Jakarta yang dipimpin oleh Ali Sadikin. OSJ secara rutin menggelar konser setiap bulan di TIM. Ini karena Sadikin menyadari pentingnya orkestra di kota metropolitan seperti Jakarta.

Namun, setelah ia tidak menjabat kembali sebagai Gubernur. OSJ sempat surut ditinggal zaman. Hal ini membuat Soerjadi Soedirdja yang kala itu menjadi Gubernur DKI Jakarta dan Mendikbud Fuad Hassan menghidupkan kembali OSJ.

Sayangnya, OSJ kembali terhenti setelah masa kepemimpinan Soerjadi berakhir. Sebab itu, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo bersama Neneng Rahardja kembali menghidupkan OSJ dengan nama Jakarta Philharmonic Orchestra. Ada beberapa orkestra terkenal di Jakarta yang dipimpin oleh Avip Priatna Jakarta Concert Orchestra dan Twilite Orchestra milik Addie MS. Kedua orchestra ini telah menggelar konser sejak tahun 1990-an.

Avip Priatna mengatakan negara-negara di Asia seperti di Jepang dan Korea Selatan sudah menjadikan musik klasik sebagai mata pelajaran. “Pemerintah sana tahu bahwa musik klasik itu diketahui dapat mencerdaskan anak. Karena itu mereka mendukung musik klasik,” ungkap Avip.

Padahal, di belahan dunia musik klasik menjadi mata pelajaran yang dapat disamakan dengan mata pelajaran lain seperti Biologi dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Dunia pun mengakui musik klasik sebagai musik dunia. “Di dunia musik klasik itu itu sudah menjadi seperti mata pelajaran. Sudah menjadi musik dunia. Bukan musik barat,” tambah Avip.

Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta Aksan Sjuman mengatakan perkembangan musik klasik di Indonesia tak terlepas dengan kota Jakarta. Sejarah menunjukkan bahwa Jakarta merupakan salah satu kota di Indonesia yang turut mengembangkan musik klasik sejak zaman penjajahan Belanda. “Jakarta sebagai kota urban sudah semestinya menjadikan musik klasik sebagai satu budaya yang perlu dipelihara dan diapresiasi. Jakarta dapat dicontoh kota lain dalam hal perkembangan musik klasiknya. Menghidupkan kembali sekolah musik klasik, orkestra atau kota-kota lain juga. Ini sebenarnya keterkaitannya besar sekali, dan orang Indonesia pada dasarnya sangat bakat di musik,” kata mantan drummer Dewa 19 ini.

Jakarta Philharmonic Orchestra

Baru-baru ini, Jakarta mempunyai orkestra yang didukung oleh Pemerintah Pusat yakni Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Orkestra ini untuk pertama kalinya menggelar konser perdana pada April 2018 lalu di Gedung Kesenian Jakarta.

Jakarta City Philharmonic menggelar konser perdana di Taman Ismail Marzuki pada April 2018

Jakarta City Philharmonic menggelar konser perdana di Taman Ismail Marzuki pada April 2018 (via bekraf.go.id)

“Jakarta City Philharmonic (JCP) adalah proyek bersama Bekraf dengan DKJ. Jakarta City Philharmonic dibentuk untuk melengkapi Jakarta sebagai kota metropolitan. Seperti layaknya kota-kota besar di dunia, kehadiran sebuah orkestra profesional, dengan jadwal padat sepanjang tahun, merupakan kebutuhan kultural sebuah metropolitan modern,” kata Aksan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta kala itu Sandiaga Uno, mendukung JCP dalam melakukan kegiatan positif untuk masyarakat. Dia berharap JCP dapat memberikan sumbangsih bagi orkestra di Indonesia. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Rekam Jejak Orkestra di Jakarta

  • Pada 1912, Jakarta Philharmonic Orchestra didirikan. Kala itu, Netherland Indische Radio Omroep Maatschaapij.
  • Pada 1988 berdiri Nusantara Symphony Orchestra yang didirikan oleh Prof. Mochtar Kusumaatmadja.
  • Pada 1990-an Erwin Gutawa dan Twilite Orchestra milik Addie MS eksis di dunia musik Tanah Air.
  • Pada 2000-an, muncul beberapa orkestra baru yakni Magenta Orchestra, Jakarta Concert Orchestra, dan Indonesian Youth Symphony Orchestra.
  • Twilite Orchestra tak hanya menggelar orkestra di Jakarta tetapi juga di Australia dan Amerika Serikat.
Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.