Kekhasan Sayur Babanci, Asli Betawi !


Halo Jakartans! Salah satu keunikan kuliner ini adalah dari namanya, Babanci. Ada yang merujuk pada “jenis kelamin” kuliner ini. Apakah soto atau gule? Namun ada yang mengaitkannya berdasar pengkonsumsi Babanci di masa lampau, Babah dan Enci. Tapi sejatinya, semangkuk babanci mencerminkan keberagaman tradisi budaya kuliner yang tumbuh dan berkembang di tanah Batavia.

Dalam penyajiannya, sayur babanci ini disajikan menggunakan potongan ketupat dalam mangkuk atau piring yang kemudian disiram dengan sayur babanci. Sehingga sajian kuliner khas Betawi ini sebenarnya lebih dekat dengan istilah ketupat babanci. Namun demikian, sebagian masyarakat terlanjur menyebutnya dengan sayur babanci. Meskipun ada juga yang menyebut dengan ketupat Babanci.

Ketupat atau sayur Babanci ini sejatinya merupakan sebuah sup daging dengan bahan dasarnya adalah kelapa, daging sapi bagian kepala, dan aneka rempah. Keunikan ketupat atau sayur Babanci ini terletak pada penggunaan kelapa yang sangat melimpah. Buah kelapa tidak hanya digunakan sebagai santan untuk kuah. Daging buah kelapa juga menjadi isian dari sayur Babanci lengkap dengan kelapa parut yang disangrai.

Kekhasan atau keunikan ini dari kuliner khas Betawi yang satu ini adalah penggunaan rempah yang sangat kaya ragam. Setidaknya ada 21 jenis rempah-rempah khas di Babanci. Sebagian kini mulai langka dipasar seperti sejenis benalu berbentuk sulur berwarna kuning, botor, dan lain sebagainya.

Secara fisik, sayur atau ketupat Babanci serupa dengan gulai khas Melayu dengan unsur penggunaan kelapa yang begitu kuat mendominasi. Namun rasa sayur Babanci lebih “kaya” dibandingkan dengan gulai. Campuran beragam bumbu-bumbu rempah membuat ketupat Babanci ini lebih kaya rasa. Bahkan cenderung dekat dengan kari khas India dan Arab meskipun tidak sekuat aroma kari India ataupun Arab.

Sayur Babanci atau Ketupat Babanci

Sayur Babanci atau Ketupat Babanci (via inamedia.online)

Harry Nazarudin, penggiat kuliner sekaligus penulis buku “Betawi Tidak Ade Matinye” mensinyalir sayur atau ketupat babanci merupakan kuliner yang dihasilkan dari interaksi percampuran beragam tradisi budaya kuliner yang mempengaruhi keragaman kuliner Betawi. Sebagaimana diketahui, Betawi tumbuh dalam beragam pengaruh budaya yang “mampir” di Jakarta. Mulai dari Tionghoa, Arab, Belanda hingga Portugis dan lain sebagainya.

Gulai santan dinilai lebih dekat pada tradisi kuliner Melayu. Sementara penggunaan bumbu ada pada salah satu dari 21 rempah dalam sayur atau ketupat Babanci sangat dekat dengan tradisi budaya kuliner Arab. Sementara cara merebus daging dan cara penyajiannya mirip dengan tradisi Tionghoa, yakni lontong cap go meh yang dikenal pada masyarakat Tionghoa di Indonesia. Termasuk etnis Tionghoa yang mendiami Pulau Jawa. Termasuk Batavia atau Jakarta tempo dulu.

Meski mendapatkan beragam pengaruh tradisi budaya kuliner yang beragam. Namun penggunaan bahan-bahan dalam membuat ketupat Babanci mencerminkan kekayaan bumi Betawi saat itu. Beragam bumbu seperti kedaung, botor, tai angin, dan tentu saja kelapa merupakan unsur bahan yang melimpah saat itu di Batavia. Terutama penggunaan buah kelapa.

Sayur Babanci kaya akan rempah kelapa

Sayur Babanci kaya akan rempah kelapa (Via merahputih.com)

Sayur atau ketupat Babanci bisa dibilang merupakan salah satu sajian yang menggunakan kelapa dalam jumlah yang sangat banyak dalam resepnya untuk makanan di Indonesia. Uniknya, pemanfaatan buah kelapa dalam sajian sayur atau ketupat Babanci ini tidak hanya dijadikan santan untuk bahan baku kuah sayur atau ketupat babancinya. Ketupat Babanci juga menggunakan daging buah kelapa termasuk air buah kelapa yang dimasukkan dalam masakan. Tidak hanya itu, sayur ketupat babanci masih memasukkan daging kelapa parut yang disangrai menyerupai serundeng pada tradisi kuliner Jawa ke dalam sajiannya. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Resep Ketupat Babanci

Bahan :

  • 500 gr daging sapi.
  • 100 gr daging tetelan sapi.
  • 1 liter air.
  • 2 sdm minyak sayur.
  • 3 lembar daun salam.
  • 3 batang serai, memarkan.
  • 2 sdm gula merah sisir.
  • Satu seperempat sdt garam.
  • 1 liter santan cair, dari 1 butir kelapa.
  • 300 ml air kelapa muda.
  • 250 ml santan kental, dari setengah butir kelapa.
  • 2 sdm kelapa parut sangrai.
  • 2 butir kelapa muda, ambil dagingnya.

Bumbu 1, haluskan :

  • 50 gr cabai merah.
  • 7 butir bawang merah.
  • 5 siung bawang putih.
  • 5 butir kemiri, sangrai.
  • 2 cm jahe.
  • 2 cm kunyit, bakar.

Bumbu 2, sangrai, haluskan :

  • Setengah sdm ketumbar.
  • Setengah sdm jintan.
  • Setengah sdm kedaung.
  • Setengah sdm botor.
  • Setengah sdm tai angin.

Pelengkap :

  • Emping.
  • Bawang merah goreng.

Cara Membuat

  1. Rebus daging tetelan bersama air hingga matang dan empuk. Angkat, saring. Sisihkan kaldunya.
  2. Panaskan minyak. Tumis bumbu 1, daun salam, dan serai hingga harum. Tambahkan gula merah dan garam. Aduk rata. Angkat.
  3. Masukkan bumbu ke dalam kaldu. Panaskan kembali kaldu di atas api. kecil. Tuang air kelapa muda dan santan. Masukkan daging dan tetelan.
  4. Masak sambil diaduk perlahan hingga mendidih (jaga agar santan tidak pecah). Masukkan bumbu 2 dan kelapa sangrai. Masak hingga bumbu meresap. Masukkan daging kelapa muda, aduk rata. Angkat.
  5. Sajikan panas disertai pelengkap.
Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.