Gerbang Amsterdam, Saksi Bisu Jakarta di Masa Lalu


Halo Jakartans! Banyak tempat di Jakarta yang menjadi saksi sejarah panjang keberadaan Belanda di Indonesia. Dari sekian tempat yang jumlahnya tak terhitung, salah satu yang masih membekas hingga sekarang adalah bangunan Gerbang Amsterdam yang berlokasi di Jakarta Utara.

Tetapi, di masa sekarang, bangunan tersebut sudah tak terlihat sedikit pun. Sejak 1950, bangunan yang dulunya menjadi benteng (poort) pertahanan Belanda di Jakarta Utara itu, terpaksa dihancurkan karena dinilai sudah mengganggu lalu lintas yang ada di Jakarta. Kebetulan, saat itu Jakarta sedang menggeliat membangun dan mempersolek diri.

Pegiat sejarah dari Universitas Indonesia Kartum Setiawan mengatakan, sebelum dihancurkan bangunannya, kondisi lalu lintas di sekitar Pasar Ikan saat itu memang ramai. Sementara bangunan Gerbang Amsterdam posisinya membelah jalan raya hingga membentuk benteng di tengah jalan.

“Saat itu, diputuskan dihancurkan demi kelancaran lalu lintas. Selain itu, karena Indonesia baru lepas dari penjajahan Belanda maka sentimen anti Belanda sangatlah kuat. Sehingga, segala bentuk sisa peninggalan Belanda banyak yang dihancurkan,” ujar Kartum.

Gerbang Amsterdam (Amsterdamsche Poort) sisa peninggalan Batavia

Gerbang Amsterdam (Amsterdamsche Poort) sisa peninggalan Batavia (via fajarinlander.blogspot.com)

Dilansir dari berbagai media, Gerbang Amsterdam adalah bangunan yang menjadi bagian dari kastil Batavia yang posisinya berhadapan langsung dengan pelabuhan Sunda Kelapa. Kastil tersebut yang sebelumnya menjadi rumah Gubernur Jenderal dan staf.

Namun, saat Gubernur Jenderal Daendels bangunan tersebut dihancurkan. Penghancuran itu diperkirakan terjadi antara 1808 hingga 1811. Setelah itu, Daendels memindahkan pusat pemerintahan ke sekitar Gambir dan Lapangan Banteng sekarang.

Sebagai bagian dari kastil, Gerbang Amsterdam dibangun di abad ke 17. Setelah itu, bangunan ini direnovasi beberapa kali di tahun-tahun berikutnya. Salah satu renovasi, menggunakan gaya roboco. Di kedua sudut gerbang dipasang patung Mars, yaitu Dewa Peperangan Romawi, dan Patung Minerva, yaitu Dewa Seni Romawi.

Gerbang Amsterdam berdiri kokoh

Gerbang Amsterdam berdiri kokoh (via indonesia-zaman-doeloe.blogspot.com)

Sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Jakarta saat itu, Kartum menjelaskan, kawasan Pasar Ikan menjadi kawasan favorit bagi penduduk Jakarta dan juga warga Belanda. Salah satu buktinya, di bagian kanan Gerbang Amsterdam saat itu terdapat jalur trem kota yang posisinya membentang dari Nieuwpoort Straat (kini Jalan Pintu Besar) ke Pasar Ikan.

Jalur trem tersebut, saat itu menjadi transportasi andalan warga Jakarta untuk bepergian. Sebagai transportasi publik yang menjadi pilihan nomor satu warga kota, trem terus mendapat perhatian dan peremajaan jalur maupun sarana transportasinya. Pasar Ikan sebagai salah satu bagian dari rute trem, kemudian ikut mendapat perhatian.

“Jadi, sebelum trem di jalur baru, saat itu rute akan dibangun dengan memotong bangunan Gedung Amsterdam. Tetapi karena gerbang terlalu kecil, sehingga trem tidak bisa melewatinya. Akhirnya, opsi dipilih dengan menggeser rute trem ke bagian kanan gerbang sekaligus menghancurkan Gerbang Amsterdam,” papar Kartum.

Lokasi Gerbang Amsterdam masa kini

Lokasi Gerbang Amsterdam masa kini (via wikipedia.org)

Jika Gerbang Amsterdam itu masih ada sekarang, katanya, posisinya ada di dekat pertemuan Jalan Cengkeh (Prinsenstraat) dan Jalan Tongkol (Kanaal Weg). Kawasan tersebut saat ini sudah menjadi kawasan padat penduduk dengan banyak permukiman. Tak ada sisa ataupun bekas dari Gerbang Amsterdam yang pernah menjadi saksi sejarah Jakarta.

Tentang keinginan para penggiat pecinta sejarah untuk membuat replika Gerbang Amsterdam di lokasi yang sekarang. Kartum berpendapat itu bisa dipertimbangkan. Tetapi, jika melihat kondisi sekarang, bangunan dan lokasi replika tidak harus sama ada di lokasi yang sama. Melainkan, bisa saja dibangun di lokasi baru yang memungkinkan dari sisi dan lokasi. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Fakta Sejarah Gerbang Amsterdam

  • Gerbang Aig Amsterdam dibangun pertama kali pada abad ke-17.
  • Gerbang Aig Amsterdam direnovasi selama masa pemerintahan Gubernur Jenderal Gal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff (1743 – 1750).
  • Lokasi di Jalan Cengkeh dan Jalan Tongkol, Jakarta Utara. Terletak di sebelah selatan jembatan kereta api, dan sebelah kiri terminal angkutan darat Kota Inten. Berdampingan dengan jembatan gantung di Pintu Besar Timur.
  • Gerbang Aig Amsterdam dibangun sebagai tanda memasuki kota Batavia setelah mendarat lewat Laut Jawa.
  • Pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808 – 1811), bangunan dihancurkan.
  • Sejak 1940-an, ketika kendaraan di Ibukota mulai ramai, pintu gerbang ini menjadi penghalang lalu lintas kendaraan bermotor. Baru pada Desember 1950 dibongkar dan tidak berbekas lagi.
  • Di kiri dan kanan pintu gerbang terdapat dua patung tengah memegang tombak yang dipasang pada tahun 1830. Masing-masing patung Mars dan patung Minerva, seolah-olah sebagai penjaga benteng Batavia.
  • Pintu gerbang ini bertahan sampai datangnya bala tentara Jepang (1942 – 1945). Tapi sejak itu, patung Mars dan Minerva yang terbuat dari perunggu lenyap diambil Jepang.
Bagikan :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.