Dodol Betawi Nyak Mai Siap Hadapi Perkembangan Zaman


Halo Jakartans! Dodol Betawi Nyak Mai tak gentar menghadapi era zaman yang berkembang cepat. Tidak hanya memiliki kelezatan cita rasa yang khas, cara pembuatan maupun lekatnya unsur tradisional Betawi dalam dodol sangat menarik bahkan bagi warga negara asing.

Asap dari sisa pembakaran kayu membumbung pada ruang setengah terbuka berukuran sekitar 5×4 meter di Gang Kramat Bambu, Jalan Moh Kaffi II, kawasan Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Panas kobaran api di bawah kenceng (kuali besar dari tembaga) seolah tidak menggangu sedikit pun kerja Aqil. Pria bertubuh kecil itu tetap cekatan mengaduk adonan ketan bercampur gula Jawa dan santan dalam kenceng dengan menggunakan bilah kayu pipih mirip dayung.

Selama 8-10 jam, Aqil bergantian dengan Iyan dan Syamsudin mengaduk olahan tersebut hingga menjadi kental pekat. “Capek, tapi senang,” tutur Syamsudin. Proses pembuatan dodol Betawi di sudut kiri halaman rumah Juwani ini dilakukan sejak usai subuh hingga menjelang waktu Dzuhur. Juwani dan kakaknya Juriah serta adik lelakinya, Syamsudin, merupakan anak dari Nyak Mai, pembuat dodol Betawi yang tersohor di kawasan tersebut.

Nyak Mai sudah mulai membuat dan menjual dodol sejak puluhan tahun lalu. Setelah Nyak Mai tutup usia pada 2007, kini usaha pembuatan dodol diteruskan oleh anak-anaknya. Lantas apa yang membuat Dodol Betawi Nyak Mai jadi primadona? Rahasianya ternyata ada pada racikan takaran bahan pembuat dodol. “Itu cuma keluarga yang tahu. Hanya saya dan kakak yang tahu takarannya,” ujar Juwani.

Resep takaran adonan dodol Betawi Nyak Mai yang membedakan dengan dodol lainnya

Resep takaran adonan dodol Betawi Nyak Mai yang membedakan dengan dodol lainnya (via harnas.co)

Syamsudin, putra bungsu Nyak Mai mengatakan, untuk satu kali pembuatan dodol dibutuhkan sekitar 15 kilogram – 20 kilogram ketan, 25 kilogram gula Jawa, dan sekitar 35 butir kelapa untuk santan. Pria yang akrab disapa Udin ini menambahkan, semua bahan yang digunakan untuk pembuatan dodol seperti gula merah dan kelapa dipilih yang terbaik.

Kualitas dan kenikmatan Dodol Betawi Nyak Mai dikenal bukan hanya di Jakarta, tapi dari luar kota bahkan dari luar Pulau Jawa seperti Lampung, Medan, dan Palembang. Pada libur panjang atau lebaran, dalam sehari mereka bisa bikin hingga 700 kilogram dodol.

Tidak Takut Bersaing

Meski perkembangan zaman kian cepat berubah, tetapi keluarga Nyak Mai tidak terlalu risau. Bahkan, mereka siap untuk bersaing dengan produk serupa dari negara tetangga. “Kita tak takut bersaing, karena dodol Nyak Mai punya rasa dan kualitas berbeda dari dodol lainnya,” tegas Udin.

Usaha Kecil Menengah (UKM) yang dikelola keturunan Nyak Mai ini berharap bisa mendapat bantuan dari pemerintah untuk mempromosikan produk mereka ke pasar yang lebih luas. Sebab, dodol Betawi termasuk salah satu produk kuliner budaya yang harus dikembangkan agar tidak punah.

Dodol Betawi Nyak Mai yang terkenal

Dodol Betawi Nyak Mai yang terkenal (via harnas.co)

Diceritakan Udin, beberapa warga negara asing mencoba ikut mengaduk adonan. “Menurut mereka ini unik,” jelas Udin. “Saya berharap pemerintah bisa memfasilitasi, misalnya di kampung Betawi ini kan setiap Sabtu dan Minggu ramai pengunjung. Kita diberi ruang atau tempat untuk mempraktikkan proses pembuatan dodol, supaya banyak orang tahu,” ucap Udin.

Bantuan dari dinas terkait sangat diharapkan, mengingat keberadaan dan peran penting UMKM dalam mewujudkan kemandirian ekonomi, terlebih saat menghadapi era globalisasi. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.