Histori Musik Betawi dalam Jakarta Baru

Sebarkan artikel ini :

Halo Jakartans! Tahun ini, Kota Jakarta berusia 491 tahun. Sudah tidak muda, hampir mencapai 5 abad. Kota Jakarta berdiri 22 Juni 1527. Perjalanan panjang sudah ditempuh, yang tentunya sudah tertempa oleh lamanya waktu dan kelok liku pengalaman yang sudah teruji sejarah. Kini Jakarta tegak berdiri sebagai kota paling gagah, modern, dan mungkin paling dewasa. Sehingga, kita sebagai warga Jakarta bisa berkata lantang bahwa kita paling terbuka, dan siap menerima perbedaan. Perwujudan semua itu, Jakarta menjadi kota yang heterogen, multi etnis, multi kultur, multi bahasa, multi kepercayaan, dan lain-lain.

Sesuai letaknya di bandar yang strategis antara pelbagai pulau di Nusantara, dan dalam hubungan dengan negara lain, memungkinkan kota Jakarta cepat berkembang. Jakarta menjadi muara dari mengalirnya pendatang baru dari pelbagai kota di Nusantara dan dunia.

Etnik Betawi diduga sebagai penduduk yang paling awal mendiami kawasan Jakarta sejak abad ke-2. Dalam buku Penelusuran Sejarah Jawa Barat (Dinas Kebudayaan Jawa Barat, 1984) disebutkan sebuah kerajaan bernama Salakanagara yang didirikan oleh Aki Tirem berdiri di tepi Sungai Warakas, Jakarta Utara. Aki Tirem mengangkat menantunya Dewawarman menjadi raja.

Seni asli Betawi adalah perpaduan dari multikultur dan multi etnis

Seni asli Betawi adalah perpaduan dari multikultur dan multi etnis (via indonesiakaya.com)

Seorang pelawat Tiongkok bernama Fa Shien pada abad ke-5 mencatat kegiatan komunitas masyarakat yang mendiami daerah aliran sungai Ciliwung. Merekalah yang kemudian dikenal sebagai manusia Proto Melayu Betawi.

Jakarta kemudian dihuni oleh orang Sunda, Jawa, Bali, Maluku, Melayu, dan dari daerah lain seperti China, Belanda, Arab, dan Portugis. Mereka membawa adat istiadat serta tradisi budaya yang melebur sebagai identitas budaya dan kesenian yang lain lagi dengan bahasa Melayu dan Portugis sebagai komunikasi antar penduduk. Ini menjadikan Jakarta sebagai melting pot kebudayaan dan kesenian dari berbagai penjuru dunia dan nusantara. Pendatang atau penghuni baru ini kemudian saling mempengaruhi, melebur dan menjadi identitas baru masyarakat Betawi atau orang Betawi.

Pengaruh atau hasil leburan tradisi dan kultur itu bisa muncul dalam bentuk seni musik. Juga dalam seni lainnya yang tak mungkin terhindarkan, baik dari budaya Eropa, China, Arab, Melayu, Sunda, dan lain-lain. Beberapa pengaruh pada musik etnis ini, antara lain :

1. Gambang Kromong

Nama Gambang Kromong diambil dari alat musik gambang dan kromong. Merupakan perpaduan unsur pribumi dan China. Unsur pribumi seperti gong, kumpul, gendang, gong enam, kecrek, dan ningnong. Unsur China seperti tehyan, kongahyan, dan sukong. Pada awalnya memang merupakan musik China peranakan, namun pada awal abad ke-20 mulai diciptakan lagu dalam bahasa Betawi.

2. Gambang Rancag

Gambang Rancag disebut sebagai pertunjukan musik sekaligus teater bahkan sastra. Cerita yang dibawakan berupa pantun berkait dengan iringan musik gambang. Pergelaran gambang rancag terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian pembukaan, lagu hiburan, dan rancag. Setiap pemain tidak hanya harus pintar menyanyi tetapi  juga harus pintar berpantun serta hafal jalan cerita yang dibawakan.

3. Gamelan Ajeng

Merupakan musik folklor Betawi yang mendapat pengaruh dari musik Sunda. Alat musik gamelan ajeng terdiri dari kromong sepuluh pencin, terompet, gendang, dua saron, bende, cemes, kecrek, kadang juga dilengkapi dengan dua gong laki dan gong perempuan. Biasanya digunakan untuk memeriahkan hajatan khitanan dan perkawinan.

