Menengok Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan


Halo Jakartans! Setiap akhir pekan, sejumlah pelancong selalu memadati Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan di Kelurahan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Cukup merogoh kocek Rp 5 ribu untuk karcis parkir mobil, atau hanya Rp 2 ribu untuk parkir motor, mereka bisa leluasa menikmati destinasi budaya di selatan Ibukota.

Tidak hanya sajian budaya, para pelancong pun disuguhi pemandangan alam secara natural. Kondisi danau atau Setu Babakan selalu menjadi daya tarik tersendiri. Beragam kalangan masyarakat menikmati kuliner Betawi, tepat di pinggir danau. Ada laksa, bakso, dan makanan ringan khas Betawi lainnya disiapkan para pedagang kaki lima.

Biasanya, para pelancong berkumpul di tepi danau sisi Utara. Selain rimbun pepohonan, sisi Utara ini menjadi pusat perkampungan budaya Betawi itu. Padahal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan Setu Babakan sebagai Zonasi Kawasan Perkampungan Budaya Betawi yang menempati lahan 289 hektare. Hal ini sesuai Peraturan Daerah No.3 Tahun 2005.

Hingga saat ini baru 30 persen luas wilayah itu yang dikelola Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Kawasan (UPK) PBB Setu Babakan. Wilayah Setu Babakan dibagi 5 zona untuk memudahkan pengelolaan. Zona A seluas 3,2 hektare, zona B 3.771 meter persegi, zona C 3,2 hektare, zona pengembangan sarana dan prasarana 1,9 hektare, serta zona embrio 4.091 meter persegi yang sudah ada sebelum UPK PBB Setu Babakan dibentuk.

Gapura utama memasuki kawasan Setu Babakan

Gapura utama memasuki kawasan Setu Babakan (via liputan6.com)

Zona A salah satu kawasan favorit bagi pelancong. Selain banyak fasilitas yang telah dibangun, di zona ini pun seringkali diadakan beragam event atau kegiatan kebudayaan. Dengan pembatas dinding kayu, semacam gerbang tinggi bergaya Betawi, zona ini semakin menunjukkan kearifan lokalnya.

Fasilitas yang disediakan pun cukup memadai. Ada museum Betawi, ampiteater, rumah adat Betawi, gedung serbaguna, mushala, toilet umum, hingga instalasi pengolahan air limbah dan bersih dan lainnya. Zona A ini diperuntukkan sebagai wadah pelestarian dan pengembangan serta pergelaran seni budaya Betawi secara formal.

Ke depan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun akan membangun rumah kebaya, gedung Diklat dan wisma Betawi di kawasan ini. Nantinya, rumah kebaya akan menjadi kantor UPK PBB Setu Babakan. Sementara, Kantor UPK PBB Setu Babakan ditempatkan di sisi Jalan Mohamad Kahfi I yang diisi dengan beragam koleksi lukisan dan barang antik dari masyarakat Betawi.

Setu Babakan ditetapkan sebagai cagar budaya Betawi sejak tahun 2000

Setu Babakan ditetapkan sebagai cagar budaya Betawi sejak tahun 2000 (via tempo.co)

Di depan kantor UPK PBB Setu Babakan ini, ada gazebo yang cukup megah dan bersih. Pengunjung bisa menggunakannya untuk acara keluarga atau acara reunian. Masih di kawasan yang sama, gedung museum Betawi berdiri kokoh setinggi tiga lantai. Padu padan warna catnya menarik pelancong untuk memasukinya. Terlebih, beberapa ornamen Betawi seperti gigi balang pun menghiasinya.

Ke depannya, pihak UPK PBB Setu Babakan akan menyiapkan kantong parkir khusus untuk pengunjung. Juga akan disiapkan andong atau delman untuk mobilitas pengunjung di sepanjang bantaran Setu Babakan. Namun, hal ini terkendala jumlah penduduk yang masih mendominasi kawasan Setu Babakan.

Merangkul Warga Sekitar

UPK PBB Setu Babakan berencana akan merangkul warga sekitar untuk mengembangkan PBB lebih baik ke depannya. Terlebih, di kawasan ini masih ada zona embrio sebagai cikal bakal pelestarian budaya Betawi di kawasan itu. Beberapa warisan budaya seperti wayang golek, topeng, dan alat musik tanjidor pun masih ditampilkan. Ada pula berbagai perabotan seperti cermin hingga gentong. Selain itu, baju sadariah, kebaya, lukisan wajah Gubernur DKI Jakarta dan kain khas Betawi juga ikut ditampilkan.

Zona B dikembangkan untuk pusat kuliner. Tempat ini bakal menjadi lokasi penataan PKL di sepanjang bantaran Setu Babakan. Ada juga zona C yang akan dibangun replika rumah adat Betawi baik berbentuk resort, plaza, maupun living museum.

Replika rumah adat Betawi yang akan dibangun ini mulai Betawi Pinggiran hingga Betawi Pesisir. Bahkan, di ujung Selatan akan ada pembangunan SMK Kebudayaan Betawi di zona pengembangan sarana dan prasarana. Di sekitar lokasi PBB ini, selalu ada kegiatan pelestarian budaya. Bahkan, ada yang membuat dodol Betawi langsung di lokasi. Sekarang saja ada workshop kerak telor, bir pletok, selendang mayang, membatik, dan lainnya. Setiap minggu menampilkan kesenian reguler, musik gambang kromong, dan lenong. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.