Dari Sunda Kelapa ke Jakarta, Begini Perubahan Nama Ibu Kota di Masa Lalu Sampai 13 Kali!


Halo Jakartans! DKI Jakarta, sebagai orang Indonesia tentu nama Jakarta sudah familiar di telinga kita. Akan tetapi, pernahkah Anda tahu bahwa nama Jakarta tidak begitu saja diberikan pada kota metropolitan tersebut? Beberapa memang sudah diketahui masyarakat umum seperti Batavia dan Sunda Kelapa.

Akan tetapi ternyata ada nama-nama lain yang belum banyak orang tahu. Bahkan sampai ada 13 nama yang pernah disandang oleh kota Jakarta. Siapa sangka, kota metropolitan yang saat ini kita kenal awalnya adalah sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung sekitar 500 tahun silam. Seiring berjalannya waktu, kota bandar kecil ini berkembang pesat menjadi pusat perdagangan yang ramai.

Keindahan kota Jakarta kala malam hari tiba

Keindahan kota Jakarta kala malam hari tiba (via medium.com)

Sejarah Ibu Kota Indonesia, Ternyata Jakarta Pernah Menyandang 13 Nama Ini

1. Sunda Kelapa

Sunda Kelapa adalah nama pertama yang pernah disandang oleh Jakarta, dipakai sebelum tahun 1527. Sunda Kelapa sampai saat ini diketahui sebagai salah satu pelabuhan niaga di Jakarta. Dahulu pelabuhan tersebut merupakan pelabuhan Kerajaan Sunda yang lebih dikenal sebagai Kerajaan Pajajaran.

Sebagai pusat perdagangan, Pelabuhan Sunda Kelapa tentu memiliki pengaruh yang besar terhadap Indonesia. Di sanalah pusat kegiatan jual beli terjadi yang melibatkan aktivitas para pedagang dari seluruh penjuru Asia, Amerika dan Eropa. Mengapa dinamakan Sunda Kelapa? Karena pelabuhan ini masih wilayah Kerajaan Sunda dengan Raja Prabu Siliwangi.

Pada tahun 1511, Portugis kemudian memasuki wilayah Malaka, hingga pada akhirnya mengklaim Sunda Kelapa pada tahun 1522. Selanjutnya pada tahun 1527, Fatahillah dari Kesultanan Demak – Cirebon mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Fatahillah kemudian mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta.

2. Jayakarta

Pada saat Fatahillah dari Kerajaan Demak – Cirebon merebut Sunda Kelapa dari tangan Portugis pada tanggal 22 Juni 1527, nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta yang artinya kota kemenangan yang gilang gemilang. Fatahillah memberikan nama itu berdasarkan Al-Quran surat Al-Fath ayat 1 yang artinya “telah-Ku berikan atas kamu kemenangan yang sempurna”.

Kemudian Jayakarta masuk dalam Kesultanan Banten. Jayakarta pada masa jayanya menjadi pusat perdagangan yang terkenal di Asia Tenggara. Hal tersebut karena Pangeran Jayawikarta dari Kesultanan Banten memiliki hubungan internasional yang cukup luas, termasuk dengan Hindia Belanda.

Hingga akhirnya pada tahun 1596 kapal Belanda berlabuh di Jayakarta. Begitu juga dengan Kerajaan Inggris Raya pada tahun 1602 yang mulai masuk ke wilayah Banten. Pada saat itu hubungan Pangeran Jayawikarta dengan Belanda memburuk. Akibat dari itu Kesultanan Banten kemudian menyerang Belanda sebagai bentuk pertahanan.

Belanda balas menyerang Kesultanan Banten di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen pada tahun 1619. Tak puas hanya Kesultanan Banten, Belanda juga menyerang Inggris hingga berhasil menancapkan kekuasaannya di Jayakarta. Belanda kemudian mengubah nama Jayakarta menjadi Batavia.

3. Stad Batavia

Jayakarta diganti namanya menjadi Stad Batavia pada masa pendudukan Belanda pada 4 Maret 1621. Apakah Anda tahu dari mana nama Batavia diambil? Ternyata Batavia berasal dari nama suku yang menjadi asal muasal bangsa Belanda yaitu Batavi.

Jan Pieterszoon Coen sangat menjunjung tinggi nama Batavia hingga mengabadikannya pada wilayah yang dia klaim. Setiap sensus yang dilakukan Belanda di masa penjajahan, menempatkan suku Melayu, Banten, Sunda, Bugis, Batak, Ambon sebagai suku Batavi. Nama Batavi itulah yang menjadi asal-usul ‘Betawi‘ dalam dialek Melayu.

Gemeente Batavia (Gedung Balai Kota DKI Jakarta)

Gemeente Batavia, Gedung Balai Kota DKI Jakarta (via republika.com)

4. Gemeente Batavia

Stad Batavia atau yang dikenal sebagai Batavia juga pernah diganti menjadi Gemeente Batavia di tanggal 1 April 1905. Ketika itu Indonesia masih berada pada masa pendudukan kolonial Belanda juga.