4. Gamelan Topeng

Gamelan topeng digunakan untuk mengiringi topeng Betawi, merupakan penyederhanaan dari gamelan lengkap terdiri dari : rebab, sepasang gendang besar dan kecil, ancang kenong berpencong tiga, kecrek, kempul yang digantung, dan sebuah gong tahang atau gong angkong. Gamelan topeng bisa dibawa berkeliling terutama pada saat perayaan tahun baru Masehi atau Imlek.

5. Keroncong Tugu

Keroncong tugu dahulu disebut Cafrinho Tugu. Orang keturunan Portugis (Mestizo) telah memainkan musik ini dari tahun 1661. Pengaruh Portugis dapat diketahui dari jenis irama lagunya seperti Moresko, Frounga, Kafrinyo, dan Nina Bobo. Keroncong Tugu berirama lebih cepat daripada keroncong pada umumnya. Irama yang lebih cepat disebabkan alat musik ukulele sementara keroncong Solo dan Yogya berirama lebih lambat. Keroncong tugu dimainkan oleh 3 sampai 4 orang pada awalnya hanya dengan tiga buah gitar, tapi berkembang dengan penambahan suling, biola, rebana, mandolin, cello, kempul, dan triangle.

6. Tanjidor

Musik Tanjidor diduga berasal dari bangsa Portugis yang datang ke Betawi pada abad ke-14 sampai 16. Ahli musik dari Belanda bernama Ernst Heinz mengatakan Tanjidor asalnya dari musik yang dimainkan oleh para budak pada masa kolonial. Alat musik yang digunakan : klarinet, piston, trombon, tenor, bas, terompet, bas, drum, tambur, simbal, dan lain-lain.

7. Orkes Samrah

Samrah telah berkembang di Jakarta sejak abad ke-17 asal dari Melayu. Kata samrah berasal dari kata samarokh ayang yang artinya berkumpul atau pesta. Dalam kesenian Betawi, samrah menjadi orkes samrah dan tonil samrah, serta tari samrah. Orkes samrah adalah ansabel musik Betawi. Instrumen musiknya antara lain harmonium, biola, gitar, string bas, tambourin, marakas, banyo, dan bas betot.

8. Rebana

Rebana merupakan kesenian yang cukup populer di Jakarta yang berasal dari bahasa Arab Robbana (Tuhan kami), sebutan ini muncul karena musik ini sering muncul mengiringi lagu bernafaskan Islam. Berdasarkan jenis alat, sumber syairnya, wilayah penyebarannya dan latar belakang sosial pendukungnya, Rebana Betawi terdiri beberapa nama dengan bentuk ukuran dan fungsi masing-masing yang digunakan dalam suatu kegiatan seni / tradisi maupun keagamaan, antara lain meliputi :

  • Rebana Biang
  • Rebana Ketimpring
  • Rebana Ngarak
  • Rebana Maulid
  • Rebana Hadroh
  • Rebana Dor
  • Rebana Kasidah
  • Rebana Maukhid
  • Rebana Burdah

9. Orkes Gambus

Dahulu dikenal dengan nama irama padang pasir, pada tahun 1940-an. Tanpa gambus pada pesta perkawinan atau khitanan terasa kurang meriah. Peralatan musik gambus bervariasi tetapi yang baku terdiri dari gambus, biola, dumbuk, suling, organ, atau akordion, dan marawis. Awalnya orkes gambus dibawakan dengan lagu syair berbahasa Arab, untuk mengiringi tarian Japin biasanya ditarikan oleh laki-laki berpasangan.

10. Sampyong

Sebagai orkes tanpa laras, sampyong merupakan musik rakyat Betawi pinggiran yang sederhana daripada musik Betawi lainnya. Diambil dari nama salah satu alat musik, yaitu sampyong semacam kordofan bambu berdawai dua utas.

11. Marawis

Marawis adalah salah satu jenis ‘band tepok’ dengan perkusi sebagai alat musik utama. Ada tiga jenis, pertama perkusi rebana, kadang tertutup dan papan tepok.

Pelbagai seni Betawi tersebut hingga kini masih ada, meski diantara seni-seni itu perkembangannya tidak seperti yang diharapkan. Ibarat pepatah, hidup segan mati tak hendak. Namun para pemerhati, pecinta, utamanya tokoh Betawi tentu terus berupaya melestarikannya, dan mengembangkannya dalam nafas Jakarta Baru yang ingin menguatkan identitas Betawi di Buminya sendiri. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.