Lontong Cap Go Meh Terlezat di Jakarta


Halo Jakartans! Perut keroncongan? Santap saja Lontong Cap Go Meh. Sebuah menu masakan khas berawal diracik kaum keturunan Tionghoa Jawa. Walaupun dinamakan Lontong Cap Go Meh, makanan ini bukanlah makanan khas yang disantap saat perayaan Cap Go Meh, hari ke -15 bulan pertama kalender Tionghoa. Namun, menu ini telah populer yang menjadi andalan berbagai rumah makan.

Sebenarnya Lontong Cap Go Meh tidak begitu berbeda dengan lontong sayur yang kita kenal. Hanya, porsinya lebih besar. Terdiri dari lontong, opor, sambal goreng, sayur labu siam, ayam, telor, dan orek tempe. Sekali suap, dijamin lidah Anda bergoyang.

Lontong Cap Go Meh Bon-Bin yang tersohor

Lontong Cap Go Meh Bon-Bin yang tersohor (via andrehandoyo.com)

 

Gado-gado Bon-Bin yang menggugah selera

Gado-gado Bon-Bin yang menggugah selera (via nibble.id)

Kuah opor berwarna kuning terkadang jingga ini merupakan resep rahasia masing-masing rumah makan. Bumbu-bumbu di dalamnya membuat kuah berubah warna. Di Betawi, resep ini dikenal dengan lontong sayur. Bedanya, sayur dalam lontong Cap Go Meh memakai irisan labu, sedangkan lontong sayur menggunakan irisan pepaya muda. Menu ini bisa kita jumpai di rumah makan “Gado-gado Bon-Bin” di Jalan Cikini IV No.5 Jakarta Pusat. Sebuah rumah sederhana, tepatnya di Jalan Bon-Bin 3 (sekarang Jalan Cikini IV), namun jadi buruan wisata kuliner wajib di Jakarta.

Nama Bon-Bin sendiri diambil dari nama Jalan Bon-Bin 3. Saat pemerintahan Hindia Belanda, dikawasan Cikini memang berdiri Kebun Binatang Cikini. Namun, di era Gubernur Ali Sadikin disulap menjadi Taman Ismail Marzuki (TIM).

Menempati rumah seluas 100 meter persegi, pada 1960-an Lanny Wijaya dan suami membuka gado-gado Bon-Bin. Kini, pemilik resep itu telah tiada dan diwariskan kepada anak-anaknya. Salah satunya anak keempat Dewi Sutiawan (66 tahun) dan anak kelima Hadi Lingga Wijaya (65 tahun) yang meneruskan usaha kuliner ini.

Gado-gado Bon-Bin telah ada sejak puluhan tahun lalu, tepatnya di tahun 1960

Gado-gado Bon-Bin telah ada sejak puluhan tahun lalu, tepatnya di tahun 1960 (via whiteboardjournal.com)

 

Suasana Gado-gado Bon-Bin di salah satu sudut jalan Cikini, Jakarta Pusat, yang selalu dipadati pengunjung

Suasana Gado-gado Bon-Bin di salah satu sudut jalan Cikini, Jakarta Pusat, yang selalu dipadati pengunjung (via efenerr.com)

Menu Lontong Cap Go Meh disini, ditulis sebagai lontong rames. Lontong dengan sayur labu ditambah beragam menu lainnya. Ada rendang daging sapi, gulai ayam, dan telor. Tambahan orek tempe dan taburan bawang goreng serta kerupuk di atasnya membuat gigitan semakin krenyes-krenyes.

Menurut Hadi Lingga Wijaya, penanggung jawab rumah Gado-gado Bon-Bin, setiap menu selalu menjadi favorit pelanggannya. Namun, dua menu utama yakni Gado-gado dan Lontong rames itulah yang paling diburu. Sebagai warga keturunan Tionghoa, Hadi mengakui, menu tersebut dulunya sering jadi hidangan favorit saat pesta perayaan Cap Go Meh oleh warga keturunan Tionghoa di Indonesia.

Awalnya, kata Hadi, sang Ibunda hanya menjual es cendol di depan rumahnya pada tahun 1960-an. Namun, pekerja kantoran yang biasa beristirahat di sana meminta disajikan makanan berat. Sang ibunda pun membuat gado-gado. Tak berselang lama, ditambah menu nasi rames dan lontong rames. Jadilah rumah makan “Gado-gado Bon-Bin”.

“Dulu kan nama berbau China itu enggak boleh. Makanya, kita bilang lontong rames. Karena lontong sayur ini ditambah berbagai menu lainnya. Ada daging sapi, ayam, telor, dan lainnya. Bagi warga keturunan, lontong ini sering disajikan saat Cap Go Meh. Karenanya disebut Lontong Cap Go Meh,” jelas Hadi.

Hadi Lingga Wijaya, mengurus langsung bisnis keluarganya secara turun temurun dan tidak berencana untuk membuka cabang

Hadi Lingga Wijaya, mengurus langsung bisnis keluarganya secara turun temurun dan tidak berencana untuk membuka cabang (via picswe.com)

 

Hadi selaku penanggung jawab rumah makan Gado-gado Bon-Bin, tetap memegang teguh resep rahasianya

Hadi selaku penanggung jawab rumah makan Gado-gado Bon-Bin, tetap memegang teguh resep rahasianya (via jitunews.com)

Setengah rumahnya disulap jadi rumah makan yang mampu menampung 40 pelanggan. Dalam sehari, dia bisa menghabiskan 200 porsi Lontong Cap Go Meh dan Gado-gado. Lontong Cap Go Meh ini dijual dengan harga Rp 40 ribu per porsi, sedangkan gado-gado dijual Rp 30 ribu per porsi. Tentu, di tempat ini pun disediakan beragam menu makanan lainnya.

Ayah dua anak ini mengaku, resep makanan yang dimilikinya di dapat langsung dari sang ibu. Bersama ke-4 saudaranya, suami dari Lanny Indayani ini meneruskan usaha kuliner sepeninggal Lanny Wijaya. Setiap harinya, dia belanja bahan pokok dan bumbu tanpa mempekerjakan orang luar. “Soal resep itu rahasia. Karena kami semua yang mengerjakan, mulai belanja bahan pokok, meracik resep hingga menjual. Semuanya kami yang meneruskan. Makanya, kita tidak buka cabang di manapun,” selorohnya. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Dimana Gado-gado Bon-Bin?

  • Gado-gado Bon-Bin buka setiap hari di Jalan Cikini IV No.5 Jakarta Pusat.
  • Buka jam 08.00 WIB sampai selesai.
  • Jam padat : 12.00 WIB – 14.00 WIB.
  • Kapasitas 40 pelanggan.
  • Menjadi kuliner buruan artis dan pejabat tinggi.
Sebarkan artikel :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.