Condet, Kampung Betawi Bersanding Arabtown


Halo Jakartans! Bila kawasan Glodok di Kota Tua kental dengan nuansa Chinatown, maka tak berlebihan bila menyebut Condet sebagai Arabtown-nya Jakarta.

Menuju Condet akan terasa nuansa Arab Betawi. Saat naik Bus Kopaja T-57 dari Kampung Rambutan atau Blok M, lalu turun tepat di pertigaan Condet dari arah Cililitan, akan mulai tercium semerbak aroma wangi “surga”. Tepat dari mulut Jalan Condet Raya di dekat Pusat Grosir Cililitan, mulai banyak dijumpai deretan toko minyak wangi milik pedagang keturunan Arab.

Di depan toko memang tertulis “toko minyak wangi”. Namun beragam kebutuhan untuk peribadatan kaum muslim tersaji lengkap disana. Mulai dari perlengkapan ibadah, seperti tasbih, sajadah, dan kopiah. Ada pula beragam makanan, seperti korma, madu Arab, dan minyak zaitun. Bahkan air zamzam dan susu unta pun tersedia. Boleh dikatakan, barang-barang kebutuhan yang ada di Jazirah Arab, semuanya diboyong ke Condet.

Jejeran toko parfum Arab di Condet

Jejeran toko parfum Arab di Condet (via tribunnews.com)

Condet memang tak asing bagi masyarakat asli Jakarta lainnya di luar Condet, misalnya, Rawabelong, Kebayoran, Tanah Abang, Mampang hingga Kemayoran. Masyarakat asli Jakarta yang agamis sangat dekat dengan para habib. Di kalangan Arab Indonesia, habib adalah gelar bangsawan Timur Tengah yang merupakan kerabat Nabi Muhammad (Bani Hasyim) dan secara khusus dinisbatkan terhadap keturunan Nabi Muhammad melalui Fatimah az-Zahra (yang berputera Husain dan Hasan) dan Ali bin Abi Thalib.

Namun, tampaknya di Jakarta, panggilan habib juga ditujukan kepada seorang guru keturunan Arab. Banyak dari mereka yang belajar mengaji dan bersilahturahmi ke kediaman para habib yang banyak dijumpai di Kampung Condet. Sepulang silahturahmi, sebagai oleh-oleh, biasanya mereka membeli minyak wangi dan perlengkapan ibadah lainnya.

Selain Pekojan, Jakarta Pusat, dulu juga banyak warga keturunan Arab bermukim di Condet. Tak heran, Condet dikenal mempunyai reputasi sebagai kampung agamis. Secara geografis, Condet terletak sekitar 25 kilometer dari pusat kota. Terbentang dari pertigaan Dewi Sartika terus membujur ke Selatan sampai di Tanjung Timur (Rindam). Sebelah timur berbatasan dengan Jalan Raya Bogor (dulunya Jalan Raya Pos Deandels), dan sebelah barat bersinggungan dengan Kali Ciliwung. Condet, secara administratif terbagi dalam 5 kelurahan, yakni Batuampar, Balekambang, Cililitan, dan Kampung Gedong, seta Kampung Tengah.

Saat ini, rutin diadakan event tahunan Festival Condet oleh Pemprov DKI Jakarta di Jalan Condet Raya

Saat ini, rutin diadakan event tahunan Festival Condet oleh Pemprov DKI Jakarta di Jalan Condet Raya (via sportourism.id)

Condet mulai dikenal luas di era Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Waktu itu, tahun 1974, Condet secara resmi ditetapkan sebagai kawasan khusus berdasarkan Surat Keputusan nomor D.IV-115/e/3/1974 tentang penetapan kawasan seluas 18.228 hektar sebagai Cagar Budaya Betawi. Penetapan itu didasari oleh pertimbangan Pemerintah Daerah yang memandang sudah selayaknya Jakarta mempunyai suatu kawasan yang masih orisinal, yang mampu merefleksikan apa dan bagaimana budaya Betawi. Lantas, dipilihlah Condet.

Pilihan ini cukup beralasan. Dulunya Condet dikenal sebagai kawasan atau kampung Betawi yang agraris dengan pohon buah duku dan salak yang mudah dijumpai di setiap perkarangan rumah. Bahkan, pepohonan lebat dan rimbun dengan cakupan yang sangat luas masih banyak ditemukan.

