Kenapa Jakarta Butuh LRT?


Halo Jakartans! Sudah tidak dapat dipungkiri lagi, kemacetan Jakarta adalah sebagai akibat kurang terkendalinya penggunaan kendaraan pribadi, sehingga kapasitas jalan tidak tidak cukup lagi menampung volume lalu lintas yang datang serentak dalam suatu waktu dan ruas jalan tertentu.

Di lain pihak harus diakui Pemerintah pusat dan Pemerintah daerah DKI Jakarta sangat terlambat menyediakan angkutan umum massal, sehingga masyarakat seperti tidak punya pilihan dan harus menggunakan kendaraan pribadi. Program pengerjaan proyek LRT adalah angin segar bagi masyarakat Jakarta yang sedang haus dengan pelayanan angkutan umum yang memadai, seperti halnya pelayanan angkutan umum di kota-kota maju di dunia saat ini.

Angkutan umum yang nyaman, andal, tepat waktu, frekuensi tinggi, kapasitas tinggi, tarif terjangkau, aman dan selamat adalah dambaan setiap warga DKI yang saat ini terpaksa menggunakan kendaraan pribadi yang boros dan memacetkan.

Pembangunan LRT dengan tipe kereta layang ringan atau elevated Light Rail Transit (LRT) ditandai lewat ground breaking oleh Presiden Joko Widodo pada 9 September 2015 silam. LRT layang ini diharapkan akan mulai beroperasi di kawasan Jabodetabek mulai 2019.

LRT Jakarta akan mulai beroperasi resmi pada Februari 2019

LRT Jakarta akan mulai beroperasi resmi pada Februari 2019 (Dok. Jakpro)

Untuk percepatan pelaksanaan pembangunan LRT ini, Presiden sudah mengeluarkan Peraturan Presiden No.98 dan No.99 Tahun 2015. Kita sangat berharap semoga LRT dapat mengatasi permasalahan transportasi di Jakarta, karena di beberapa kota di dunia, angkutan massal seperti LRT sudah terbukti ampuh untuk melawan dan mengatasi permasalahan kemacetan lalu lintas.

Rencana pembangunan LRT di kawasan Jabodetabek dilakukan oleh Pemerintah DKI Jakarta dan Pemerintah pusat. Pengembangan LRT oleh Pemprov DKI Jakarta dibangun oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro) dengan rute :

  • Kebayoran Lama – Kelapa Gading sepanjang 21,6 km.
  • Tanah Abang – Pulo Mas sepanjang 17,6 km.
  • Joglo – Tanah Abang sepanjang 11 km.
  • Puri Kembangan – Tanah Abang sepanjang 9,3 km.
  • Pesing – Kelapa Gading sepanjang 20,7 km.
  • Cempaka Putih – Ancol sepanjang 10 km.

Sedangkan rencana pembangunan LRT Jabodetabek akan dilaksanakan oleh BUMN PT Adhi Karya. Proyek ini akan dilaksanakan oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk yang terdiri dari enam rute, yaitu :

  1. Cawang – Cibubur.
  2. Cawang – Kuningan – Dukuh Atas.
  3. Cawang – Bekasi Timur.
  4. Dukuh Atas – Palmerah Senayan.
  5. Cibubur – Bogor.
  6. Palmerah – Grogol.

Teknologi LRT

Kereta api ringan atau Light Rail Transit adalah salah satu sistem kereta api penumpang yang beroperasi di kawasan perkotaan. Konstruksinya ringan dan bisa dioperasikan bersama lalu lintas kendaraan lain atau dalam lintasan khusus diperuntukkan bagi kereta api tersebut.

Kereta api ringan yang banyak digunakan di berbagai negara Eropa, Amerika, dan Australia tersebut telah mengalami modernisasi. Misalnya, lewat otomatisasi, sehingga dapat dioperasikan tanpa masinis, bisa beroperasi pada lintasan khusus, serta penggunaan lantai rendah / low floor (sekitar 30 cm) untuk mempermudah naik turun penumpang.

LRT dapat beroperasi di jalan dan bercampur dengan lalu lintas kendaraan lainnya. Tipe ini membutuhkan percepatan dan perlambatan mendekati performansi kendaraan bermotor. Kapasitas angkut kereta api ringan dari tipe ini sekira 10.000 sampai 30.000 penumpang per jam. Kecepatan perjalanan sekitar 15 sampai 20 kilometer per jam. Karena beroperasi bersama lalu lintas kendaraan maka angka kecelakaan yang melibatkan kereta api ringan dari tipe ini ternyata cukup tinggi.

Interior dari kereta LRT Jakarta yang akan diresmikan pada tahun 2019 nanti

Interior dari kereta LRT Jakarta yang akan diresmikan pada tahun 2019 nanti (via kompasiana.com)

Tren terakhir yang berkembang untuk LRT adalah penggunaan lantai rendah sehingga dapat melakukan turun naik penumpang lebih cepat. LRT juga bisa dioperasikan dengan jalur eksklusif, baik yang dibangun di atas permukaan tanah (surface LRT), di bawah tanah (underpass), maupun yang dibangun secara melayang di atas permukaan tanah (elevated LRT), baik yang menggantung maupun yang berjalan di atas rel.

Dengan jalur eksklusif ini LRT akan memiliki keunggulan daya angkut yang lebih besar antara 25.000 sampai 40.000 penumpang per jam karena dapat dioperasikan pada frekuensi yang lebih sering. Bahkan, ada yang dapat dioperasikan pada headway di bawah 1 menit tanpa kondektur di dalam kereta dan waktu naik turun penumpang di stasiun 20 detik.

