HB Jassin, Kolektor Sastra Yang Tak Lekang Zaman


Halo Jakartans! Tanggal 28 Juni 1976, tepatnya 43 tahun lalu, menjadi momen penting yang tidak bisa dilupakan bagi Hans Bague Jassin, yang lebih dikenal dengan nama HB Jassin. Saat itu, pria kelahiran Gorontalo, 31 Juli 1917 itu yang hobinya mengoleksi buku sastra mendapat kemudahan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk bisa merawat dan mengelola koleksi buku kesusastraan pribadinya.

Jassin menggeluti pendokumentasian sastra ini dengan dana dan tenaga yang serba terbatas sejak ia mengembangkan minatnya akan dunia sastra dan pustaka pada tahun 1930-an, ketika usianya belum lagi 30 tahun. Dokumentasinya ini menggugah perhatian Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin yang akhirnya turun tangan untuk ikut memelihara kelestariannya agar dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang. Karena itulah Ali Sadikin kemudian memberikan tempat kepada H.B. Jassin di salah satu gedung yang terdapat di Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai lokasi Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) yang pengelolaannya sejak saat itu dilakukan dibawah Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin.

Gedung Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin berada dalam kompleks Taman Ismail Marzuki yang telah direvitalisasi

Gedung Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin berada dalam kompleks Taman Ismail Marzuki yang telah direvitalisasi (via indoplaces.com)

Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin didirikan pada 28 Juni 1976. Sejak tahun anggaran 1977 / 1978, Pemerintah Daerah DKI Jakarta memberikan subsidi kepada yayasan ini yang kemudian berganti nama menjadi Pusat Dokumentasi Sastra. Sementara itu, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan juga ikut mendukung pembiayaan lembaga ini pada tahun anggaran 1983 / 1984. Ada pula sumbangan-sumbangan lain dari para donatur tidak tetap.

Sastrawan Ajip Rosidi yang terlibat dalam pembentukan Yayasan HB Jassin, kemudian ikut terlibat dalam proses pembentukan PDS hingga pemindahan semua koleksi buku dan dokumen sastra ke dalam gedung PDS HB Jassin. Menurut Kepala Satuan Pelaksana PDS HB Jassin Diki Lukman Hakim, koleksi kesusastraan yang dimiliki HB Jassin pada saat itu tercecer ke sejumlah tempat, seperti kediaman Ajip Rosidi, rumah HB Jassin, rumah saudaranya, dan Gedung Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa yang dikelola di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI saat itu.

Di balik pemindahan koleksi berharga itu, ada peran tak ternilai yang ditunjukkan Sutan Takdir Alisjahbana yang saat itu menjadi salah seorang berpengaruh di Indonesia. Pada 1976, Sutan yang menjabat sebagai Ketua Akademi Jakarta ngotot untuk menjadi fasilitator antara pecinta sastra Jassin dengan Pemprov DKI.

“Sutan ini yang kemudian berjasa melahirkan komitmen Pemprov DKI untuk memberikan tempat dan memberikan sumbangan dana setiap tahun,” ucap Diki.

Koleksi Berharga

Diki menerangkan, banyaknya pihak yang berjuang di masa tersebut, tidak lain karena koleksi kesusastraan yang dimiliki HB Jassin sangat berharga dan langka. Tak main-main koleksi yang dimiliki oleh Jassin saat itu tidak hanya berasal dari periode awal kemerdekaan Indonesia saja hingga memasuki masa 1970-an, namun juga berasal dari periode sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.

Fakta tersebut tidak mengherankan, karena Jasin sudah dikenal oleh koleganya sebagai sosok yang gila membaca. Sejak Indonesia masih ada di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Belanda, dia sudah melahap banyak buku yang diterbitkan di masa tersebut. Padahal, usianya saat itu masih terbilang sangat muda, sekitar 20 tahun. Rentang usia tersebut, di masa tersebut sangat jarang yang menyukai buku.

Beragam koleksi kesusastraan dapat ditemukan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin

Beragam koleksi kesusastraan dapat ditemukan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin (via indonesiakaya.com)

Hobi membaca yang ditekuni Jassin itu berlanjut setelah Indonesia merdeka dan Jassin menjadi dosen di Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang saat itu kampusnya ada di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Saking sukanya membaca, Jassin saat itu dikenal sebagai dosen yang lupa mengajar karena keasyikan membaca.

Yang membuat koleksi sastra HB Jassin istimewa, karena tidak hanya buku, tapi ada juga dalam bentuk tulisan-tulisan di media massa, surat-surat, dan foto pribadi. Semua koleksi itu, kemudian diselamatkan dan menjadi kesatuan dalam PDS HB Jassin. Pada 2018, Satuan Pelaksana PDS HB Jassin mencatat koleksi sastra sudah mencapai 133.177 judul dengan 16.214 eksemplar. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

PDS HB Jassin

  • Pada 2018 mengalami revitalisasi gedung sejalan dengan revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM).
  • Bentuk koleksi : Buku-buku fiksi dan non fiksi, naskah drama, biografi, foto-foto pengarang, kliping, makalah, skripsi, disertasi, rekaman suara, dan rekaman video.
  • Ada koleksi tulisan asli penyair Chairil Anwar.
  • Sejak 24 Januari 2018, beralih kepemilikan dari Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin ke Pemprov DKI Jakarta.
Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.