Vila Nova

Berbicara sejarah yang ada di kampung Condet tak luput dari keberadaan sebuah gedung yang cukup megah untuk ukuran abad ke-18. Di sekitar Condet, tepatnya di Tanjung Timur (Tanjung Oost), di ujung Jalan Condet Raya arah Rindam, terdapat sebuah gedung tua yang kini tinggal kerangka di bagian depannya akibat terbakar di tahun 1985. Gedung ini dibangun tahun 1740 oleh Vincent Riemsdijk, anggota Dewan Hindia, sebagai tempat istirahatnya dikala menginspeksi perkebunannya yang luas di sekitar kawasan itu. Waktu itu, untuk mencapai gedung dengan nama Grooveld ini diperlukan waktu lima jam dari pusat kota (Pasar Ikan) dengan kereta kuda. Adanya gedung ini menjadikan kawasan terkenal hingga sekarang sebagai Kampung Gedong. Maklum saja, saat itu hanya Grooveld sebagai satu-satunya rumah bagus nan besar di kawasan itu.

Vila Nova zaman dulu yang menjadi rumah peristirahatan tuan tanah Belanda

Vila Nova zaman dulu yang menjadi rumah peristirahatan tuan tanah Belanda (via adindut.com)

Gedung yang juga dikenal dengan nama Vila Nova itu telah beberapa kali berganti pemilik. Setiap pergantian pemilik selalu diadakan peraturan baru yang memberatkan rakyat Condet. Terhadap pemuda Condet yang telah menginjak dewasa dikeluarkan kompenian atau pajak kepala sebesar 25 sen (nilainya kira-kira 10 liter beras). Karena banyak petani yang tidak sanggup membayar blasting (pajak) yang sangat memberatkan itu, tuan tanah sering membawa petani yang tak sanggup membayar ke landraad (pengadilan). Akibatnya banyak petani yang bangkrut. Penduduk yang belum membayar blasting hasil sawah dan kebunnya tidak boleh dipanen. Saat seperti itulah muncul pahlawan rakyat Condet yang bernama Haji Entong Gendut. Bersama warga Condet, ia berusaha melawan kekejaman Belanda.

Bangunan Vila Nova yang kini hanya menyisakan kerangka saja akibat kebakaran

Bangunan Vila Nova yang kini hanya menyisakan kerangka saja akibat kebakaran (via chirpstory.com)

Haji Entong Gendut sendiri adalah guru agama sekaligus pendekar yang disegani di Condet. Sampai pada suatu waktu, 5 April 1916, Haji Entong Gendut memimpin pemuda-pemuda Condet menyerbu gedung megah milik tuan tanah Belanda itu. Pertempuran pun berkecamuk. Merasa kewalahan, kompeni (tuan tanah) meminta bantuan pasukan dari Kota. Konon, Haji Entong Gendut tewas ditembak kompeni dalam pertempuran itu lalu jasadnya dibuang ke laut.

Tergerus

Disamping terkenal sebagai pusat toko minyak wangi dan barang dagangan khas Timur Tengah, bila kita menyebut Condet, maka ingatan sebagian orang-orang tua – generasi tahun 50-an – akan tertuju kepada komunitas masyarakat asli Jakarta (Betawi) dengan pernak-pernik budaya Betawi-nya. Padahal, Condet kini tak beda dengan kawasan lainnya di Jakarta.

Untuk menemukan rumah asli atau perumahan asli Betawi di Condet sekarang ini sangatlah sulit. Banyak warga asli Betawi yang menjual rumah, tanah, dan pekarangannya kepada para pendatang. Rumah-rumah bergaya minimalis menggusur keberadaan rumah panggung khas Betawi. Kini hanya ada sebuah rumah yang sengaja ditetapkan oleh Pemprov DKI Jakarta sebagai rumah khas Betawi di Jalan Gardu, Balekambang. Adapun warga Betawi Condet sendiri, kini banyak yang pindah ke Cilangkap, Bambuapus, dan kawasan pinggiran di timur Jakarta.

Rumah tradisional Betawi satu-satunya yang tersisa di Condet

Rumah tradisional Betawi satu-satunya yang tersisa di Condet (via tempo.co)

Kini Condet telah berubah. Hanya ada sebagian kecil rimbunan pohon salak dan duku di pekarangan rumah. Penetapan Condet sebagai Cagar Budaya Betawi oleh Pemprov DKI Jakarta seolah hanya memperlambat perubahan Condet dari kampung agraris agamis bernuansa Betawi ke arah kampung urban dengan problematika kekotaannya. Kalaupun masih ada sedikit kekhasan dan nuansa Betawi di Condet, tampak dijumpai sedikit warung Betawi yang menjajakan asinan Betawi, cuka aren, emping melinjo, dan gado-gado Betawi. Kini, masyarakat Betawi Condet dan beragam etnis suku lainnya hidup rukun membaur bersama, pun dengan etnis Arab tentunya. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Sebarkan artikel :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.