Kecepatan perjalanan kereta api ringan tipe ini sekitar 25 sampai 80 kilometer per jam. Untuk LRT Jabodetabek, trek yang digunakan narrow gauge 1.067 mm sebagaimana trek yang ada di Indonesia. Rolling stock menggunakan power 750 V DC seperti yang dipakai commuter line KAI.

Merebut Kembali Pengguna Angkutan Umum

Jakarta dan Jabodetabek sedang mengalami permasalahan yang rumit di bidang transportasi, yaitu kemacetan lalu lintas. Permasalahan ini terjadi karena sebagian besar masyarakat Jabodetabek lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor dan mobil pribadi, sehingga kapasitas jalan yang tersedia kurang mampu menampung luapan volume lalu lintas.

Stasiun LRT Velodrome Rawamangun

Stasiun LRT Velodrome Rawamangun (via kompas.com)

Berdasarkan penelitian Jabodetabek Urban Transportation Policy Integration, moda share atau proporsi pengguna angkutan umum di Jakarta pada 2012 hanya tinggal 12,9 %. Angka ini jauh menurun dari moda share pada 2002 yakni sebesar 38,3%. Pada 2015 memang belum ada penelitian, namun moda share angkutan umum di Jakarta pasti lebih rendah dari 12%.

Pemerintah DKI sendiri telah menargetkan proporsi pengguna angkutan umum di wilayah DKI Jakarta sebesar 60% pada 2030. Untuk mencapai angka tersebut, mau tidak mau Pemerintah DKI Jakarta harus menyediakan angkutan umum yang mampu menarik minat masyarakat untuk kembali menggunakan transportasi publik.

LRT Jakarta Koridor 1 Fase I dengan rute Kelapa Gading - Velodrome Rawamangun telah di ujicoba selama Asian Games 2018 yang lalu

LRT Jakarta Koridor 1 Fase I dengan rute Kelapa Gading – Velodrome Rawamangun telah di ujicoba selama Asian Games 2018 yang lalu (via okezone.com)

Pada 2004, Pemerintah DKI sudah mengembangkan Bus Rapid Transit (BRT) dengan lajur khusus (busway) yang dioperasikan oleh PT Transportasi Jakarta. Namun setelah 10 tahun beroperasi BRT yang diadopsi dari kota Bogota, Kolombia ini ternyata kurang efektif, paling tidak bila ditinjau dari kapasitas angkut.

Saat ini BRT TransJakarta baru mampu membawa penumpang maksimum 450.000 orang. Angka ini sangat kecil bila dibandingkan kebutuhan perjalanan warga Jakarta yaitu sekitar 18 juta per hari. Hal ini terjadi karena ketidakmampuan BRT untuk menembus kemacetan kota Jakarta dan jalur khusus yang tidak steril.

LRT layang diharapkan dapat menjawab semua kelemahan BRT TransJakarta, karena LRT akan mempunyai keunggulan yakni :

  • Bebas dari kemacetan lalu lintas.
  • Bebas banjir.
  • Bebas kegiatan demonstrasi di jalan.
  • Bebas penyerobotan jalan.
  • Bebas diskresi (sebagaimana diketahui, dengan kewenangan diskresi petugas Polri, pada saat lalu lintas macet, petugas Polri memerintahkan kendaraan lain untuk masuk jalur busway).
  • Kecepatan lebih tinggi.
  • Frekuensi atau headway dapat dibuat lebih rapat.
  • Kapasitas lebih besar.

Dengan keunggulan yang dimiliki oleh LRT layang yang akan dibangun di wilayah Jabodetabek ini, dapat disimpulkan bahwa LRT layang dapat digunakan untuk merebut kembali pengguna angkutan umum yang saat ini sudah terlanjur menggunakan mobil pribadi dan sepeda motor, sehingga target Pemerintah DKI untuk menciptakan proporsi penggunaan angkutan umum sebesar 60% pada 2030 dapat direalisasikan.

Saling Mendukung Dengan Program ERP

Agar operasional LRT dapat berjalan dengan baik, Pemda DKI harus menyiapkan sumber pembiayaan yang memadai yang akan digunakan untuk biaya operasional dan biaya perawatan. Karena untuk tahap awal dan agar menarik minat pengguna mobil pribadi dan sepeda motor beralih ke LRT, tarif LRT harus lebih rendah dari biaya operasional yang dikeluarkan oleh pengguna mobil pribadi dan sepeda motor saat ini.

Dengan kata lain tarif kurang bisa diandalkan sebagai pendukung biaya operasional LRT. Oleh karena itu, konsep LRT sangat cocok dijalankan bersamaan dengan program jalan berbayar atau Electronic Road Pricing (ERP). Program ERP akan berfungsi ganda. Pertama adalah untuk menekan penggunaan mobil pribadi dan sepeda motor (di jalan ERP sepeda motor harus dilarang) kemudian menariknya agar bersedia menggunakan angkutan umum. Hal ini tentu saja akan menyediakan penumpang yang memadai untuk LRT.

Yang kedua adalah fungsi pembiayaan, dengan menerapkan pemungutan terhadap penggunaan mobil pribadi dengan tarif yang bervariasi sesuai dengan V/C rasio jalan, maka akan didapatkan dana segar yang akan menjadi sumber pembiayaan dan dapat digunakan untuk membantu meningkatkan pelayanan serta biaya operasional angkutan umum termasuk LRT. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.