Dari Elang Menjadi Pramuka


Halo Jakartans! Sebelum berganti nama menjadi Pulau Pramuka, pulau ini lebih dikenal sebagai Pulau Elang. Kini, Pulau Elang tak lagi menjadi sarang bagi kawanan elang, tetapi menjelma sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Seribu dengan cerita tongkat emas sebagai penjaga pulau.

Pulau Pramuka menjadi satu dari 11 pulau berpenduduk di kawasan gugusan gugusan Kepulauan Seribu. Kehidupan masyarakat di pulau ini begitu dinamis dengan keragaman budaya yang memberi berbagai corak dalam kehidupan sosial, bahasa, budaya, hingga kuliner. Sebagian besar masyarakat yang mendiami Pulau Pramuka adalah para nelayan dari Bugis, Mandar, Banten, hingga Madura.

Mulanya Pulau Pramuka tak berpenghuni. Letaknya yang melintang dari utara ke selatan membuat masyarakat enggan menempati. Karena dinilai kurang peruntungannya. Pulau lainnya dari barat ke timur, tidak sungsang seperti Pulau Pramuka.

Pulau Pramuka sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Seribu

Pulau Pramuka sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Seribu (via wisataseribupulau.co.id)

 

Kantor pemerintahan berpusat di Pulau Pramuka

Kantor pemerintahan berpusat di Pulau Pramuka (via mahkamahagung.go.id)

Tidak jauh dari Pulau Pramuka ada Pulau Panggang yang terlebih dulu di huni. Karena semakin lama penghuninya semakin banyak dan padat, maka sebagian warga pulau Panggang bermigrasi ke Pulau Pramuka. Terkait perubahan nama Pulau Elang menjadi Pulau Pramuka, informasi dari Suku Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, nama Pulau Pramuka bermula dari kegiatan kepramukaan kepanduan yang sering dilakukan di pulau tersebut, jauh sebelum DKI Jakarta mendirikan bumi perkemahan Cibubur dan Ragunan.

Pada tahun 1950-an sampai 1960-an, kepramukaan banyak mengirim anggotanya untuk berlatih di pulau ini. Karena semakin sering digunakan, nama pramuka kian melekat, sehingga berubahlah menjadi Pulau Pramuka.

Mitos Pendekar Tongkat Emas

Pulau Pramuka termasuk dalam Taman Laut Nasional dengan luas mencapai 10 hektar. Masyarakat Pulau Pramuka mempercayai keberadaan tongkat emas dan sosok penjaga pulau. Konon, selama tongkat emas itu tidak sampai tercabut, maka Pulau Pramuka akan selalu aman dari ancaman bahaya. Bahkan ancaman tenggelam seperti halnya yang dialami sejumlah pulau lain, seperti Pulau Ubi.

Lantas, siapa pemilik tongkat emas? Masyarakat percaya tongkat emas merupakan milik leluhur mereka yang berdiam di Pulau Pramuka di masa lampau. Sosoknya akan muncul sebagai penanda atau pengingat datangnya bencana bagi masyarakat pulau. Entah itu wabah penyakit atau kematian-kematian tak wajar.

Pulau Pramuka memiliki jumlah penduduk yang paling banyak dari seluruh pulau yang ada di gugusan Kepulauan Seribu

Pulau Pramuka memiliki jumlah penduduk yang paling banyak dari seluruh pulau yang ada di gugusan Kepulauan Seribu (via travelwisataindonesia.com)

Di saat-saat tertentu, si “penjaga” pulau juga diyakini akan muncul dan mengelilingi pulau untuk menjaga kuturunannya, mulai Pulau Panggang hingga Pulau Pramuka. Tunggangannya adalah seekor kuda putih. Konon, hanya orang-orang tertentu saja yang ditemui, orang-orang yang masih “suci” yang bisa melihat keberadaannya.

Terlepas dari benar tidaknya mitos tersebut, keyakinan akan adanya tongkat emas dan leluhur “penjaga” pulau telah membentuk pemikiran mereka untuk senantiasa ikut menjaga pulau agar tetap lestari, sehingga tidak membuat marah para leluhur. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Sebarkan artikel :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.