Melacak Sejarah Kedokteran di Indonesia



Museum Kebangkitan Nasional

Halo Jakartans! Profesi dokter dan kiprahnya di Indonesia, sejak lama selalu memberi peran yang besar untuk kehidupan masyarakat. Tak hanya karena profesi tersebut mulia, dokter ikut menentukan kesehatan suatu bangsa. Di Indonesia, profesi dokter sudah muncul di masa kolonial Belanda dan awalnya banyak dikuasai oleh orang Eropa.

Kebutuhan tenaga dokter yang sangat banyak menjadi tonggak sejarah hadirnya pendidikan kedokteran di Tanah Air. Sejarah itu diawali dari Banyumas, Jawa Tengah pada 1847, yang saat itu sedang dilanda beragam penyakit yang dianggap bisa membahayakan penduduk. Saat itu, pemerintah kolonial berpikir keras untuk menambah tenaga medis dari dalam negeri, karena tenaga dokter yang ada harus berasal dari Eropa.

Museum Kebangkitan Nasional

Museum Kebangkitan Nasional (via lionmag.net)

 

Gedung Stovia zaman dulu

Gedung Stovia zaman dulu (via wikipedia.org)

Untuk mendidik calon tenaga medis asal pribumi, saat itu pemerintah kolonial mengumpulkan tenaga dokter yang sudah ahli dan berpengalaman. Para dokter itu kemudian memberikan pendidikan kepada para pemuda yang memenuhi syarat seperti dari keluarga baik-baik, pandai menulis dan membaca bahasa Melayu dan Jawa.

Semua siswa tersebut, memulai pendidikan pada 1851 atau dua tahun setelah keputusan Gubernemen diterbitkan pada 2 Januari 1849. Di awal pendidikan, sempat diputuskan akan dilaksanakan di Rumah Sakit Militer Weltervreden yang sekarang menjadi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Semarang, dan Surabaya. Namun, kemudian keputusan lanjutan diterbitkan dan memutuskan Weltervreden saja yang berhak menggelar pendidikan dengan 12 siswa angkatan pertama.

Untuk angkatan pertama, siswa mengikuti pendidikan selama dua tahun dengan 17 mata pelajaran. Dari 12 siswa yang ikut, 11 siswa dinyatakan lulus dan kemudian diberikan gelar Dokter Jawa dan dipekerjakan oleh pemerintah kolonial sebagai mantri cacar. Setelah itu, baru lima tahun kemudian para dokter muda itu dipekerjakan sebagai pembantu dokter militer atau dokter sipil.

Diorama suasana pengajaran dalam ruang kelas

Diorama suasana pengajaran dalam ruang kelas (via lionmag.net)

 

Dokter-dokter pribumi dihasilkan melalui pendidikan kedokteran di Gedung Stovia

Dokter-dokter pribumi dihasilkan melalui pendidikan kedokteran di Gedung Stovia (via detik.com)

Akibatnya, pada 1890, syarat bagi calon siswa kedokteran adalah mereka yang lulus dari sekolah dasar Belanda dan aturan tersebut berlaku hingga 1915. Pada 1902, sebuah gedung sengaja dibangun untuk menampung jumlah siswa yang terus meningkat. Gedung yang sekarang terletak di Jl Abdul Rachman Saleh No.26 itu, kemudian dikenal sebagai gedung School Tot Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA).

Terus berkembangnya STOVIA, membuat pemerintah kolonial berpikir keras untuk membangun sebuah rumah sakit dan baru pada 1919 itu terwujud dan dan sekarang dikenal dengan nama Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM). (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Awal Terbentuknya Museum Kebangkitan Nasional

  • Dibangun dari tahun 1889 – 1901 di atas lahan seluas 14.625 meter persegi.
  • Dipergunakan sebagai kampus STOVIA dari tahun 1902 – 1925.
  • Tahun 1925, gedung STOVIA digunakan untuk pendidikan MULO (setingkat SMP), AMS (setingkat SMA), dan Sekolah Asisten Apoteker sampai tahun 1942.
  • Pada masa pendudukan Jepang, 1942-1945, beralih fungsi menjadi tempat menampung tentara Belanda yang menjadi tawanan perang Jepang.
  • Saat Indonesia merdeka, tahun 1945 – 1973, gedung itu dihuni bekas keluarga tentara Belanda dan orang-orang Ambon.
  • Tahun 1974, Gedung Stovia menjadi Gedung Kebangkitan Nasional.
  • Pada 1974,  gedung ini juga menjadi empat museum, yaitu Museum Budi Utomo, Museum Wanita, Museum Pers, dan Museum Kesehatan.
  • Pada 7 Februari 1984 menjadi Museum Kebangkitan Nasional.
  • Museum Kebangkitan Nasional yang dilindungi oleh Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0578/U/1983 tentang Penetapan Bangunan Bersejarah Gedung Kebangkitan Nasional sebagai Cagar Budaya dan Undang-Undang RI No.11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
  • Museum ini memiliki 2.042 koleksi yang berupa bangunan, mebel, jam dinding, gantungan lonceng, perlengkapan kesehatan, pakaian, senjata, foto, lukisan, patung, diorama, peta / maket / sketsa, dan miniatur.
  • Koleksi-koleksi yang semuanya berkaitan dengan benda-benda bersejarah pergerakan nasional sampai dengan Indonesia merdeka.
Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.