Lenong Betawi : Dari Panggung, Masuk TV, Hingga Hampir Mati


Halo Jakartans! Lenong Betawi sudah ada sejak abad ke-19. Lenong merupakan adaptasi dari komedi bangsawan dan teater stambul pada 1920, dan kesenian ini pun semakin berkembang dengan lawakan-lawakan tanpa plot cerita. Biasanya, acara lenong digelar saat resepsi pernikahan. Seiring waktu berjalan, lenong berkembang menjadi tontonan rakyat dari panggung ke panggung.

Pada 1970, lenong kembali populer sejak dipertunjukkan secara rutin di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Kali ini Lenong, lenong tidak digelar semalam suntuk, tetapi hanya berdurasi dua atau tiga jam. Bahkan, lenong mempunyai alur cerita dengan unsur teater modern serta tata panggung.

Selain itu, lenong juga ditayangkan di TVRI dengan komedian seperti Bokir, Nasir, Siti, dan Anen. Pada 1990-an, mulai bermunculan program TV yang menayangkan lenong dengan lebih modern, yakni Lenong Rumpi sampai Lenong Bocah. Salah satu penggagas Lenong Rumpi adalah Harry de Fretes. Komedian legendaris ini sangat mencintai kebudayaan Lenong Betawi. Awal kecintaannya terhadap lenong muncul saat menonton Lenong Betawi di TVRI. Dari situlah tercetus ide untuk membuat Lenong Rumpi.

Lenong Betawi menampilkan cerita khas Betawi yang kocak tapi penuh dengan pesan

Lenong Betawi menampilkan cerita khas Betawi yang kocak tapi penuh dengan pesan (via cnnindonesia.com)

Sejak saat itu, Harry mulai mengangkat kembali Lenong Betawi lewat film maupun TV. Tidak hanya itu, dia juga banyak mendapatkan peran di sinetron dan film yang bertemakan Betawi. Namun, Harry menyayangkan Lenong Betawi yang saat ini mulai terlupakan. Lenong Betawi pun tergeser oleh derasnya pengaruh budaya asing. Akibatnya, lenong lambat laun akan punah. Hal ini yang membuatnya terketuk untuk melestarikan budaya Betawi. Oleh karenanya, pria kelahiran Hannover, Jerman pada 24 September 1967 ini menyebut perlu adanya dukungan masyarakat serta Pemerintah agar Lenong Betawi ini tidak punah.

Sebenarnya, Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) juga sudah menggalakkan kesenian Lenong Betawi. Salah satunya pada Juli 2018 lalu dengan Festival Lenong Betawi ke-VII di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) yang diikuti sebanyak 25 grup dan menghadirkan juri yang kompeten seperti Nano Riantiarno dari Teater Koma, Yayok dari Budayawan Betawi, dan Aditya Gumay dari Sanggar Ananda. Festival itu merupakan salah satu upaya untuk mendukung, sekaligus mencari bibit baru seniman Betawi. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Lenong Betawi

  • Ada dua jenis Lenong, yaitu Lenong Denes (bersifat resmi) dan Lenong Preman (lebih casual).
  • Kisah yang dilakonkan dalam lenong preman misalnya adalah kisah rakyat yang ditindas oleh tuan tanah dan kisah lenong denes adalah kisah-kisah 1001 malam.
  • Kesenian ini diiringi dengan musik Gambang Kromong yang terdiri dari alat-alat musik seperti gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, dan kecrekan.
  • Kesenian ini juga memiliki unsur Tionghoa dengan menggunakan alat musik seperti tehyan, kongahyang, dan sukong.
Bagikan :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.