Menyulap Sampah Jadi Produk Ekonomi Kreatif

Sebarkan artikel ini :

Sampah adalah sahabat

Halo Jakartans! Akumulasi sampah plastik di Jakarta sudah memasuki tahap darurat dan harus diwaspadai. Sekitar 11 persen atau 770 ton dari 7.000 ton sampah plastik di Indonesia ada di Jakarta. Padahal sampah plastik butuh waktu 500-1000 tahun untuk terurai. Karena itu peranan para pemulung dan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang mengelola sampah plastik patut mendapat apresiasi meskipun ini tidak bisa menghilangkan seratus persen sampah plastik yang ada. Walau Pemprov DKI Jakarta sudah melaksanakan berbagai hal untuk mengurangi produksi sampah seperti menaikkan harga kantong plastik, namun seharusnya memang perlu adanya manajemen sampah plastik mulai dari lingkungan terkecil yaitu rumah tangga.

Sebagian besar sampah yang dibuang ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, terdiri dari sampah organik (54%), dan sisanya sampah kertas (15%), plastik (14%), serta kaca, logam, dan lainnya. Untuk itu, sudah semestinya kita turut serta memilah sampah itu sejak dari rumah.

54% sampah yang dihasilkan di Jakarta adalah sampah organik. Tampak antrian truk sampah milik Pemprov DKI Jakarta di Bantargebang

54% sampah yang dihasilkan di Jakarta adalah sampah organik. Tampak antrian truk sampah milik Pemprov DKI Jakarta di Bantargebang (validnews.co)

Sedikitnya, ada tiga jenis sampah yang perlu kita kenal, yakni sampah organik, anorganik, dan sampah bahan berbahaya dan beracun (B3). Sampah organik ini biasanya terdiri dari bahan-bahan yang bisa terurai secara alamiah / biologis dan proses penghancurannya membutuhkan penanganan di tempat khusus. Sampah B3 terdiri dari limbah dari bahan-bahan berbahaya dan beracun, misalnya limbah rumah sakit, limbah pabrik, dan lain-lain.

Untuk memilah sampah dari rumah, biasanya kita hanya perlu memisahkan antara sampah organik dengan sampah anorganik. Sampah organik yang mudah membusuk diantaranya sampah dapur seperti sayuran, buah, atau sisa makanan, serta sampah kebun seperti dedaunan, rumput, ranting, dan lain-lain. Sedangkan sampah anorganik atau yang sulit membusuk seperti plastik, kaca, kertas, kardus, dan logam.

Setelah dipisahkan, sampah organik dapat dibuat kompos. Pembuatan kompos bisa dilakukan secara mandiri. Jika tidak mempunyai cukup waktu dan tempat dalam mengolah kompos sendiri, sampah organik ini dapat diserahkan pada sentra-sentra pengrajin kompos yang ada. Hasil kompos ini kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pupuk di kebun, taman rumah, atau tanaman-tanaman dalam pot. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Cara Meminimalisir Sampah

  • Pilah sampah organik, anorganik, dan berbahaya.
  • Usahakan minimalkan sumber sampah yaitu habiskan makanan.
  • Hindari barang-barang dengan umur yang pendek.
  • Pilah produk kemasan besar.
  • Pilih produk-produk refill (isi ulang).
  • Bawa kantong belanjaan sendiri.
  • Upayakan membuat pupuk kompos dari sampah organik.

Membuat Kompos Sederhana dari Sampah

  1. Siapkan ember plastik yang sudah dilubangi.
  2. Buatlah bantalan dari sabut kelapa yang dibungkus kasa nyamuk.
  3. 5-6 kilogram kompos yang terbuat dari tumbuhan dan alat pengaduk.
  4. Cara membuatnya, letakkan satu bantalan di bagian atas ember plastik. Bantalan tersebut akan berfungsi sebagai penghangat ketika proses pembuatan kompos.
  5. Tuang kompos yang siap pakai.
  6. Masukkan sampah organik hijau yang sudah dipotong kecil ke dalam kardus.
  7. Aduk semuanya hingga rata. Lakukan tahapan tersebut hingga ember terisi penuh.
  8. Tutup ember menggunakan bantalan yang satu lagi.
  9. Letakkan di tempat yang tidak terkena air dan terik matahari.
  10. Buka kardus setiap 3 hari dan aduk isinya. Lakukan langkah ini sampai sampah menjadi hitam dan hancur (prosesnya kurang lebih 1 bulan). Kompos pun siap digunakan.

Kumpulkan Sampah Elektronik (E-waste) Anda

Limbah elektronik atau dikenal dengan nama E-waste adalah peralatan elektronik atau listrik yang sudah tidak terpakai / rusak. Yang dapat mengakibatkan pencemaran air, udara, dan tanah sehingga berdampak pada gangguan kesehatan organ tubuh.

Lokasi pengumpulan sampah elektronik di DKI Jakarta :

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Hari Jumat, jam 09.00-16.00Jalan Mandala V No. 67,Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur 13640

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.