Disini Tempat Ziarah Pejabat Jakarta


Halo Jakartans! Meskipun kontroversi tentang sosok Pangeran Jayakarta masih berlanjut, tempat keramat yang diyakini sebagai makam Pangeran Jayakarta tetapi ramai dikunjungi peziarah. Kabarnya, banyak pejabat Jakarta ziarah kesana agar ‘langgeng’ dan ‘aman’.

Tidak semua warga Jakarta tahu ada Kompleks Makam Pangeran Jayakarta di Jalan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Di lahan yang lumayan luas di sisi jalan itu terdapat bangunan Masjid Jami’ Assalafiyah yang dibangun oleh Pangeran Jayakarta.

Selain masjid, di kompleks cagar budaya ini terdapat banyak makam tua dan pohon intan atau pohon kresek yang berusia ratusan tahun berdiameter 19 cm. Pohon raksasa itu seolah menjadi saksi bisu perjuangan sang pangeran melawan Belanda.

Menurut cerita, sejak Pangeran Jayakarta wafat, makamnya ini disembunyikan dari publikasi. Sebab, jika pihak Belanda mengetahuinya, mereka akan menghancurkan dan meratakan makam itu dengan tanah. Belanda yang saat itu dipimpin Jan Pieterszoon Coen sangat benci pahlawan ini karena merasa diperdaya.

Beberapa makam yang mendampingi makam Pangeran Jayakarta

Beberapa makam yang mendampingi makam Pangeran Jayakarta (via tribunnews.com)

Maman, juru kunci makam itu dengan senang hati akan berkisah tentang perjuangan dan jasa-jasa sang pangeran. Pria paruh baya ini juga sering mengingatkan agar para peziarah bersikap sopan dan menjaga kebersihan lingkungan makam.

Seperti ditempat peziarahan lain, di kompleks ini pun peziarah tidak diizinkan memotret tanpa seizin Maman. Menurutnya, untuk melakukan sesuatu harus izin dulu kepada ‘penunggu’nya. Boleh memotret, asal mohon ijin dulu kepada yang ‘punya’, dan jaga sopan santun agar tidak terjadi sesuatu hal buruk yang menimpa.

Kalau Anda berkunjung ke lokasi makam ini, Anda bisa mendengar beberapa cerita kejadian aneh yang menimpa peziarah yang ‘melanggar’ aturan tidak tertulis itu. Salah satunya, ada peziarah yang linglung, dia berjalan kearah sungai di belakang dan menceburkan dirinya, tapi saat itu masih tertolong dikarenakan ada warga yang melihat dan menolongnya.

Komplek Makam Pangeran Jayakarta

Komplek Makam Pangeran Jayakarta (via panoramio.com)

Biasanya, di malam Jumat, makam ini ramai dikunjungi peziarah bahkan dari luar Jakarta seperti Banten, Cirebon, Sukabumi, Karawang, dan Jawa Tengah. Selain malam Jumat, makam ini juga ramai dikunjungi pada haul yang dilaksanakan sehari setelah maulid Nabi SAW dan sehari sebelum ulang tahun Jakarta dan ulang tahun Kodam Jaya yang juga mengambil nama Jayakarta.

Sangat disayangkan, beberapa peninggalan sejarah masjid ini sudah banyak yang hilang. Hanya empat tiang penyangga dan sebuah kaligrafi Arab berbentuk sarang tawon di dalam plafon menara masjid yang tersisa.

Selain bangunannya relatif luas, penampilannya pun terkesan mewah dengan keramik dan marmer menutupi hampir seluruh dindingnya. Tampaknya ukuran asli masjid itu hanya seluas empat pilar dengan selasar sepanjang 5 meter di setiap sisinya.

Menurut catatan sejarah, Pangeran Jayakarta adalah bangsawan Banten yang masih ada hubungan dengan Ratu Bagus Angke dan Fatahillah. Dialah yang meresmikan nama Jayakarta atau Jayakerta pada 22 Juni 1527.

Sekitar bulan Mei 1619 di kawasan Mangga Dua, pasukan Pangeran Jayakarta, melakukan kontak senjata dengan tentara Jan Pieterszoon Coen. Pasukan Pangeran Jayakarta terdesak dan terkepung dari dari arah Senen, Pelabuhan Sunda Kelapa dan Tanjung Priok.

Karena terjepit, pasukan Pangeran Jayakarta mundur ke timur hingga ke Sunter, lalu ke selatan. Sambil terus bergerak ke selatan, ketika itu Pangeran Jayakarta membuang jubahnya ke sebuah sumur tua.

Pihak Belanda mengira musuh bebuyutannya itu telah tewas di dalam sumur sehingga menghentikan pengejaran. Sementara Pangeran Jayakarta pasukannya meneruskan perjalanan ke selatan hinggg masuk hutan jati yang lebat. Mereka menetap disana sehingga muncul perkampungan dengan nama Jatinegara.

Masjid Jami Assalafiyah yang merupakan peninggalan dari Pangeran Jayakarta

Masjid Jami Assalafiyah yang merupakan peninggalan dari Pangeran Jayakarta (via aktual.com)

Tahun 1620, Pangeran Jayakarta membangun masjid yang juga digunakan untuk menggalang kekuatan. Berpuluh-puluh tokoh masyarakat dan jawara serta ulama sering berkumpul di masjid ini menyusun strategi perjuangan dan dakwah Islam.

Sekitar tahun 1700 Pangeran Sugeri, putera Sultan Fatah dari Banten, memugar masjid. Pangeran Jayakarta dan Pangeran Sugeri kemudian dimakamkan di komplek masjid bertiang penyangga jati ini.

Menurut beberapa tokoh Betawi, makam itu bukan pusara Pangeran Jayakarta, tetapi makam Mas Ahmat, orang Cirebon yang dijadikan bupati oleh VOC pada akhir abad 18. terlepas dari kontroversi itu, pastinya makam itu diyakini bisa memuluskan jalan seseorang yang ingin menjadi pejabat.

Biasanya, ketika tiap menjelang pemilu legislatif, banyak calon anggota DPRD DKI Jakarta berziarah kesana. Mungkin ada yang jadi, ada juga yang gagal, percaya atau tidak. Hal ini dibenarkan oleh beberapa warga sekitar yang sudah maklum jika melihat mobil mewah dan keluaran terbaru diparkir di sisi jalan. Biasanya yang datang orang penting atau pengusaha.

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.