Kali Besar, Simbol Kejayaan Kota Tua Jakarta


Kali Besar kini berubah drastis dari yang dulunya kotor dan kumuh

Kali Besar kini berubah drastis dari yang dulunya kotor dan kumuh (via forum.lowyat.net)

Halo Jakartans! Keindahan Kali Besar yang telah selesai direvitalisasi, mengundang decak kagum masyarakat. Tak hanya dari DKI Jakarta, tapi juga datang dari warga diluar DKI. Semuanya sepakat menilai Kali Besar saat ini, tak hanya indah, namun juga berhasil mengembalikan nilai sejarah yang pernah ada di masa lalu.

Pemerhati Sejarah Alwi Shahab mengungkapkan di abad ke-17 dan 18, Kali Besar menjadi pusat jalur lalu lintas perdagangan di Jakarta. Jalur tersebut, di masa tersebut menjadi salah satu yang teramai di nusantara. Ini terbukti dengan masuknya kapal-kapal dari negara lain dan melakukan bongkar muat kapal di Kali Besar yang menjadi muara pelabuhan Sunda Kelapa.

Sebagai salah satu kawasan sibuk, Kali Besar di masa lalu selalu menjadi tempat tujuan utama dari kapal-kapal dan perahu-perahu yang datang dari seluruh nusantara dan mancanegara. Tak hanya sekadar berkunjung ke Batavia, kapal dan perahu juga berlabuh dengan membawa barang-barang kebutuhan pokok untuk masyarakat. “Para pedagang dan pembeli kemudian saling berinteraksi tawar menawar tanpa menghadapi kesulitan berkomunikasi,” ujar Alwi.

Kejayaan Kali Besar si zaman kolonial Belanda, digambarkan Alwi, sebagai salah satu infrastruktur terbaik yang pernah dimiliki Jakarta. Di masa itu, keindahan Kali Besar digambarkan sebagai kali yang memiliki aliran air yang jernih dan bersih. Kejernihan itu, membuat orang Belanda yang tinggal di Batavia, banyak yang meminum air dari Kali Besar.

Keindahan wajah Kali Besar di masa kini setelah revitalisasi

Keindahan wajah Kali Besar di masa kini setelah revitalisasi (via jiromedia.com)

 

Kali Besar cocok untuk ber-swafoto

Kali Besar cocok untuk ber-swafoto (via forum.lowyat.net)

Tak cukup disitu, Kali Besar di masa kolonial juga dikenal sebagai jalur transportasi air yang sangat indah. Dengan Kali Besar di masa tersebut pernah mendapat julukan sebagai Venesia dari Timur. Julukan tersebut bisa jadi muncul, karena kanal yang ada di Venesia sangat indah dan bersih. Tetapi, Venesia berlokasi di Eropa dan Kali Besar di Asia.

Dengan segala keindahan yang dimiliki, Belanda kemudian menasbihkan Kali Besar sebagai Koningen van het Oostenb atau Ratu dari Timur. Julukan itu diberikan, karena di masa tersebut Kali Besar menjadi primadona kawasan industri, jasa, dan perdagangan, serta sekaligus permukiman bagi warga Batavia yang berasal dari Eropa dan pribumi.

Terintegrasi

Pada zamannya, Kali Besar menjadi kawasan tak terpisahkan dari Pelabuhan Sunda Kelapa. Keduanya termasyhur sebagai pusat kegiatan perniagaan yang diminati dari berbagai negara seperi Portugis, Inggris, dan Belanda. Ketiga negara yang dulu sangat berkuasa di dunia itu, saling berebut untuk mendapatkan paket Kali Besar dan Sunda Kelapa yang menjadi tempat pengiriman rempah-rempah Indonesia ke luar negeri.

Tercatat, saat itu ada banyak kantor, bengkel, hingga gudang yang dimiliki perusahaan-perusahaan dari Belanda dan menjadikan Kali Besar sebagai kawasan untuk membuka perwakilan kantornya. Perusahaan-perusahaan tersebut, menilai Kali Besar sebagai tempat strategis untuk menjalankan usaha dan karenanya mereka membangun gedung-gedung cantik dan bergaya kolonial, ataupun Eropa.

Anda dapat berjalan santai menikmati pemandangan Kota Tua di sepanjang Kali Besar

Anda dapat berjalan santai menikmati pemandangan Kota Tua di sepanjang Kali Besar (via forum.lowyat.net)

 

Kali Besar menjadi destinasi wisata lokal baru bagi warga Jakarta

Kali Besar menjadi destinasi wisata lokal baru bagi warga Jakarta (via forum.lowyat.net)

Bekas gedung-gedung tersebut, hingga sekarang masih bisa dilihat secara langsung dan posisinya masih menghadap Kali Besar. Di masa lalu, Kali Besar yang lokasinya ada di tepian muara sungai Ciliwung, biasa juga disebut dengan nama de Groote Rivier. Alwi Shahab menyebutkan, di depan muara sungai Ciliwung, saat itu terdapat sebuah jembatan bernama Kota Intan dan diduga nama tersebut berasal dari nama benteng Intan yang ada di sekitarnya.

Setelah menjadi kawasan populer di masa pemerintah Belanda, pamor Kali Besar semakin tak terbendung. Di awal masa pemerintahan Hindia Belanda, kawasan tersebut sempat menjadi tempat para nyonya besar istri para pengusaha dan pejabat orang Belanda, dan para nyai Belanda perempuan pribumi yang menikah dengan orang Belanda untuk sekadar berjalan-jalan.

Menurut Alwi, kebiasaan yang diperlihatkan nyonya besar di masa tersebut, mencerminkan bahwa kehidupan di negeri asal mereka, Belanda di bawa utuh ke Batavia yang saat itu memiliki alam dan kekayaan yang berbeda. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Bagikan :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.