Jakarta Tempo Dulu, Dari Tarumanagara hingga Pangeran Jayakarta

Sebarkan artikel ini :

Halo Jakartans! Kota Jakarta tempo dulu pernah menjadi wilayah kekuasaan tiga kerajaan besar di Jawa Barat. Kerajaan Hindu Tarumanagara, Kerajaan Pajajaran, dan Kesultanan Banten. Berdasarkan catatan sejarah, jauh sebelum itu sudah ada manusia zaman prasejarah yang tinggal di kawasan yang kini bernama Jakarta.

Data arkeologis berupa kampak batu, alat-alat rumah tangga dari batu, dan sebagainya yang ditemukan di sejumlah tempat memperkuat fakta tersebut. Antara lain di kawasan Pasar Minggu, Condet, Pasar Rebo, Jatinegara, Karet, Kebon Sirih, Kebon Nanas, Kebon Pala, Rawa Belong, Rawa Lele, dan sebagainya. Hasil temuan itu sekaligus menunjukkan bahwa sekitar 1.500 Sebelum Masehi, terbukti telah ada kebudayaan manusia di kawasan Jakarta.

Pada abad ke-5 Masehi, berdiri Kerajaan Tarumanagara di bawah pemerintahan Raja Purnawarman. Wilayah kekuasaannya meliputi wilayah Bekasi, Jakarta, Bogor, Banten, dan Citarum. Diperkuat lagi dengan tujuh prasasti yang ditemukan di Bogor, Banten, dan Jakarta. Prasasti Ciaruteun, Jambu, Kebon Kopi, Pasir Awi, Muara Cianten, Lebak, dan Prasasti Tugu.

Prasasti Tugu sebagai peninggalan kerajaan Tarumanagara

Prasasti Tugu sebagai peninggalan kerajaan Tarumanagara (via wikimedia.org)

Prasasti Tugu ditemukan pada 1878 di Kampung Batu Tumbuh, Desa Tugu, Kelurahan Semper, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Prasasti Tugu, merupakan prasasti terpanjang dan terpenting, karena banyak memberi keterangan dan petunjuk tentang kerajaan Hindu tertua di Pulau Jawa, yakni Tarumanagara dibandingkan dengan enam prasasti lainnya yang pada 1961 prasasti-prasasti tersebut dipindahkan ke Museum Pusat (Museum Gajah) di Jl. Medan Merdeka Barat No.12, Jakarta Pusat.

Keterangan mengenai kerajaan Tarumanagara, diperkuat pula oleh catatan Fa-Hsien, seorang musafir China yang terdampar di Ye-p’oti dalam perjalanan pulang dari India sekitar 414 Masehi. Menurut para pakar sejarah, Ye-p’oti  tiada lain adalah Jawadwipa atau Pulau Jawa. Dalam bukunya “Tsu Kyu Ki”, Fa-Hsien yang singgah sekitar 5 bulan di Ye-p’oti  mencatat bahwa mereka ditemui banyak brahmana. Namun, hingga abad ke-14 Masehi, tak terdapat catatan lagi mengenai perkembangan kerajaan Tarumanagara.

Pelabuhan Utama Pajajaran

Pada abad ke-14 Masehi, muncul kerajaan baru di Jawa Barat, Pajajaran yang berpusat di Pakuan, Bogor. Rajanya bernama Sri Baduga Maharaja. Raja-raja yang memerintah Pajajaran sejak 1357 hingga reruntuhannya pada 1579 antara lain Prabu Maharaja (1350-1357), Rahiyang Bumo Suro (1357-1363), Prabu Niskala Wastukencana (1363-1467), Rahiyang Dewa Niskala (1467-1474), Sri Baduga Maharaja (1474-1513), Prabu Surawisesa (1513-1527), Prabu Ratu Dewata (1527-1535), Sang Ratu Saksi (1535-1543), Prabu Ratu Carita (1543-1559), Nu Si Ya Mulya atau Prabu Sedca (1559-1579).

Menurut prasasti Batu Tulis yang ditemukan pada 15 Juni 1960, dijelaskan bahwa pelabuhan Pajajaran bernama Sunda Kalapa (sekarang Sunda Kelapa), terletak di muara sungai Ciliwung. Keterangan wajah Sunda Kalapa ini diperkuat pula keterangan seorang pelaut Belanda, Jan Huygen van Linchoten, yang menemukan rahasia-rahasia perdagangan dan navigasi bangsa Portugis. Dalam karyanya, Itinerario yang terbit pada 1556, ternyata berhasil menggemparkan bangsa Eropa, karena mengungkapkan informasi-informasi rahasia yang sangat berharga itu antara lain ditulisnya ; ‘Pelabuhan utama di Pulau ini (Djawa) adalah Sunda Calapa. Di tempat ini didapati sangat banjak lada jang bermutu lebih tinggi daripada lada India atau Malabar. Djuga terdapat banjak kemenjan, benicin, atau bonien (bunga pala), kamper, dan permata intan. Tempat ini dapat disinggahi tanpa menemui kesulitan. Orang Portugis telah sampai djuga ke sini. Dan orang Djawa berbondong-bondong datang sendiri sampai ke Malaka untuk mendjual barang-barang dagangannja.’

