“Konser” Air Mancur Menari di Jantung Kota Jakarta


Halo Jakartans! Selain nilai historis yang kuat, daya tarik lain dari Taman Lapangan Banteng adalah keberadaan air mancur menari yang dapat meliuk-liuk, mengiringi alunan lagu-lagu nasional, lengkap dengan pencahayaan yang apik dari permainan lampu laser yang menawan.

Sorak sorai pengunjung pecah saat lagu Indonesia Tanah Air Beta mengalun melalui pengeras suara dan menyemarakkan suasana malam di Taman Lapangan Banteng. Seketika, air mancur yang berada di pusat taman meliuk dan menari mengikuti nada lagu. Permainan warna dari lampu laser semakin menyempurnakan pertunjukan malam itu dan di sambut antusias oleh para pengunjung yang sengaja datang untuk menyaksikan “atraksi” ini. Tepuk tangan bergemuruh di akhir pertunjukan.

Sebagai salah satu ikon Taman Lapangan Banteng, pertunjukan air mancur menari memang menjadi salah satu yang ditunggu warga. Mereka duduk di amphiteater yang dibangun mengelilingi air mancur. Lokasinya berada tepat di pusat taman.

Air mancur di pusat Taman Lapangan Banteng yang bisa meliuk dan menari mengikuti nada lagu menjadi salah satu daya tarik utama yang ditunggu warga

Air mancur di pusat Taman Lapangan Banteng yang bisa meliuk dan menari mengikuti nada lagu menjadi salah satu daya tarik utama yang ditunggu warga (via kompas.com)

Selagi menikmati air mancur menari, sebagian pengunjung juga mengabadikannya melalui ponsel. Tapi ada juga yang hanya duduk sembari menikmati pertunjukan air mancur menari dan permainan lasernya yang cukup memanjakan mata ini.

Air mancur di Taman Lapangan Banteng akan menari mengikuti lagu yang diputar. Satu sesi pertunjukan, ada sekitar lima lagu dengan durasi sekitar 25 menit. Selain Indonesia Tanah Air Beta, ada juga beberapa lagu daerah seperti Yamko Rambe Yamko dari Papua yang lebih energik, Surilang dan lagu-lagu lainnya. Cukup menghibur untuk menghabiskan akhir pekan di Taman Lapangan Banteng.

Renovasi

Taman Lapangan Banteng sendiri merupakan sebuah Ruang Terbuka Hijau atau RTH yang baru saja selesai direnovasi pada April 2018 lalu. Peresmiannya dilakukan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Lokasinya tak jauh dari Masjid Istiqlal dan juga Gereja Katedral. Tepatnya di depan kantor Kementerian Keuangan Republik Indonesia dan tak jauh dari Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Selain atraksi air mancur menari di malam hari, Taman Lapangan Banteng juga merupakan taman kota yang cukup asri dan lengkap sebagai ruang publik untuk masyarakat Jakarta melakukan berbagai aktivitas. Sore menjelang malam hari banyak warga yang memanfaatkannya sebagai tempat olah raga atau hanya sekadar bersantai menikmati alam terbuka. Saat akhir pekan, Taman Lapangan Banteng semakin ramai dengan beragam kegiatan warga.

Sebagai sebuah taman kota, Taman Lapangan Banteng juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Toilet, mushola hingga ruang menyusui untuk menunjang aktivitas warga yang ingin memanfaatkan lokasi ini sebagai tempat wisata keluarga. Pedesteriannya juga cukup luas dan nyaman.

Tampilan baru Lapangan Banteng lebih indah, rapi, dan mewah membuat warga semakin nyaman untuk berkunjung

Tampilan baru Lapangan Banteng lebih indah, rapi, dan mewah membuat warga semakin nyaman untuk berkunjung (via mommiesdaily.com)

Terbagi dalam beberapa zona, yakni zona olah raga, zona monumen dengan amphitheater-nya, serta zona hutan kota, masyarakat yang berkunjung bebas memilih aktivitas yang akan dilakukan. Mencari keringat, menikmati segarnya suasana hutan kota, atau memperkaya pemahaman sejarah melalui monumen pembebasan Irian Barat.

Di zona monumen ini, Taman Lapangan Banteng menyediakan informasi sejarah tentang detail perjuangan pembebasan Irian Barat. Patung yang berada di tengah-tengah taman juga merupakan monumen yang dibangun sebagai penghargaan atas perjuangan pembebasan Irian Barat.

Sejarah

Lapangan Banteng awalnya merupakan bagian dari kawasan Weltevreden yang dikembangkan sebagai bagian dari perluasan kota Batavia pada abad ke 18. Kurang lebih seabad kemudian, saat pusat pemerintahan Batavia dipindahkan ke Weltevreden, sebuah lapangan yang difungsikan untuk berparade dipersiapkan melengkapi istana baru bagi Gubernur Jenderal dan kamp militer. Lapangan inilah yang menjadi cikal bakal Lapangan Banteng.

Tapi sebelum menjadi Lapangan Banteng, lapangan ini sempat berganti-ganti nama dari Lapangan Paviliun, Lapangan Singa, hingga Lapangan Banteng. Nama “Banteng” dipilih Presiden Soekarno sebagai simbol gerakan nasionalisme Indonesia.

Pada 1963, Soekarno kemudian membangun monumen pembebasan Irian Barat untuk mengenang perjuangan mempertahankan keutuhan NKRI. Sketsa patung dibuat oleh Henk Ngantung, Gubernur DKI Jakarta saat itu, sementara patungnya dibuat oleh pematung asal Yogyakarta, Edhi Sunarso dan monumen dirancang oleh arsitek Friedrich Silaban. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Lapangan Banteng

  • Mulai dipugar dan direnovasi tahun 2017.
  • Diresmikan pada 25 Juli 2018.
  • Jadwal pertunjukan air mancur menari dan laser 3 kali di akhir pekan. (18.30, 19.30, dan 20.30)
Bagikan :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.