Mengenal 8 Tradisi Budaya Khas Orang Betawi


Halo Jakartans! Di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta yang begitu maju dan berkembang luar biasa pesat sebagai pusatnya Indonesia, suku Betawi sepertinya tertinggal sebagai jejak terakhir Jakarta. Ya, saat ini Jakarta memang disesaki dengan populasi masyarakat yang berasal dari berbagai suku budaya dan agama. Namun meskipun bak diburu kemajuan jaman, suku Betawi mencoba bertahan sebagai penduduk asli Jakarta yang masih memegang luhur tradisi.

Dr. Yasmine Zaki Shahab, MA selaku Antropolog Universitas Indonesia menjelaskan bahwa etnis Betawi diyakini terbentuk seabad lalu pada tahun 1815-1893. Nama Betawi sendiri diyakini berasal dari kata Batavia, nama kuno yang diberikan oleh Belanda untuk merebut hati warga pribumi saat mereka berkuasa di era kolonial. Dalam perkembangannya, suku Betawi pun berkembang dan bercampur dengan suku lainnya, biasanya dengan adanya pernikahan dengan kaum pendatang.

Pencampuran etnis lewat pernikahan itu akhirnya ikut mempengaruhi kebudayaan Betawi. Di mana ada banyak sekali tradisi-tradisi Betawi yang dipengaruhi suku lain seperti etnis Arab, Melayu, Tionghoa, Portugis hingga Belanda. Seiring semakin majunya peradaban masyarakat Ibukota, ternyata realitanya sungguh miris, di masa sekarang suku Betawi seolah terhimpit jaman dan harus bertahan hidup di tengah derasnya arus masyarakat pendatang.

Bahkan saat ini, menemukan penduduk Betawi asli di Jakarta mungkin bukan hal yang mudah. Namun demikian, Betawi diyakini memiliki cara tersendiri untuk menjaga betul tradisi budaya leluhur mereka. Lewat beragam festival kebudayaan, tradisi khas Betawi ini dikenalkan pada generasi muda, kaum milenial. Karena semaju apapun teknologi yang ada, orang Betawi tetap ingat dan bangga dari mana mereka berasal.

8 Tradisi Budaya Betawi Yang Masih Ada Hingga Saat Ini

1. Tanjidor

Alat musik Tanjidor sebagai kesenian asli Betawi

Alat musik Tanjidor sebagai kesenian asli Betawi (via twitter.com)

Serial drama Si Doel Anak Sekolahan yang begitu merajai pertelevisian Indonesia di tahun 90-an memang begitu menjelaskan seperti apa kebiasaan dan perilaku sosial dari suku Betawi. Lepas dari tingkah polah mereka yang terbuka, jujur dan sangat polos, orang Betawi adalah kelompok masyarakat yang begitu memegang teguh agama Islam sekaligus ramah dan ceria. Salah satu bentuk keceriaan mereka bisa terlihat dari Tanjidor.

Tanjidor sendiri adalah salah satu kesenian tradisional Betawi yang sebetulnya berasal dari bahasa Portugis yakni Tangedor yang artinya alat musik berdawai. Portugis bisa dibilang sebagai bangsa asing pertama yang singgah di Jakarta saat namanya masih Sunda Kelapa di abad ke-16 silam. Di masa penjajahan, Tanjidor dipakai sebagai alat musik para budak untuk menghibur majikan mereka.

2. Ondel-Ondel

Parade Ondel-ondel di Monas Jakarta

Parade Ondel-ondel di Monas Jakarta (via detik.com)

Boneka berukuran besar dan digerakkan oleh manusia di dalamnya ini memang begitu identik dengan kesenian khas Betawi. Padahal tahukah Anda kalau sebetulnya ondel-ondel bukanlah nama asli dari boneka ini? Yap, masyarakat Betawi lawas justru lebih mengenalnya sebagai Barongan. Terutama mereka yang hidup di era tahun 1960-an, akan lebih suka menyebut sebagai barongan, alih-alih ondel-ondel.

Nama ondel-ondel justru muncul karena ulah seniman legendaris Betawi, mendiang Benyamin Sueb. Saat itu Benyamin menyanyikan lagu berjudul ondel-ondel dengan subyek utama adalah boneka barongan, sehingga masyarakat luas lebih mengenalnya sampai saat ini sebagai ondel-ondel.

3. Tari Lenggang Nyai

Tari Lenggang Nyai di salah satu event resmi negara

Tari Lenggang Nyai di salah satu event resmi negara (via youtube.com)

Salah satu cerita Betawi yang populer adalah kisah Nyai Dasima. Sejarah menyebutkan kalau Dasima harus menikah dengan seorang pria Belanda bernama Edward William. Bukannya bahagia, sang nyai yang cantik jelita merasa haknya sebagai perempuan dirampas. Dasima pun memberontak dan memperjuangkan kebebasannya sehingga di kemudian hari menginspirasi seniman menciptakan tarian Lenggang Nyai.

