Mengenal Museum Mohammad Hoesni Thamrin Jakarta


Pahlawan Betawi yang Nyaris Dilupakan

Halo Jakartans! Di gedung inilah gagasan politik perjuangan bangsa Indonesia dicetuskan. Museum Mohammad Hoesni Thamrin. Sayangnya, sedikit sekali yang kenal dan peduli terhadap pahlawan nasional Betawi ini.

Museum Mohammad Hoesni Thamrin terletak di Jalan Kenari II No.15 Jakarta Pusat. Menjangkaunya cukup sulit lantaran lokasinya berada di jalan kecil di seberang ITC Kenari. Bisa jadi hal ini membuat museum tersebut tidak banyak dikenal oleh masyarakat luas, termasuk warga Jakarta sendiri.

Mohammad Hoesni Thamrin lahir di Sawah Besar pada 16 Februari 1894. Ia dibesarkan di lingkungan yang taat pada agama Islam. Sampai meninggalnya pada 11 Januari 1941, MH. Thamrin telah banyak berjasa kepada bangsa dan negara sebagai anggota Volksraad.

Patung MH Thamrin di halaman depan Museum

Patung MH Thamrin di halaman depan Museum (via situsbudaya.id)

Selain sebagai tempat rapat dan musyawarah menuju kemerdekaan RI, di gedung ini pula lagu kebangsaan Indonesia Raya dirancang oleh WR Supratman. Replika biola milik WR Supratman terpampang di salah satu sudut museum. Di museum ini tersimpan banyak koleksi foto dan kiprah perjuangan MH Thamrin. Termasuk foto suasana kota Jakarta tempo dulu. Ada pula sejumlah barang koleksi yang digunakan MH Thamrin seperti koleksi radio, blankon, piring hias, meja dan kursi, serta kepustakaan yang meliputi buku-buku dan pidato-pidatonya di Volksraad. Almarhum dahulunya kerap mendengarkan siaran radio, baik dalam negeri maupun siaran radio luar negeri.

Sejarah Museum MH Thamrin

Dibangun pada abad ke-19, awalnya sebagai gedung logistik Belanda, seperti susu, keju, dan aneka buah-buahan dari Australia di simpan sementara di tempat ini untuk kemudian dibagikan kepada warga Belanda. MH Thamrin membeli gedung tersebut dari seorang Belanda bernama Meneer De Has untuk lantas dihibahkan ke organisasi PPPKI (Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) dan diberi nama Gedung Pemufakatan Indonesia.

Gedung logistik itu pun kemudian menjadi markas perjuangan MH Thamrin dan rekan-rekannya. Mulanya difungsikan untuk perguruan rakyat yang dibentuk pada 11 Desember 1928 yang diprakarsai Dr. Mr. Moh Nazief. Pengajarnya, antara lain Ki Hajar Dewantara, Dr. Sarjito, hingga Agus Salim.

Berbagai koleksi peninggalan MH Thamrin dipamerkan

Berbagai koleksi peninggalan MH Thamrin dipamerkan (via beritajakarta.id)

 

Tampak sepeda yang digunakan oleh MH Thamrin dalam berjuang melawan Belanda

Tampak sepeda yang digunakan oleh MH Thamrin dalam berjuang melawan Belanda (via beritajakarta.id)

Paska kemerdekaan, tepatnya di tahun 1960 – 1964, Gedung MH Thamrin digunakan sebagai tempat pendidikan Kepamong-Prajaan. Pada malam hari di tahun 1966 – 1977, gedung tersebut dijadikan tempat kuliah. Sementara siang harinya untuk belajar siswa-siswi SMA hingga 1984. Patung MH Thamrin berukuran besar dengan setengah langkahnya akan menyambut para pengunjung. Tingginya sekitar dua meter, berdiri kokoh di tengah halaman museum.

Pada 2015, pengunjung yang datang ke museum ini tak sampai 200 orang. Padahal, tiket masuk ke Museum MH Thamrin sangat terjangkau, yaitu Rp 5000 untuk pengunjung dewasa. Tentu saja dibutuhkan peran aktif dari pemerintah untuk lebih memperkenalkan lagi keberadaan museum ini kepada masyarakat luas. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Bagikan :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.