Prasasti Batu Tulis di Bogor

Prasasti Batu Tulis di Bogor (via wikipedia.org)

Laporannya lebih banyak mengungkap mengenai Banten daripada Sunda Kalapa. Namun keterangan yang sedikit ini dapat memberikan penjelasan berharga tentang letak pelabuhan utama kerajaan Pajajaran di muara sungai Ciliwung tersebut. Dan para pengunjung Belanda paling awal menulis tentang Sunda Kalapa. Antara lain sebagai berikut ; ‘Kota ini dibangun seperti kebanjakan kota-kota di Pulau Djawa. Rumah-rumahnja terbuat dari kaju dan anjaman bambu. Konstruksinja buruk dan sangat kotor. Kelihatannja seperti desa sadja. Sebuah sungai indah mengalir di tengah kota. Airnja segar dan menjenangkan. Tanahnja rendah namun indah dan selalu terbajang-bajang dalam pikiran kita. Radja dapat mempersendjatai 4.000 orang dari penduduk kota. Istananja indah dibangun dengan pagar bamboo runtjing dan mempunjai lebih dari satu gerbang masuk. Empat atau lima buah kapal radja tampak berlabuh dengan tutup diatasnja. Konstruksi kapal menjerupai kapal Djawa, jaitu tempat untuk para pengajuhnja terletak di bagian bawah dan di bagian atas untuk pradjurit-pradjurit. Radja hanya mampu mendjual 300 kantong lada setahun, tetapi bermaksud meningkatkan djumlah ini.’

Diperoleh keterangan bahwa Sunda Kalapa terletak di sepanjang satu hingga dua kilometer di atas lahan sempit yang dibersihkan di kedua tepian muara sungai Ciliwung, dekat teluk yang terlindung oleh sejumlah pulau. Sungai Ciliwung memungkinkan sepuluh buah kapal dagang masa itu dengan kapasitas sampai 10 ton dapat masuk dan berlabuh dengan aman. Kapal dagang dengan kapasitas 500 ton hingga 1.000 ton ke atas harus berlabuh di depan pantai.

Dikatakan pula bahwa air sungai Ciliwung saat itu mengalir bebas, tidak berlumpur, tenang, dan belum tercemar. Para kapten kapal singgah untuk mengambil air segar yang cukup baik, mengisi botol dan guci-gucinya. Sedangkan pedagang pribumi menyediakan bagi mereka, ikan segar dan ikan asin yang cukup. Pepohonan kelapa dan ladang tebu serta sawah rakyat dekat pelabuhan cukup menjamin persediaan bahan pangan, disamping arak yang juga melimpah.

Kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa masa kini

Kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa masa kini (via travelingyuk.com)

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa kawasan tepian Muara Sungai Ciliwung, termasuk yang kini disebut Kali Besar, sudah merupakan daerah hunian dan permukiman penduduk sekaligus kawasan perdagangan yang ramai. Rumah-rumah mereka terbuat dari bambu, gedek, dan beratap rumbia. Kawasan seputar Sunda Kalapa masih merupakan daerah rawa yang dipenuhi hutan belukar. Berbagai binatang liar dan buas masih menghuni kawasan hutan tersebut, seperti buaya, ular sanca, badak, harimau, banteng, dan sebagainya.

Keterangan itu diperkuat pula oleh berita-berita orang Portugis, terutama catatan Tome Pires, yang mengabarkan bahwa kerajaan Pajajaran memiliki sejumlah kota pelabuhan. Antara lain Bantam (Banten Girang), Tangaram (Tangerang), Chemano (Cimanuk), Pondam (Pontang yang terletak di sungai Cipontang, ujung timur Teluk Banten), Cheguide (diperkirakan Cigede atau Cikandi) serta Calapa (Sunda Kelapa), yang merupakan pelabuhan penting Pajajaran.

