Eh, Ada Show Room Jual ‘Busway’


Halo Jakartans! ‘Show Room’ itu sudah ada sejak 42 tahun silam. Barang dagangannya, replika beragam moda transportasi Jakarta. Mulai Bajaj Merah, Bajaj Biru, Metromini sampai Busway Gandeng-nya TransJakarta.

Jika melintas di pertigaan Taman Makam Pahlawan Kalibata, dari arah Pancoran menuju Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kita akan jumpai beberapa kios penjual mainan replika angkutan umum seperti bajaj, truk, metro mini dan busway.

Salah satu kios itu milik Pak Umar yang sejak tahun 1977 sudah memulai usahanya di sana. Replika mobil kayu yang dipajang di kios semi permanen itu terbuat dari limbah kayu dan triplek. Modelnya terus berubah sesuai perubahan moda tranportasi umum di Jakarta. Lengkap, mulai dari bajaj merah, bajaj BBG, kancil, Metromini, Kopaja hingga TransJakarta.

Lapak pedagang replika mainan yang masih bertahan hingga saat ini di kawasan TMP Kalibata

Lapak pedagang replika mainan yang masih bertahan hingga saat ini di kawasan TMP Kalibata (via okezone.com)

Sekitar tahun 1970-an, Pak Umar hanya memproduksi mainan seperti itu di Karawang. Beberapa temannya menjual di Jakarta. Mereka mengambil langsung produk replika bikinan Pak Umar lalu menjualnya di Jatinegara dan Proyek Senen, terkadang dibawa keliling pakai pikulan. Akhirnya Pak Umar kemudian buka kios kecil persis di sudut pagar Taman Makam Pahlawan, Kalibata.

Sudah lama Pak Umar tidak membuat sendiri mainan kayu. Jika ada ide membuat model terbaru, Pak Umar akan membuat pola dalam bentuk sketsa. Pola itu dikirim ke Karawang untuk diproduksi dalam jumlah banyak. Bahan kayu dan tripleknya limbah, tapi cat, dempul dan paku tetap harus menggunakan material yang baru.

Replika mobil kayu ini masih mendapatkan tempat di masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Zaman sekarang justru banyak orang tua yang membelikan replika mobil kayu supaya anak mereka bisa meniru dan menimbulkan sikap kreatif bagi putera-puterinya.

Replika yang terbuat dari kayu ini cocok sebagai cinderamata atau koleksi

Replika yang terbuat dari kayu ini cocok sebagai cinderamata atau koleksi (via adivisual.blogspot.com)

Kecintaannya kepada anak-anak membuat Pak Umar harus melakukan inovasi terhadap replika mobil kayu agar tetap diminati mengingat banyaknya produk mainan cina yang mendominasi pasaran.

Jika sebelumnya hanya sedikit model replika mobil yang dijual, sekarang sudah beragam, ada mobil tanki, kontainer hingga busway. Replika mobil kayu dibuat berdasarkan model kendaraan yang sedang trend namun ada juga yang membuat model kendaraan tempo dulu yang terlihat unik dan antik.

Inovasi juga dilakukan. Beberapa model pintunya bisa dibuka-tutup. Jika sebelumnya menggunakan roda dari kayu, kini rodanya terbuat dari plastik atau karet. Roda yang terbuat dari kayu, kalau dimainkan memang terkesan berisik.

Untuk melego dagangannya, Pak Umar mematok harga mulai Rp 80 ribu dampai Rp 500 ribu, tergantung model dan detilnya. Menurut pria paruh baya ini, mutu mainan kayu sekarang tidak sebaik yang pernah dibuat pada tahun awal sampai dengan pertengahan 90-an.

Cindera Mata

Dulu, mainan-mainan itu dibuat dengan tingkat kemiripan yang lebih tinggi misalnya dengan memberi detil-detil seperti tempat duduk dan setir, atau lukisan dan cat yang lebih detil. Jika mainan KW-1 tersebut mau dipertahankan, maka harga jualnya akan tinggi, sehingga tidak lagi mampu bersaing dengan mainan pabrik atau dari Cina.

Dengan harga relatif lebih murah yang ditawarkan menjadi salah satu alasan mengapa Pak Umar masih eksis sebagai pemilik ‘showroom’ mobil kayu. Coba bandingkan kalau kita lihat mobil-mobilan sekarang, yang model kecil saja bisa sampai tiga ratus ribu per unitnya.

Meski murah dan terkesan kuno, namun pembelinya tidak hanya berasal dari kalangan menengah ke bawah, tidak jarang orang yang bermobil mewah pun juga ingin memilikinya. Bahkan turis asing pernah datang beberapa kali memborong mobil-mobilan kayu itu.

Anda dapat memiliki miniatur dengan harga yang terjangkau

Anda dapat memiliki miniatur dengan harga yang terjangkau (via tirto.id)

Turis tersebut tertarik dengan replika Bajaj dan Metromini yang tidak akan dijumpai di negaranya. Kebanyakan turis itu membeli dalam jumlah untuk dibawa ke negara asalnya sebagai cindera mata.

Selain replika mobil kayu, Pak Umar juga menjual kincir angin tradisional berornamen karakter Petruk dan Gareng yang seolah-oleh sedang memutar kincir itu jika angin bertiup. Karakter itu bisa diganti sesuai pesanan.

Pak Umar tidak bisa memastikan sampai kapan bisa bertahan hidup dari mainan replika ini di tengah derasnya ‘jajahan’ mainan dari Cina. Menurutnya sejak lima tahun belakangan, omzetnya terus merosot. Pak Umar berharap ada generasi penerusnya yang mau melanjutkan usaha ini.

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.