Elang Bondol : Maskot Jakarta Tertinggal di Pulau Kotok


Halo Jakartans! Elang Bondol pernah menjadi maskot dari Provinsi DKI Jakarta. Tapi, hewan ini menjadi begitu langka hingga tersisa beberapa ekor saja yang bisa ditemui di Pulau Kotok.

Pulau Kotok berada di gugusan Kepulauan Seribu. Pulau tersebut menjadi salah satu pulau konservasi bagi elang-elang korban perdagangan liar. Namun hanya mereka yang mengantongi izin lah yang bisa berkunjung dan melihat dari dekat bagaimana elang-elang yang dilindungi ini menjalani proses rehabilitasi untuk mengembalikan insting liar mereka.

Jenis Elang Bondol sendiri menjadi salah satu jenis elang yang direhabilitasi di Pulau Kotok. Selain Elang Bondol, ada juga jenis elang lain seperti Elang Kepala Abu dan beberapa jenis Elang laut lainnya.

Elang Bondol atau Hiliastur Indus merupakan salah satu jenis elang pesisir. Elang tersebut sempat ditetapkan sebagai maskotnya DKI Jakarta berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 1978 tahun 1989. Program rehabilitasi elang-elang di Pulau Kotok dilakukan oleh organisasi Jakarta Aid Animal Network (JAAN). Terdapat petugas dari JAAN yang menjaga Pulau Kotok sekaligus merawat elang-elang yang sedang menjalani masa rehabilitasi.

Pulau Kotok sebagai kawasan konservasi elang laut di Pulau Seribu

Pulau Kotok sebagai kawasan konservasi elang laut di Pulau Seribu (via indonesiakaya.com)

 

Pintu Gerbang masuk kawasan konservasi elang di Pulau Kotok

Pintu Gerbang masuk kawasan konservasi elang di Pulau Kotok (via pertamina.com)

Secara berkala, dokter hewan didatangkan untuk memeriksa sekitar 31 elang yang sedang menjalani masa rehabilitasi. Sejak tahun 2000, Pulau Kotok memang menjadi pulau konservasi untuk satwa yang dilindungi keberadaannya berdasarkan Peraturan Presiden No.7 Tahun 1999. Karena menjadi Pulau Konservasi, Pulau Kotok tertutup untuk umum pada tahun 2013. Hanya mereka yang mengantongi izin dari Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu yang diperkenankan masuk. Biasanya mereka yang datang untuk keperluan riset dan penelitian.

Sebagian besar elang-elang yang ada di Pulau Kotok merupakan hewan hasil sitaan dari kepolisian. Misalnya korban perdagangan satwa ilegal atau hasil razia di pasar-pasar burung di Jakarta. Tentu tak mudah mengembalikan insting liar seekor elang. Proses rehabilitasi butuh waktu lama, sebelum hewan tersebut siap kembali ke alam bebas. Beberapa ekor malah mungkin tidak akan kembali mengangkasa. Terkadang bulu primernya sengaja dicabut oleh pemilik lamanya. Atau sengaja dipatahkan biar tidak bisa terbang. Bahkan, tak jarang kaki-kakinya sudah rusak karena terlalu lama dirantai.

Keramba rehabilitasi elang bondol di Pulau Kotok

Keramba rehabilitasi elang bondol di Pulau Kotok (via indonesiakaya.com)

Adanya trauma fisik ini sangat berpengaruh pada proses rehabilitasi elang. Semakin berat trauma yang dialami, proses rehabilitasi pun semakin lama. Ada yang dalam hitungan bulan, namun bisa juga hingga tahun. Atau bahkan tidak akan pernah bisa kembali ke alam liar karena fisik yang cacat.

Panjang dan Bertahap

Proses rehabilitasi elang menjadi proses panjang dan bertahap. Mulai tahap isolasi, karantina, sosialisasi, pra-rilis hingga akhirnya dilepas ke alam bebas. Semua memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Fase awal dari proses rehabilitasi elang adalah isolasi. Biasanya elang hasil sitaan yang telah diperiksa oleh dokter hewan akan ditempatkan dalam satu kandang besar bersama dengan elang-elang lainnya. Tujuannya untuk pengenalan dan adaptasi, sekaligus memulihkan trauma mental maupun fisik.

Elang Bondol yang sedang masa rehabilitasi di Pulau Kotok

Elang Bondol yang sedang masa rehabilitasi di Pulau Kotok (via baca.co.id)

Jika elang sudah tenang, tidak terus menerus bersuara, paruh dan sayapnya sudah mulai kuat, artinya sudah bisa masuk ke tahap berikutnya. Setelah semua indikator dalam proses isolasi tercapai, elang kemudian di karantina. Tujuannya untuk mengurangi interaksi dengan manusia. Biasanya elang-elang ini sudah mulai menunjukkan perilaku jauh lebih baik dari tahap isolasi. Ketergantungan terhadap manusia sudah mulai berkurang. Barulah nanti elang-elang ini masuk tahap sosialisasi. Di tahap sosialiasi, merupakan fase insting liar elang harus dimunculkan kembali. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.