Gambang Kromong : Musik Tradisi Akulturasi Betawi – Tionghoa



Orkes Seni Asli Betawi

Halo Jakartans! Tak hanya musik Tanjidor, masyarakat Betawi juga mengenal Gambang Kromong sebagai salah satu orkes tradisional Betawi. Keberadaannya menjadi salah satu wujud akulturasi harmonis antara seni bermusik lokal dengan seni musik Tionghoa yang lestari di Jakarta hingga saat ini.

Orkes Gambang Kromong melibatkan banyak pemain alat musik atau yang disebut panjak. Umumnya dimainkan oleh laki-laki, menggunakan pakaian adat betawi seperti baju Sadariah dengan warna mencolok seperti merah. Biasanya, Gambang Kromong menjadi musik pengiring pertunjukkan lenong Betawi. Gabungan beragam alat musik di Gambang Kromong juga menjadi cerminan kuatnya akulturasi budaya dalam seni musik yang diperkirakan masuk bersama dengan kedatangan bangsa Tiongkok (China) ke Batavia.

Sesuai namanya, instrumen Gambang Kromong terdiri dari gambang dan kromong yang berakar pada tradisi musik Jawa dan Sunda. Sisanya adalah thehian, kongahian, dan sukong yang konon dibawa oleh pendatang dari negeri Tiongkok. Ada juga kemong dan kendang yang juga memiliki akar pada gamelan Sunda dan Betawi.

Sebagai seni pertunjukan dan hiburan rakyat, orkes Gambang Kromong mudah dinikmati karena keunikan lagu yang bersifat humor dan penuh gembira. Sayangnya, seperti halnya kebudayaan Betawi lainnya, warisan budaya Gambang Kromong terancam punah karena minimnya penerus

Sebagai seni pertunjukan dan hiburan rakyat, orkes Gambang Kromong mudah dinikmati karena keunikan lagu yang bersifat humor dan penuh gembira. Sayangnya, seperti halnya kebudayaan Betawi lainnya, warisan budaya Gambang Kromong terancam punah karena minimnya penerus (via deskgram.com)

Dari sejumlah literatur, keberadaan Gambang Kromong memiliki sejarah beragam dan cukup panjang. Dalam buku “Petunjuk Praktis Latihan Dasar Bermain Musik Gambang Kromong” misalnya, Rachmat Syamsudin dan Dahlan menjelaskan bagaimana Gambang Kromong merupakan perkembangan dari orkes Yang-khim yang biasa dimainkan oleh masyarakat Tionghoa untuk mengobati rasa rindu pada kampung halaman.

Orkes tersebut terdiri dari atas Yang-khim, sukong, hosian, thehian, kongahian, sambian, suling dan pan atau kecrek. Lantaran Yang-khim sulit diperoleh, maka komunitas Tionghoa di Batavia saat itu menggantinya dengan Gambang Kromong yang menjadi alat musik yang dimainkan oleh penduduk lokal. Untuk larasnya disesuaikan dengan notasi yang diciptakan oleh orang-orang Hokian yang bermukim di Batavia.

Menurut Budayawan Betawi Ridwan Saidi, mulanya orkes gambang hanya disenangi oleh kaum China peranakan (keturunan Tionghoa). Namun seiring dengan pembaruan musik yang terjadi, baik pada alat maupun syair-syair lagunya, perlahan Gambang Kromong juga digemari oleh masyarakat lokal saat itu. “Dari yang hanya dimainkan oleh baba-baba, lama-lama jadi hiburan rakyat,” kata Ridwan.

Perlahan orkes Gambang Kromong pun meluas penyebarannya hingga ke daerah-daerah di pinggiran Batavia, seperti Bekasi dan Tangerang. Sebagai seni pertunjukan dan hiburan rakyat, orkes Gambang Kromong menjadi pertunjukan rakyat yang mengiringi berbagai pertunjukan seperti tari cokek.

Akulturasi Lagu

Akulturasi pada Gambang Kromong tidak hanya pada alat-alat musik yang digunakan. Sebagai seni musik rakyat Tionghoa, lagu yang digunakan pada Gambang Kromong juga umumnya merupakan lagu-lagu China atau yang dikenal dengan Gambang China. Itu terlihat dari karakter lagunya yang bersifat syair. Biasanya digunakan untuk mengiringi sembahyang orang Tionghoa saat itu atau proses lain.

Lagu-lagu yang dibawakan pada musik gambang kromong adalah lagu-lagu yang isinya bersifat humor, penuh gembira, serta kadang kala bersifat ejekan atau sindiran. Pembawaan lagunya dinyanyikan secara bergilir antara laki-laki dan perempuan sebagai lawannya.

Gambang Kromong sebagai pengiring pertunjukan seni tari Betawi

Gambang Kromong sebagai pengiring pertunjukan seni tari Betawi (via metrotvnews.com)

Dalam perkembangannya, gambang China ini semakin jarang dibawakan dan berkembang menjadi lagu-lagu yang lebih lokal. Yakni dinyanyikan dalam bentuk pantun berbahasa Melayu Betawi. Beberapa lagu yang terkenal hingga saat ini dalam dalam pertunjukan orkes Gambang Kromong antara lain Jali-Jali, Sirih Kuning, hingga Lenggang Kangkung.

Sayangnya, warisan budaya ini keberadaannya bisa terancam hilang, meski Gambang Kromong mulai dikreasikan dengan sentuhan musik lain dengan penambahan alat-alat musik lain. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.