Golok Betawi Jadi Obor Asian Games 2018


Halo Jakartans! Asian Games (AG) 2018 sudah berakhir. Pesta olahraga terbesar di Asia itu menyisakan memori tersendiri bagi masyarakat Indonesia dan dunia. Salah satu hal menarik yakni obor AG 2018 yang menggambarkan dua senjata tradisional asal Betawi dan skin asal Palembang.

Obor yang diarak di India (1 kota) dan Indonesia (50 kota) ini menampilkan budaya asli Indonesia. Tim desain Panitia Pelaksana dari AG 2018 ini menjelaskan, obor ini memiliki lebar 35-90 sentimeter, berat kosong 1.600 gram dan 1725 gram apabila terisi penuh bahan bakar serta tinggi 600 milimeter. Obor ini didominasi dengan warna perak serts menggunakan bahan bakar propane gas untuk menjaga api tetap menyala.

Ketua Panitia Pelaksana AG 2018, Erick Thohir mengatakan penempatan elemen grafis dua senjata itu melambangkan sebuah persatuan. “Asian Games 2018 tidak hanya sekadar ajang untuk mengejar prestasi, tapi sebuah ajang untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan kita. Diharapkan momen ini bisa kita manfaatkan bersama-sama seluruh lapisan masyarakat karena Asian games 2018 untuk Indonesia,” kata Erick.

Budayawan Betawi Ridwan Saidi mengapresiasi panitia pelaksana yang menjadikan golok sebagai dasar bentuk obor AG 2018. Hal ini memberikan dampak positif bagi budaya Betawi. Masyarakat Betawi juga pasti bangga bahwa budayanya dapat lebih dikenal di dunia. “Golok bagi masyarakat Betawi bukan hanya sebagai sebuah senjata tapi sebagai sebuah karya seni,” kata Ridwan.

Obor Asian Games 2018 yang menggambarkan  Golok Betawi dan Skin Palembang

Obor Asian Games 2018 yang menggambarkan Golok Betawi dan Skin Palembang (via Antara Foto)

Lalu, sejak kapan golok sudah ada di Jakarta? Menurut arkeolog Uka Tjandrasasmita, Jakarta sebagai penduduk natif Sunda Kelapa (Monografi Jakarta Raya dan Sekitarnya Dari Zaman Prasejarah Hingga Kerajaan Pajajaran, 1997) telah memiliki senjata tradisional yang belum terpengaruh kebudayaan asing sejak zaman Neolithikum atau zaman Batu Baru (3000 – 3500 tahun yang lalu). Hal ini dapat ditemukan pada bukti arkeologis di daerah Jakarta dan sekitarnya dimana terdapat aliran-aliran sungai besar seperti Ciliwung, Cisadane, Kali Bekasi, Citarum pada tempat-tempat tertentu sudah didiami.

Beberapa tempat yang diyakini berpenghuni masyarakat Betawi itu antara lain Cengkareng, Sunter, Cilincing, Kebon Sirih, Tanah Abang, Rawa Belong, Cililitan, Kramat Jati, Condet, Pasar Minggu, Pondok Gede, Tanjung Barat, Lenteng Agung, Cipete, Pasar Jumat, Karang Tengah, Ciputat, Pondok Cabe, dan Serpong. Golok menyebar hampir di seluruh wilayah Jakarta.

Golok merupakan senjata tajam yang populer di masyarakat Melayu serta berkembang di Nusantara. Dalam perkembangannya, golok juga merambah di pulau Jawa. Sebagian besar masyarakat di Pulau Jawa menamakan senjata tajam ini dengan nama “bacok”.

Golok di Betawi sangat dipengaruhi kebudayaan Jawa Barat. Perbedaan dapat dilihat dari model bentuk dan penamaannya, sedangkan kualitas dari kedua daerah ini memiliki kesamaan mengingat kerucut dari sumber pandai besi masyarakat Betawi mengacu pada tempat-tempat di Jawa Barat, seperti Ciomas (Banten), dan Cibatu (Sukabumi).

Tak hanya golok, beberapa alat-alat lainnya juga ditemukan dalam situs-situs itu, yakni kapak, beliung, pahat, dan pacul. “Masyarakat pada saat itu sudah mengenal pertanian atau perladangan dan peternakan. Bahkan juga mungkin telah mengenal struktur organisasi kemasyarakatan yang teratur,” ujar Uka.

Dalam perkembangannya, senjata ini berakar dari alat pertanian dan perkakas sehari. Senjata merupakan alat kepanjangan tangan manusia dalam pembelaan diri serta dipengaruhi oleh kebudayaan dan lingkungan alam. Karena itu, ada kesamaan model senjata antara satu daerah dengan daerah lain yang letaknya berdekatan. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Tiga Jenis Golok Betawi

Golok Gobag

Golok Gobag

Golok Gobag

Tembaga menjadi bahan utama pembuatan golok gobag. Bentuk dari golok ini cenderung pendek. Golok gobak memiliki bentuk ujung yang rata serta melengkung di bagian punggung golok.

Golok Ujung Turun

Golok Ujung Turun

Golok Ujung Turun

Golok ujung turun memiliki ujung yang lancip. Biasanya golok ini menggunakan wafak (ukir) pada bilahnya serta terdapat ukiran hewan pada gagangnya. Golok jenis ini sering dibawa dan diselipkan disarung oleh para jawara betawi.

Golok Betok

Golok Betok

Golok Betok

Golok ini menpunyai bentuk yang pendek dan bisanya berfungsi sebagai senjata pusaka. Golok jenis ini pun sering dibawa para jawara bersama golok ujung turun. Orang betawi menganggapnya pisau serut untuk mengasah golok ujung turun.

Bagikan :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.