Seorang Portugis lainnya, Baros, memberikan gambaran tentang jumlah penduduk Pajajaran saat itu, 100.000 jiwa. Baros memperkirakan jumlah penduduk yang bermukim di setiap Pelabuhan Pajajaran berkisar antara 10.000 jiwa. Demikian halnya dengan Sunda Kalapa, diperkirakan berpenduduk 10.000 jiwa. Sementara berita-berita orang Portugis pun mencatat bahwa Sunda Kalapa (Cumda Calapa, menurut orang Portugis), menghasilkan 1.000 bahan lada, di samping beras, asam, emas, sayur-sayuran, sapi, babi, kambing, serta berbagai jenis buah-buahan.

Peta Kerajaan Pajajaran di Pakuan

Peta Kerajaan Pajajaran di Pakuan (via siloka.com)

Pada 1511, Malaka diduduki Portugis di bawah pimpinan Alfonso D’Albuquerque. Dua tahun kemudian, pada 1513, Pangeran Sabrang Lor atau Pati Unus dari Kesultanan Demak mencoba menggempur Malaka untuk mengusir Portugis, namun gagal. Gubernur Jenderal Portugis di Malaka, D’Albuquerque bahkan pada 1522 mengutus Henrique Leme untuk mengadakan hubungan persahabatan dengan Sang Hyang yang bertahta di Pajajaran. Sang Hyang ini, lalu dikenal sebagai Prabu Surawisesa. Pada 21 Agustus 1522, dibuatlah perjanjian yang antara lain berupa izin bagi Portugis untuk mendirikan benteng di Pelabuhan Sunda Kalapa.

Perjanjian ini ditandai dengan penanaman “Padrao” (baca: padrong), di atas tanah yang akan dibuat benteng. Batu peringatan Padrao ini berhasil ditemukan kembali pada 1918, saat diadakan penggalian untuk mendirikan gudang di bilangan Jl. Cengkeh, Jakarta Kota sekarang. Kini Padrao tersebut terpajang di depan Ruang Sejarah Museum Pusat Jl. Medan Merdeka Barat No.12 Jakarta Pusat.

Wajah Bandar Jayakarta

Kesultanan Demak yang pada 1513 gagal menyerang Portugis di Malaka, melihat perjanjian persahabatan antara Portugis dan Pajajaran ini sebagai ancaman. Maka Sultan Trenggono yang memerintah Demak (1521-1546) pada 1527 mengirim pasukan di bawah pimpinan Fatahillah atau Falatehan untuk menyerang Portugis di Sunda Kalapa. Pada 22 Juni 1527, armada Portugis berhasil dikalahkan Fatahillah. Lalu mengganti nama Sunda Kalapa dengan nama Jayakarta, yang artinya Kota Kejayaan atau Kota Kemenangan. Tanggal 22 Juni itu pula yang kemudian menjadi tanggal Hari jadi Kota Jakarta yang kini telah berusia 491 tahun.

Fatahillah, senopati dari Demak ini kemudian diangkat menjadi Bupati Jayakarta. Secara hierarkhis, Bupati Jayakarta bertanggung jawab kepada Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunungjati, wali yang berkedudukan di Cirebon. Setelah Sunan Gunungjati wafat pada 1568, putranya, Maulana Hasanuddin menjadi Sultan di Banten dan Jayakarta menjadi wilayah Kesultanan Banten.

Gambaran sosok Pangeran Jayakarta di Museum Bahari

Gambaran sosok Pangeran Jayakarta di Museum Bahari (via merdeka.com)

Ternyata, Fatahillah tidak lama menjabat Bupati Jayakarta, lalu menyerahkan kekuasaannya kepada Tubagus Angke, menantu Sultan Hasanuddin yang memerintah di Jayakarta (1564-1596). Tubagus Angke kemudian menyerahkan kekuasaannya kepada putranya, Pangeran Jayakarta Wijayakrama yang juga dikenal dengan nama Pangeran Jayawikarta yang memerintah pada 1656 hingga 1619. Walau status Jayakarta hanya kabupaten dari Kesultanan Banten, dalam pelaksanaan pemerintahannya sehari-hari, Jayakarta lebih tampak sebagai sebuah wilayah otonom.

Hal ini dapat dilihat pada kewenangan Pangeran Jayakarta dalam melakukan perjanjian, baik dengan pihak Belanda maupun Inggris. Sementara, di mata pihak Belanda maupun Inggris, Pangeran Jayakarta yang berstatus bupati disebut “Regent” atau “Koning van Jayakarta” atau “King of Jaccatra”. Sebuah status yang disamakan kedudukannya sebagai seorang Raja dan ia memiliki sejumlah pejabat, seperti Patih, Syahbandar, dan lain-lainnya.