5. Stad Gementee Batavia

Pada 8 Januari 1935, agaknya Belanda belum meresmikan nama Batavia dan masih ingin mengubah namanya. Karena untuk ketiga kalinya, Gementee Batavia diganti menjadi Stad Gementee Batavia.

6. Betshu Shi

Jepang mengalahkan pemerintahan kolonial Belanda di Batavia pada tahun 1942. Nama Batavia kemudian sempat diganti menjadi Toko Betsu Shi yang artinya ‘jauhkan perbedaan’. Agaknya Jepang tidak mau ada peninggalan Belanda di Indonesia ada sehingga mereka ingin menghancurkan semua termasuk mengganti Stad Gemeente Batavia menjadi Jakarta Toko Betshu Shi.

Pada 1945, di saat detik-detik kemerdekaan, Jepang menyerah kepada pihak aliansi sekutu sehingga Indonesia bisa memproklamirkan kemerdekaannya. Imbasnya nama Toko Betsu Shi tak dikenal lagi. Pemerintah Indonesia kemudian mengubah namanya menjadi Pemerintah Nasional Kota Jakarta.

7. Pemerintah Nasional Kota Jakarta

Pada bulan September 1945, nama Toko Betshu Shi yang diberikan oleh Jepang berganti menjadi Pemerintah Nasional Kota Jakarta. Jakarta pada saat itu merupakan kependekan dari Jayakarta.

8. Stad Gemeente Batavia

Pada tahun 1950, Belanda kembali datang dalam agresi militernya yang kedua yang membuat Ibukota Indonesia di pindahkan secara darurat ke Yogyakarta. Belanda kemudian mengubah Jakarta kembali menjadi Stad Gemeente Batavia, ketika itu masa pemerintahan Pro Federal. Akan tetapi itu hanya berlangsung satu bulan saja. Sehingga pada Maret 1950, Stad Gemeente Batavia diubah menjadi Kota Praja Jakarta.

9. Kota Praja Jakarta

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa para pejuang Indonesia, akhirnya berhasil kembali mengambil alih wilayah pendudukan Belanda di Jakarta. Oleh karena itu, nama Kota Praja Jakarta kembali digunakan secara resmi pada 24 Maret 1950.

10. Kota Praja Djakarta Raya

Jakarta pernah menjadi daerah swatantra. Apa itu daerah swatantra? yaitu daerah yang mempunyai pemerintahan sendiri. Pada saat itu namanya menjadi Kota Praja Djakarta Raya.

11. Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya

Pada tahun 1961 nama Jakarta sudah mulai menampakkan dirinya. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 2 tahun 1961 jo UU No. 2 PNPS 1961, Kota Praja Djakarta Raya resmi berubah menjadi Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya.

12. Jakarta

Dalam Undang Undang No. 10 tahun 1964, Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya dinyatakan sah sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia yang resmi dengan nama Jakarta yaitu lebih tepatnya pada tanggal 31 Agustus 1964. Sampai saat inilah, nama Jakarta tersebut dikenal dan melekat di benak kita semua. Hingga saat ini, penduduk Jakarta diperkirakan sudah mencapai 10 juta lebih yang terdiri dari berbagai etnis suku. Perlu diketahui, Jakarta merupakan satu-satunya kota besar di Indonesia yang memiliki status setingkat provinsi.

Gedung Balai Kota Jakarta saat ini

Gedung Balai Kota Jakarta saat ini (via okezone.com)

13. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta

Dan pada akhirnya menurut Undang Undang No. 34 tahun 1999 tentang Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Negara Republik Indonesia Jakarta, menyatakan bahwa nama pemerintah daerah ditetapkan menjadi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hingga sampai sekarang.

Hingga kini Jakarta berkembang menjadi sebuah kota metropolitan. Berbagai ragam suku, ras, dan budaya ikut menyumbang pertumbuhan Jakarta menjadi salah satu kota yang dinamis dan tersibuk di Indonesia. Walaupun termasuk kota terpadat populasinya, tapi Jakarta masih menyimpan rapi akan sejarahnya.

Dilihat dari sejarah nama-nama Jakarta di atas, tercermin jelas perjalanan panjang perjuangan Indonesia sejak pada masa kerajaan, terjajah Belanda, kemudian pendudukan Jepang, hingga sampai Indonesia merdeka, dan terus berkembang sampai Jakarta saat ini yang berumur 490 tahun. Tidak hanya warga Betawi, atau penduduk Jakarta saja yang harus tetap menjaga sejarah ini, tapi seluruh warga Indonesia juga harus melakukan hal yang sama.

Ke-13 nama Jakarta dari waktu ke waktu yang telah dipaparkan di atas bisa Anda pelajari dengan datang ke Museum Sejarah Jakarta. Mempelajari sejarah juga bisa dikatakan sebagai upaya untuk menjaga dan melestarikan warisan sejarah yang tidak ternilai harganya.

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.