Jejak Misionaris di Timur Jakarta


Gereja Koinonia

Halo Jakartans! Sebelum berkembang menjadi kawasan Pecinan, Meester Cornelis (kini Jatinegara) merupakan kawasan permukiman bagi para sultan dan pejabat di bawah Kesultanan Banten. Saat itu, kebudayaan Jatinegara masih kuat dipengaruhi kebudayaan Sunda di bawah Kesultanan Banten.

Dalam perkembangannya, wilayah Jatinegara pun mulai meluas dan dihuni beragam orang. Jatinegara menjadi kota perdagangan sekitar 1661, ketika seorang guru agama Kristen yang berasal dari Banda, Maluku, Meester Cornelis van Senen membeli sebidang tanah di Jatinegara yang berada di sekitar aliran sungai Ciliwung. Cornelis seringkali menyebut wilayah ini dengan nama Meester Cornelis atau Mester. Sebagai seorang misionaris, Cornelis kemudian mulai menyebarkan agama Kristen di Jatinegara. Kemampuannya dalam memimpin jemaat mengundang warga dari berbagai penjuru kota untuk datang ke Jatinegara.

Termasuk, Keuchenius, mantan Ketua Mahkamah Tinggi Batavia yang saat itu kecewa saat beribadah di sebuah gereja kecil di Willemsker atau sekarang dikenal sebagai Gereja Immanuel di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. Kekecewaan Keuchenius muncul, karena pendeta yang memimpin ibadah menyampaikan paham liberal yang saat itu masih sangat kontroversial.

Akhirnya, karena merasa tidak cocok, Keuchenius menyumbang dana cukup besar untuk membangun rumah peribadatan di kawasan Meester Cornelius. Merujuk berbagai sumber, awal pembangunan gereja dilaksanakan pada 28 Maret 1889 dan bentuknya masih sederhana saat itu. Pada 1911, Keuchenius kembali menyumbang dana untuk merenovasi gereja hingga selesai pada 1916.

Saat berdiri dan setelah direnovasi, gereja yang ada di tengah kawasan Meester Cornelis itu dikenal sebagai Bethelkerk in Meester Cornelis te Batavia atau biasa disingkat menjadi Gereja Bethel yang berarti Rumah Tuhan. Keberadaan gereja tersebut diakui di Batavia karena saat itu, selain Meester Cornelis yang menjadi salah satu tokoh agama Kristen, juga karena gereja tersebut menjadi yang pertama di Timur Jakarta.

Gereja Koinonia memiliki denah yang dipengaruhi aturan geometrik

Gereja Koinonia memiliki denah yang dipengaruhi aturan geometrik (via infojakartakita.blogspot.com)

Cornelis meski kaya raya dan pindah dari Pulau Lontar atau kini dikenal dengan nama pulau Banda Besar, Maluku, saat itu dikenal sebagai sosok membumi dan ramah. Dia juga belajar bahasa Melayu yang saat itu menjadi bahasa warga Jakarta (Batavia, red). Dengan keterampilannya itu, tak heran dia biasa berkhotbah dengan bahasa Melayu.

Setelah melewati tiga pemerintahan, yakni Belanda, Jepang, dan Indonesia awal, Gereja Bethel kemudian mendapatkan nama resmi menjadi Koinonia, diambil dari bahasa Yunani yang berarti persekutuan. Dari situs web GPIB Jemaat Koinonia dikatakan bahwa nama gereja mulai disematkan sejak 1 Januari 1961. Sebelumnya, gereja itu pernah dinamakan GPIB Bethel Jemaat Djatinegara.

Tampak depan dari Gereja Koinonia di Jatinegara

Tampak depan dari Gereja Koinonia di Jatinegara (via cagarbudaya.kemdikbud.go.id)

Gereja Koinonia mengadopsi arsitektur vernakular, yaitu arsitektur yang dirancang berdasarkan kebutuhan lokal, ketersediaan bahan bangunan, dan mencerminkan tradisi dan adat istiadat lokal. Selain itu, bangunan gereja juga mengadopsi atap bergaya Belanda (gable) dan juga menempatkan tanda Salib pada struktur bangunan atap segi tiga (pediment tympanum).

Sebagai bangunan bersejarah, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian mengelompokkan Gereja Koinonia dalam kategori Benda Cagar Budaya (BCB) sejak 30 September 1997 atau lima tahun sejak diajukan untuk masuk BCB. Pada 2005, Gereja Koinonia mendapat plakat dari Pemprov DKI sebagai bangunan sadar pelestarian budaya untuk pemeliharaan dan pemugaran lingkungan dan BCB.

Gereja Koinonia juga menjadi satu dari 60 bangunan terpilih yang menjadi bangunan penting dalam sejarah perkembangan Jakarta. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Bagikan :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.