Menyusuri Jejak Sejarah di Pasar Baru


Wisata Belanja ke Pasar Baru

Salah satu gerbang pintu masuk area pertokoan Pasar Baru

Salah satu gerbang pintu masuk area pertokoan Pasar Baru (via katamedia.co)

Halo Jakartans! Di era pemerintahan Belanda, Kawasan Pasar Baru di Jakarta Pusat populer sebagai pusat fesyen dan kuliner. Bahkan, pada tahun 1970-an Pasar Baru masih kental dengan ikon pusatnya fesyen Ibu Kota Jakarta.

Kemaksyuran itu kini hanya menyisakan banyak cerita. Mulai dari sejarah, belanja hingga kulinernya. Jika mengagendakan city tour di akhir pekan, kawasan yang satu ini bisa menjadi pilihan Anda.

Sebenarnya, ada banyak komunitas atau tour guide yang memberikan jasa city tour di kawasan Pasar Baru. Tapi, tak masalah jika Anda ingin melakukannya sendiri atau bersama dengan keluarga. Hanya perlu waktu tak lebih dari dua sampai tiga jam untuk menyusuri jejak sejarah di kawasan yang dulunya dibangun pemerintah kolonial Belanda sebagai pusat perbelanjaan kalangan elit saat itu.

Gedung Filateli yang bersebelahan dengan Gedung Kesenian Jakarta

Gedung Filateli yang bersebelahan dengan Gedung Kesenian Jakarta (via republika.co.id)

Mulailah penyelusuran Anda dari Gedung Filateli. Masuk ke dalam bangunan cagar budaya, warisan arsitek belanda J Van Hoytama ini, yang dulunya Gedung Pos dan Telegraf pada masa Hindia Belanda.

Dibangun selama kurang lebih enam tahun dari 1913 hingga 1929, gedung ini memiliki keunikan arsitektur. Bagian bawah atap yang melengkung dengan ruang-ruang bersekat serupa peron stasiun kereta api dan sekat atapnya terbuat dari seng dengan tiang-tiang besi sebagai penyangganya.

Saat Jepang menguasai Indonesia, gedung ini diubah menjadi Gedung Pos Djakarta hingga akhirnya menjadi Gedung Postel setelah Indonesia merdeka. Pembangunan Gedung Pos Ibukota (GPI), pada era 90-an mengalihkan fungsi gedung tua ini menjadi Gedung Filateli hingga saat ini dan masyarakat lebih mengenalnya sebagai kantor pos Pasar Baru.

Bangunan Cagar Budaya Gedung Kesenian Jakarta

Bangunan Cagar Budaya Gedung Kesenian Jakarta (via merdeka.com)

Bertolak dari Gedung Filateli, tujuan berikutnya adalah Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Saat diresmikan, 7 Desember 1821, Belanda memberi nama gedung ini Stadschowburg Weltevrenden. Ide pembangunannya oleh Gubernur Dandels, tapi pembangunan fisiknya dimulai saat Gubernur Thomas Stamford Raffles.

Pada masa pendudukan Jepang, gedung berkapasitas 220 orang ini berubah nama menjadi Kiritsu Gehitzzyo. Selain difungsikan sebagai tempat pementasan, gedung ini juga sekaligus menjadi markas tentara Jepang.

Pasca, Indonesia merdeka, GKJ disulap menjadi ruang kuliah sekaligus bioskop. Nama gedung komidi, yang sempat diberikan oleh Jepang ini diubah menjadi Gedung Kesenian Jakarta. Seiring dengan pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM), aktivitas pementasan makin berkurang di gedung ini. Pada 1984, Gubernur DKI Jakarta R Soeprapto menetapkan gedung ini sebagai GKJ hingga saat ini.

Hingga saat ini Pasar baru masih jadi rujukan bagi sebagian warga Jakarta untuk berbelanja berbagai kebutuhan. Mulai fesyen, elektronik, hingga kebutuhan sehari-hari

Hingga saat ini Pasar baru masih jadi rujukan bagi sebagian warga Jakarta untuk berbelanja berbagai kebutuhan. Mulai fesyen, elektronik, hingga kebutuhan sehari-hari (via pinterest.ca)

Menyeberang dari GKJ, sampailah di kawasan Pasar Baru, pusat belanja legendaris yang sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Tapi sebelum menyusuri pertokoan, ada baiknya menengok ke sisi kiri. Ada Gedung Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara.

Gedung berlantai tiga ini, di bangun pada abad ke 19 dan mulai difungsikan sebagai kantor berita ANETA (Algemeen Niews en Telegraaf Agentschap). Saat ini, gedung ini difungsikan sebagai galeri foto jurnalistik Antara (GFJA) dengan koleksi-koleksi klasik terkait jurnalistik. Selebihnya, gedung ini juga saksi sejarah dimana kabar kemerdekaan disiarkan masa itu.

Jangan lupa akhiri perjalanan wisata Anda di kawasan pasar Baru ini dengan mengunjungi Gereja Ayam dan Gereja Pinel yang dibangun pada 1913 – 1915 dengan arsitek Ed Cuypers dan Hulswit. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Sebarkan artikel :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.