Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari : Gaya Betawi, Konsep Permaculture



Masjid Raya Ibukota Jakarta Tercinta

Halo Jakartans! Sebagai representasi Kota Jakarta dengan unsur budaya Betawi yang kental, Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari menjadi cerminan kehidupan masyarakat Jakarta yang penuh keterbukaan, keragaman serta kebersamaan. Masjid ini juga menjawab tantangan global lewat konsep green mosque-nya.

Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari menjadi masjid agung pertama yang dibangun Pemprov DKI Jakarta dan kini menjadi salah satu ikon baru Jakarta. Nama masjid diambil dari tokoh pahlawan nasional KH Hasyim Asy’ari. Sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sosok kiai asal Jawa Timur ini dikenal dengan nilai-nilai toleransi dan pluralisme yang menjadi ruh masjid yang diresmikan pada 15 April 2017 silam tersebut.

Secara fisik, Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari merupakan masjid megah dengan luas hampir 2,4 hektar. Desain arsitekturnya unik, memadukan beragam konsep sekaligus. Atelier Enam Arsitek yang menangani rancangan masjid ini memadukan dengan apik gaya arsitektur Betawi nusantara dengan konsep masjid Nabawi di Mekkah.

Suasana bagian dalam dari Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari

Suasana bagian dalam dari Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari (via tribunnews.com)

Memasuki area masjid yang digagas oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo tersebut, nuansa Betawi akan langsung terasa. Konsep arsitektur Betawi dipadu dengan seni arsitektur dan bahan modern. Mulai dari rangka atap hingga detail pada ornamen-ornamen masjid yang banyak menggunakan ragam ornamen Gigi Balang yang sangat khas Betawi. Sebagai identitas lokal, budaya Betawi di adaptasi dalam konsep masjid ini. Ini juga menjadi amanat Peraturan Gubernur DKI (Pergub) tentang Ikon Betawi. Pembangunan masjid menghabiskan dana sekitar Rp 164,5 miliar tersebut.

Sejak diresmikan April 2017 lalu oleh Presiden Joko Widodo, keberadaan Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari langsung dimanfaatkan oleh masyarakat Jakarta. Tak hanya sebagai tempat ibadah, beragam kegiatan juga dilakukan di sini. Ke depan masjid malah dirancang untuk kegiatan ekonomi dan tak lupa urban farming.

Pembangunan masjid ini memang memasukkan konsep permaculture atau konsep arsitektur yang dapat dijadikan sebagai tempat untuk meningkatkan ketahanan pangan. Di mana area sekitar masjid, dapat ditanami berbagai jenis tumbuhan. Selain mengasrikan lingkungan hasil dari bercocok tanam ini juga bisa menjadi tambahan bagi pengelola masjid. “Ini mungkin masjid pertama yang bertemakan urban agriculture dan kami berharap ini bisa menjadi percontohan untuk masjid lain,” kata Adhi Moersid, arsitek yang terlibat dalam pembangunan Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari.

Tradisi Betawi

Sebagai representasi kota Jakarta dengan budaya Betawi-nya, masjid ini memadukan gaya arsitektur modern dengan unsur Betawi yang begitu melekat. Mulai atap bangunan hingga ragam hias dan ornamen lainnya. Semua disajikan dengan apik dengan sentuhan teknik dan bahan baku yang sesuai kebutuhan.

Misalnya pada bagian atap masjid. Tak menggunakan kubah sebagaimana umumnya, Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari mengadaptasi ciri atap pelana dan limasan yang ada di rumah Baplang Betawi. Begitu pula ragam hias dan ornamen lama yang di ekspresikan kembali oleh berbagai elemen dengan bahasa seni modern.

Desain bagian dalam dan luar Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari yang memadukan dengan apik gaya arsitektur Betawi nusantara dan konsep masjid Nabawi di Mekkah

Desain bagian dalam dan luar Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari yang memadukan dengan apik gaya arsitektur Betawi nusantara dan konsep masjid Nabawi di Mekkah (via backpackerjakarta.com)

Budaya Betawi yang menghidupi nadi Jakarta direfleksikan dalam setiap detail bangunan masjid. Unsur keterbukaan dari masyarakat Betawi tercermin dari tata ruang dalam masjid. Misalnya, ruang ibadah lebih bersifat terbuka dan hanya dibatasi dengan dinding yang transparan.

Sementara nilai keragaman di implementasikan dari asimilasi yang harmonis antara arsitektur lokal dan modern dengan menggabungkan arsitektur nusantara pada badan, kaki dan kepala sebagai bagian utama merupakan atap tropis dengan tema rumah baplang dan arsitektur masjid Nabawi. Nilai kebersamaan diwujudkan dalam berbagai kegiatan yang dapat dilakukan di lingkungan masjid. Masjid tidak hanya menjadi sarana ibadah. Ada juga inner court yang dibuat untuk sarana berkumpul. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Sekilas tentang Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari

  • Diresmikan 15 April 2017 oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.
  • Ide awal diusulkan oleh Presiden Joko Widodo.
  • Masjid pertama yang dibangun dengan anggaran APBD DKI Jakarta.
  • Groundbreaking dilakukan pada 29 September 2014 oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo.
  • Proyek pembangunan masjid diresmikan Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada 20 Juni 2013.
  • Total anggaran Rp 164,5 miliar.
  • Daya tampung sekitar 12.500 jamaah.
  • Luas lahan 2,4 hektar dan luas bangunan 16.985,43 meter persegi.
  • Proses pengerjaannya mulai 2014 – April 2017.
  • Fasilitas : Aula ruang pertemuan, sarana pendidikan, sarana ekonomi, perkantoran, serta ruang terbuka hijau.
  • Akses : Bus TransJakarta menuju halte Pesakih (rute Harmoni – Kali Deres) dilanjutkan perjalanan dengan feeder bus TransJakarta dari halte Pesakih ke masjid.
Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.