4. Roti Buaya

Roti Buaya buatan Betawi

Roti Buaya buatan Betawi (via traveltodayindonesia.com)

Kalau membicarakan mengenai pernikahan tradisional suku Betawi, tentu tak akan bisa melupakan yang namanya roti buaya. Bahkan hingga saat ini, prosesi pernikahan Betawi wajib menghadirkan roti buaya. Berbentuk mirip seekor buaya, roti ini biasanya dibentuk hingga ukuran 50 sentimeter sampai 100 meter. Pemilihan buaya sendiri tak lepas dari maknanya sebagai simbol kesetiaan.

Meskipun merupakan hewan predator yang ganas, jangan pernah meremehkan kesetiaan buaya. Ya, seumur hidup mereka buaya yang begitu brutal itu hanya akan kawin sekali. Sehingga orang Betawi meyakini kalau siapapun yang menikah dengan menyerahkan roti buaya, maka itu berarti dia menyerahkan kesetiaannya seperti para buaya.

5. Gambang Kromong

Gambang Kromong, grup kesenian Betawi

Gambang Kromong, grup kesenian Betawi (via indonesiakaya.com)

Tak berbeda dengan Tanjidor, Gambang Kromong adalah sajian budaya khas dalam setiap tradisi masyarakat Betawi. Bahkan tak berlebihan kalau musik khas ini akan selalu muncul di setiap hal yang berkaitan dengan suku Betawi. Tak banyak yang tahu jika Gambang Kromong merupakan perpaduan dari kesenian musik lokal Betawi dan musik bangsa Tionghoa.

Ada beberapa alat musik gesek asal negeri Tiongkok yang digunakan dalam pertunjukan Gambang Kromong seperti Kongahyan, Tehyan dan Sukong. Sementara alat musik asli Betawi yang dipakai adalah gambang, kromong, kemor, kecrek, gendang kempul dan gong. Sejarah mencatat kalau Gambang Kromong berkembang pada abad ke-18 dan mudah ditemukan di daerah Tangerang.

6. Lenong Betawi

Penampilan Lenong Betawi di Setu Babakan

Penampilan Lenong Betawi di Setu Babakan (via liputankitajuon.wordpress.com)

Suku Betawi juga memiliki pertunjukan teater khas mereka sendiri yakni Lenong Betawi. Diyakini kesenian teater ini sudah muncul di tahun 1920-an dan selalu diiringi dengan alunan Gambang Kromong. Biasanya kisah Lenong Betawi dibagi menjadi dua jenis yakni Lenong Denes yang mengisahkan tentang kerajaan atau kelompok bangsawan dan Lenong Preman mengenai kehidupan rakyat sehari-hari.

Beberapa kisah Betawi kuno yang pernah ditampilkan dalam Lenong Denes seperti wayang sumedar, wayang senggol dan wayang dermuluk yang sayang sudah punah semua. Biasanya Lenong Denes tampil lebih elegan dengan menggunakan bahasa Melayu halus sementara Lenong Preman lebih menggunakan bahasa Betawi sehari-hari sehingga dikenal luas oleh masyarakat biasa.

7. Tari Yapong

Atraksi tari Yapong, khas kesenian tradisional Betawi

Atraksi tari Yapong, khas kesenian tradisional Betawi (via kamerabudaya.com)

Jika melihat kostumnya yang merah menyala, tak salah jika tari Yapong memang memiliki kaitannya dengan budaya asli Tionghoa. Para penari Yapong biasanya menggunakan konde khas yang mengerucut di bagian atas kepala. Tarian ini kerap kali diperlihatkan saat pertemuan resmi dan diiringi oleh musik-musik perkusi dinamis yang begitu meriah.

Demi melestarikan tari Yapong, saat ini pusat-pusat kesenian di Jakarta bahkan hingga di tingkat nasional, mulai mengenalkan dan mengajarkan kepada para generasi muda. Pemerintah pun kerap kali menggunakan tarian Yapong dalam menyambut tamu-tamu penting negara asing.

8. Ubrug Betawi

Ubrug, seni topeng asal Betawi

Ubrug, seni topeng asal Betawi (via 1001indonesia.net)

Orang Betawi memang identik dengan kelompok masyarakat pecinta keramaian, pesta tapi tetap dengan sifat rendah hati mereka. Tak heran kalau pertunjukan seni merupakan hal yang digemari suku Betawi. Salah satunya adalah kesenian Ubrug yang kini tampaknya sudah punah di kalangan masyarakat Betawi. Di masa keemasannya dulu, seni Ubrug Betawi sering digunakan dalam panggung-panggung hajatan.

Demi menarik perhatian masyarakat, pemain Ubrug berjalan di sepanjang jalan sambil membunyikan terompet, rebana biang dan juga gendang. Nantinya para penampil seni Ubrug akan berkelakar khas Betawi sambil masih menampilkan kritikan sosial. Namun perkembangan jaman tampaknya membuat seni Ubrug ini terlupakan dengan mudah tergantikan dengan hiburan modern seperti konser-konser musik.

Melihat kedelapan tradisi seni Betawi, menunjukkan kalau suku asli daerah Jakarta ini memiliki budaya yang sangat beragam dan begitu mempesona. Tampaknya begitu sayang sekali kalau budaya Betawi yang sangat indah dan memiliki nilai sejarah tinggi itu punah begitu saja karena masyarakat yang lebih suka menikmati kebudayaan modern. Semoga saja masih banyak pecinta budaya Betawi yang setia, ya!

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.