Mengurangi Polusi dengan Trembesi


Halo Jakartans! Pemprov DKI Jakarta terus berupaya memperluas Ruang Terbuka Hijau (RTH). Perluasan RTH kini kian gencar dilakukan agar Jakarta semakin hijau, baik yang dilaksanakan Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta maupun bekerjasama dengan pihak swasta.

Mewujudkan Kota Jakarta yang ramah lingkungan, selain mempercantik taman-taman yang sudah ada, juga membangun 1.000 taman interaksi di lima wilayah Jakarta. Taman-taman baru juga dibangun di kawasan waduk yang dahulu tidak terawat karena sebagian area terokupasi hunian liar, seperti kawasan Waduk Pluit seluas 80 hektar, dan Waduk Ria Rio 9 hektar dengan luas taman sekitar 25,8 hektar. Setelah Pemprov DKI merelokasi penghuni liar ke beberapa rusun, kini kedua waduk tersebut telah dikembalikan ke funsi semula, dan sebagian area telah berubah menjadi taman-taman yang indah.

Tampak wajah Waduk Ria Rio kini yang hijau dan asri

Tampak wajah Waduk Ria Rio kini yang hijau dan asri (via samueltl21.blogspot.com)

 

Banyak pohon peneduh yang ditanam untuk menghijaukan Waduk Ria Rio

Banyak pohon peneduh yang ditanam untuk menghijaukan Waduk Ria Rio (via samueltl21.blogspot.com)

Upaya penghijauan yang begitu gempita ini juga mendapat respon positif dari pihak swasta, bahkan mereka berpartisipasi terhadap program yang dinilai akan membuat Jakarta lebih teduh. Misalnya, pada tahun 2017 silam, Pemprov DKI Jakarta menerima bantuan 2.100 bibit pohon penghijauan dari perusahaan swasta, antara lain bibit pohon trembesi dan mangga.

Kegiatan penghijauan ini sempat merupakan bagian dari 9 (Sembilan) program unggulan atau prioritas era periode Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Kala itu, masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi DKI Jakarta tahun 2013 – 2017. Mengenai penanaman pohon peneduh atau pelindung, khususnya trembesi, sudah beberapa tahun lalu dilakukan, tapi hanya terdapat beberapa. Di pelbagai daerah, selain Jakarta, tanaman peneduh ini sudah lama ditanam namun tidak dikembangkan secara masif. Baru beberapa tahun terakhir di Jawa Tengah dikembangkan penanaman trembesi.

Penanaman trembesi itu mulai dilakukan di sepanjang Pantai Utara Kudus – Semarang sejak tahun 2010 dan terus dikembangkan hingga tahun 2015. Sehingga sepanjang pantai pantura, sepanjang 1.350 km ditumbuhi pohon peneduh trembesi. Kini, di Jakarta pun, terutama di sepanjang kiri kanan Banjir Kanal Timur (BKT) telah ditanam pohon trembesi.

Trembesi (samanea saman) ini bisa hidup sampai ratusan tahun dengan akar-akarnya yang menonjol keluar di atas permukaan tanah. Cabang dan ranting-rantingnya yang banyak dengan helai-helai daun yang banyak pula meneduhi tanah di bawahnya. Apalagi bentuknya yang seperti melingkar membentuk semacam payung, maka tak heran jika trembesi disebut sebagai pohon peneduh. Selain batangnya yang besar dengan garis tengah bisa lebih dari satu meter, karena berusia ratusan tahun, trembesi dapat tumbuh hingga mencapai 35 meter.

Trembesi mampu menyerap karbon dioksida lebih besar dibandingkan pohon lain. Trembesi dinilai sangat sesuai ditanam di daerah perkotaan yang ramai kendaraan yang pastinya mengeluarkan emisi gas buang berupa karbon dioksida (CO2).

Bentuk pohon trembesi yang seperti payung

Bentuk pohon trembesi yang seperti payung (via tribunnews.com)

Selain berfungsi sebagai pohon peneduh, menurut penelitian Endes N. Dahlan, Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, satu batang pohon trembesi mampu menyerap 28,5 ton karbon dioksida setiap tahunnya. Penyerapan ini bahkan lebih banyak dua kali lipat dari bambu yang menyerap karbon dioksida 12 ton per tahun. Apalagi, dibandingkan beringin yang hanya menyerap 500 kg karbon dioksida per tahunnya. Pantas saja, pohon trembesi banyak ditanam di sepanjang jalan raya.

Menanam trembesi diperlukan area yang cukup luas. Mengingat manfaatnya yang cukup besar, trembesi bisa pula ditanam di halaman sekolah, perkantoran, atau di halaman rumah jika luas tanahnya memungkinkan. Selain memiliki daya serap tinggi terhadap CO2, sebagai peneduh halaman sangat cocok. Apalagi dengan daun yang rimbun dan bentuk yang berkanopi kaya payun, tentunya menambah estetika halaman. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.