Pada masa pemerintahan Pangeran Jayakarta, pihak Serikat Dagang belanda (VOC) dan Inggris berhasil membuat perjanjian dengannya. Mereka bahkan diizinkan untuk mendirikan gudang atau loji-loji di Jayakarta. Kemudahan yang diberikan Pangeran Jayakarta tersebut, ternyata belakangan menjadi bumerang langsung buat Jayakarta.

Untuk mengetahui letak dan bagaimana tampang wajah kota Jayakarta, J.W. Ijzerman telah membuat sebuah rekonstruksi peta Jayakarta, berdasarkan bahan-bahan keterangan yang terdapat dalam sumber-sumber Portugis dan VOC. Peta Kota Jayakarta ini merupakan hasil rekonstruksi perkiraan keadaan pada 1619.

Peta Jayakarta hasil rekonstruksi dari Ijzerman

Peta Jayakarta hasil rekonstruksi dari Ijzerman (via slideplayer.info)

Menurut Ijzerman, Kota Jayakarta terbentang antara dua anak sungai di utara mengalir Ciliwung dan dilingkungi pagar terbuat dari bambu. Belakangan baru sebagian pagar diganti dengan tembok untuk menghadapi kemungkinan serangan Inggris dan Belanda. Kompleks pusat kota terletak di tepi barat Ciliwung. Di pusat kota ini terdapat antara lain “Dalem” atau “Keraton” Pangeran Jayakarta.

Di depan Keraton, terbentang alun-alun ke utara. Di sebelah barat alun-alun berdiri sebuah masjid. Di sebelah utara alun-alun terdapat sebuah pasar, yang berada di luar komplek pusat kota. Seputar pasar dan komplek Keraton, terdapat perumahan rakyat. Di sebelah utara pasar, masih di tepi barat Ciliwung, berdiri Loji dan benteng Inggris. Paling utara terdapat Paep Jan’s Batterij atau Pabean. Dalam peta Batavia tahun 1619, terlihat bahwa di sebelah barat Keraton Jayakarta terdapat kuburan pribumi.

Di tepi sebelah timur muara sungai Ciliwung, terdapat wilayah Kyai Arya, Patih Pangeran Jayakarta. Di sebelah utara, berdiri rumah seorang China yang disebut Watting’s Huis. Diperkirakan di sekitar tempat ini terdapat perumahan bangsawan Jayakarta lainnya serta permukiman warga China. Paling utara, tepat di sebelah tepian timur Ciliwung, berdiri loji Belanda, Mauritius dan Nassau.

Wajah terkini dari Kali Besar Kota Tua setelah revitalisasi

Wajah terkini dari Kali Besar Kota Tua setelah revitalisasi (via jiromedia.com)

Disebut juga dalam peta tersebut bahwa di sebelah timur permukiman Kyai Arya, terbentang areal perburuan bagi bangsawan Jayakarta. Dengan demikian, baik di sebelah timur maupun barat Sungai Ciliwung (kini Kali Besar), terdapat perumahan penduduk Jayakarta. Menurut laporan orang Belanda yang pertama kali datang pada 13-16 November 1596, diperkirakan jumlah penduduk Bandar Jayakarta sekitar 3.000 keluarga. Pada 1619 disebutkan bahwa jumlah penduduk Kota Jayakarta terutama laki-laki sekitar 7.000 orang.

Pada masa pemerintahannya, Pangeran Jayakarta membuka luas pintu perdagangan bagi berbagai bangsa. Dari negeri Keling, Bombay, China, Belanda, Inggris, Gujarat, Abesina, Persia, Arab serta bangsa-bangsa kawasan Asia Tenggara. Dari kawasan Nusantara yang ikut meramaikan Bandar Jayakarta antara lain, Aceh, Tidore, Ternate, Hitu, Kepulauan Maluku, Tuban, Demak, Cirebon, Banten, dan sebagainya. Selain berdagang beras, ikan, sayur-sayuran, dan buah-buahan, banyak pula diperdagangkan pula tuak yang dijual kedalam tempayan-tempayan besar.

Peta Ijzerman juga menjelaskan, paseban dari Pangeran Jayakarta terletak antara Kali Besar Barat dan Jl. Roa Malaka sekarang. Setelah VOC menghancurkan Jayakarta, di atas bekas paseban Jayakarta itu dibangun loji Inggris. Namun loji itu terbakar saat pasukan Sultan Agung menyerang Batavia pada 1628. Lokasi itu lalu dibangun gereja Portugis Dalkam yang juga telah lenyap pada akhir abad ke-18. Di lokasi itu kini telah penuh dengan gedung perkantoran. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

 

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.