Kultur Asing Membuat Betawi Kaya Warna


Halo Jakartans! Peninggalan arsitektur Tionghoa yang masih kokoh berdiri adalah bangunan klenteng dan vihara. Tempat sembahyang peranakan Tionghoa ini bisa dilihat dari vihara yang berada di sudut-sudut Jakarta yang rata-rata berusia ratusan tahun.

Salah satunya adalah vihara yang didirikan sekitar abad ke-16 di Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat. Tempat ini dikenal sebagai Vihara Dharma Bakti atau Klenteng Kebajikan Emas (Kim Tek Le) yang hingga kini masih ramai dikunjungi umat Budha peranakan Tionghoa, khususnya yang tinggal di sekitar Glodok.

Menurut penggiat budaya Betawi, Yahya Andi Saputra, warga Tionghoa memasuki Batavia melalui Bandar Sunda Kelapa sejak abad ke-13 hingga abad ke-14. “Sejak masuk Bandar Sunda Kelapa, orang Tionghoa memang ingin berdagang,” katanya.

Untuk itu mereka aktif berkomunikasi dan berinteraksi dengan warga pribumi yang berakar Melayu, menurut Yahya semakin terserap dan berbaur. Bisa jadi hal itu berpengaruh terhadap bahasa percakapan sehari-hari orang-orang Betawi hingga masa kini.

Misalnya bahasa Anda atau Kamu dengan Lu dan menyebut diri sendiri sebagai We atau Owe dan kemudian berkembang menjadi Gue, yang menjadi bahasa keseharian pergaulan Jakarta sejak lama. Yahya juga menyebut interaksi dengan orang Tionghoa tersebut hingga kini pengaruhnya masih bisa terasakan.

“Dalam busana Betawi sekarang dikenal dengan Rias Besar Busane Cara None Cine. Busana yang dikenakan mempelai wanita setelah ijab kabul menggunakan siangko. Sebelum dipakai untuk untuk busana pengantin, siangko sudah dipakai seniman yang bisa dilihat dari pakaian penari doger atau ronggeng topeng,” tambahnya.

Penggunaan siangko, menurut Yahya, terjadi secara alami. Menurutnya, siangko bercadar ada kemiripan dengan busana yang dikenakan orang Tionghoa. Di kalangan orang Betawi kini siangko bercadar dianggap sebagai perlambang kesucian seorang mempelai wanita.

Para penari membawakan tarian khas Jakarta, Nandak Ganjen yang diiringi musik Gambang Kromong

Para penari membawakan tarian khas Jakarta, Nandak Ganjen yang diiringi musik Gambang Kromong (via youtube.com)

Siangko bercadar selalu berwarna emas, karena aslinya terbuat dari emas atau bahan perak. Biasanya dihiasi batu-batu permata, bahkan ada yang bertahtakan intan berlian. Panjang cadarnya 30 cm, terbuat dari manik-manik. Dalam kesenian, akulturasi budaya Tionghoa juga terlihat dari kesenian Gambang Kromong, yaitu kesenian yang memadukan alat musik lokal gamelan dengan alat-alat musik Tionghoa, seperti sukong, tehyan, dan kongahyan. Sebutan Gambang Kromong diambil dari nama dua buah alat perkusi, yaitu Gambang dan Kromong.

Menurut cerita Yahya, musik Gambang Kromong merupakan kesenian yang berkembang sekitar abad ke-17. Pengaruh Tionghoa yang masih terlihat hingga saat ini adalah main pukulan alias silat Beksi. Yahya menjelaskan Beksi yang mengandalkan pertahanan dengan mengunci empat penjuru angin ini awalnya dikenal oleh orang pribumi sebagai pukulan Empat Kelime Pancer.

Yahya mengatakan pengaruh keberadaan orang Tionghoa di Jakarta merupakan hal yang alamiah. Pasalnya bukan hanya Tionghoa saja, budaya lainnya seperti Melayu, Arab, dan Eropa juga memengaruhi perkembangan budaya Betawi. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.