Ketika Taman dan Danau Bersinergi


Halo Jakartans! Kesan kumuh dan bau tak sedap pada danau dan waduk di Ibu Kota berangsur-angsur hilang. Satu persatu, Pemerintah Provinsi Kota DKI Jakarta mulai melakukan penataan yang membuat danau dan waduk lebih dari sekadar wadah penampung air guna mengatasi banjir, tapi bertransformasi menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) bagi warga Jakarta.

Bila diperhatikan, sebagian danau, waduk bahkan bantaran sungai di Jakarta sudah mulai berevolusi. Penataan yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta bersama dengan banyak pihak membuat pinggiran danau kini bersinergi dengan indahnya tatanan taman-taman yang menjadi RTH baru.

Tidak bisa dipungkiri bila danau merupakan bagian perairan yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat. Selain di manfaatkan sebagai sumber air, danau juga memiliki fungsi mengatur sistem iklim dan hidrologi, siklus nutrisi, bahkan menawarkan rekreasi dan kegiatan sosial budaya. Kondisi seperti inilah yang sedang diupayakan Pemprov DKI selama beberapa tahun terakhir.

Danau Sunter kini, selain memiliki ruang terbuka biru (RTB), sisi danau atau situ yang dibuka sebagai RTH juga bisa dijadikan sarana wisata bagi warga untuk arena bermain anak

Danau Sunter kini, selain memiliki ruang terbuka biru (RTB), sisi danau atau situ yang dibuka sebagai RTH juga bisa dijadikan sarana wisata bagi warga untuk arena bermain anak (via brilio.net)

Ambil contoh seperti Danau Sunter di Jakarta Utara. Usai di revitalisasi beberapa waktu lalu, Pemprov DKI menyulap lokasi ini menjadi sebuah tempat alternatif hiburan bagi rakyat yang cukup lengkap. Selain memiliki ruang terbuka biru (RTB), sisi danau yang dibuka sebagai RTH juga bisa dijadikan sarana wisata bagi warga.

“Jakarta punya target sebagai kota yang nyaman bagi warganya. Artinya kita juga harus punya banyak ruang publik bagi masyarakat yang salah satunya direalisasikan dengan RTH. Kita coba manfaatkan semua lahan, mulai dari yang ada di tengah kota sampai pinggiran kali atau waduk dan ini menjadi komitmen antar dinas,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Aji.

Selain menjadi area wisata, dampak dari penataan waduk, danau, dan bantaran kali juga bisa dimanfaatkan menjadi ruang terbuka lain bagi masyarakat. Contohnya seperti kawasan Banjir Kanal Timur atau beken disebut BKT dan kerap difungsikan sebagai lokasi berolahraga warga dan bermain.

Bahkan ada beberapa waduk dan bantaran sungai yang di Jakarta yang sudah tertata rapi dan kini dijadikan spot untuk untuk swafoto dan foto pra-wedding, salah satunya seperti Waduk Melati di Jakarta Pusat dan Kanal Banjir Barat (KBB) di dekat Hotel Shangri-La.

Suasana Taman Piknik di Kecamatan Makassar, Jakarta Timur

Suasana Taman Piknik di Kecamatan Makassar, Jakarta Timur (via bersapedahan.wordpress.com)

Meski demikian, Dinas Lingkungan Hidup punya pekerjaan rumah besar terkait masalah mutu kualitas air pada waduk, danau, atau bantaran kali. Kondisi beberapa danau yang masih memiliki masalah dengan pencemaran air menjadi perhatian penting untuk mengembalikan tatanan ekosistem di danau yang berdampak pada lingkungan sekitarnya.

“Kita mulai diakui dunia secara pembenahan sampah, tapi memang yang jadi PR besar soal menjaga mutu air. Bila air bersih maka dampaknya bukan hanya pada warga, tapi lingkungan secara keseluruhan artinya ekosistem akan berjalan dengan baik,” ucap Aji.

Dirinya mengatakan, bahwa inilah alasan kenapa saat ini banyak taman didirikan di pinggiran danau yang juga berfungsi menjaga kelestarian lingkungan. Selain Danau Sunter, sebenarnya banyak danau alami atau buatan lainnya yang kini mulai menawarkan fungsi baru sebagai sarana rekreasi warga. Contoh, seperti Taman Ria Rio atau juga dikenal dengan Waduk Ria Rio di Kawasan Pulomas. Meski sederhana, namun taman ini punya daya tarik tersendiri dengan hadirnya pohon Baobab atau dalam bahasa Latin dikenal dengan Adansonia Digitata.

Pohon yang dikabarkan memiliki harga Rp 750 juta ini juga dikenal sebagai pohon kehidupan karena memiliki kemampuan bertahan dan umur yang panjang. Batang pohon ini mampu menyerap dan menyimpan air dalam waktu yang cukup lama, sementara buah dan daunnya berguna sebagai obat-obatan dan bumbu masakan.

Apa itu RTH?

Menurut Undang-Undang No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang : “Ruang Terbuka Hijau adalah area memanjang / jalur dan / atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja di tanam.

Jumlah RTH di Jakarta?

Berdasarkan data Dinas Kehutanan DKI Jakarta mencapai 3.131. Jakarta Pusat menjadi daerah terbanyak dengan jumlah 913 RTH. Menurut data yang diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta hingga 2013, jumlah luas taman kota di seluruh wilayah Ibukota hanya 1.912,1 Hektar.

Apa itu RTB?

Ruang Terbuka Biru atau RTB memiliki fungsi sebagai menerima limbahan air hujan yang tidak terserap tanah. Fungsinya seperti penampung sementara yang kemudian bisa di lepas ke sungai sekitar bahan di resapkan ke dalam tanah.

Sinergi RTH dan RTB

Ruang Terbuka Hijau dan Ruang Terbuka Biru bisa diintegrasikan. Saat tidak hujan, ruang ini berfungsi sebagai RTH lengkap dengan fasilitas bermain dan rumput, sementara saat hujan, taman beralih fungsi menjadi penampungan air yang meresap ke dalam tanah, contohnya seperti Taman Piknik di Jakarta Timur. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

RTH dan RTB yang menarik di DKI Jakarta

  1. Waduk Ria Rio.
  2. Danau Sunter.
  3. Setu Babakan.
  4. Danau / Situ Lembang.
  5. Waduk Pluit.
  6. Taman Piknik.
  7. Taman Meruya.
  8. Taman Suropati.
  9. Taman Menteng.
Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.