Mewujudkan Jakarta yang Smart

Sebarkan artikel ini :

Halo Jakartans! Menghadirkan wajah kota yang smart dengan segala aktivitasnya merupakan keniscayaan. Terlebih bagi DKI Jakarta, provinsi tersibuk di Indonesia, sekaligus ibu kota negara atau pusat pemerintahan. Tak hanya itu, kota seluas 665 km persegi ini telah menggeliat menjadi kota bisnis terakbar di tanah air. Karena itu pelbagai pelayanan untuk terselenggaranya aktivitas pemerintahan, pusat bisnis, dan masyarakat lainnya harus terakses dan terkoneksi dengan baik dan cepat.

Jakarta harus menjadi Smart City, apapun konsekuensinya. Karena Jakarta merupakan kota pelayanan atau service city. Semua proses kegiatan perkotaan harus dilakukan secara efektif dan efisien dengan infrastruktur mumpuni menggunakan teknologi informasi. Tujuannya untuk menangani permasalahan kota dengan lebih baik dan cepat. Ini memerlukan infrastruktur yang tepat seperti CCTV. Tapi lebih dari itu, smart city tidak hanya dengan memasang kamera CCTV dimana-mana, yang lebih penting bagaimana mengolahnya di pusat data dengan baik, cepat dengan analisa yang tepat dan perhitungan baik serta memiliki dampak positif secara sosial, ekonomi, budaya, dan lainnya.

Jadi dalam mewujudkan sebuah kota yang smart, ada beberapa prinsip yang mesti diwujudkan. Yang utama efektif dan efisien. Ini menyangkut pelbagai aktivitas kehidupan. Bahwa wajah kota harus smart, itu pasti, dengan gedung-gedung tertata apik dan fasilitas canggih modern. Kemajuan pesat bidang teknologi informasi merupakan penunjang penting untuk fasilitas smart city, serta pusat-pusat data. Selain itu harus didukung pengelolaan manajemen yang baik, dan dibarengi kepedulian warga kota. Untuk mengantisipasi perkembangan yang mungkin terjadi dan berdampak buruk harus ada peraturan yang membimbing, yakni bagaimana seharusnya masyarakat di kota ini beraktivitas. Jadi harus ada semacam protokol.

Menempatkan CCTV di berbagai tempat memang sangat diperlukan, seperti di jalan-jalan, karena ini menyangkut data / fakta real, keamanan dan kenyamanan kota, juga di pintu-pintu air untuk memantau banjir, dan lainnya. Namun me-manage data real tadi, itu juga memerlukan kajian dan kebijakan untuk menemukan solusinya secara tepat.

Kota Jakarta menuju Smart City

Kota Jakarta menuju Smart City (via indonesiabaik.id)

Smart city senantiasa terkait dengan tertatanya aktivitas yang lancar, efektif, dan efisien. Dalam bidang transportasi misalnya, masyarakat dapat menggunakan jenis angkutan yang terkoneksi antara satu moda transportasi dengan moda transportasi lainnya. Petunjuk jalan, tidak hanya ditempatkan di tempat-tempat strategis. Namun, di beberapa lokasi yang bisa dipastikan diperlukan pendatang atau wistawan, seperti di hotel, dan gedung-gedung perkantoran.

Membangun smart city juga berarti harus membangun masyarakatnya. Untuk ini masyarakat yang telah memasuki perubahan peradaban seiring perkembangan teknologi informasi harus memiliki kepedulian dan kearifan atas perubahan yang terjadi. Terkoneksinya dengan baik dan cepat jaringan internet, menguntungkan semua lapisan masyarakat.

Dengan menggunakan ponsel kini situasi di jalan raya bisa dipantau dengan aplikasi Waze. Jika jalan yang hendak kita lewati macet, kita bisa mencari alternatif yang lain. Namun, tentunya tidak sebatas itu. Kita bisa memberikan informasi pada Waze, misalnya kemacetan itu disebabkan oleh kecelakaan. Maka, jika pengguna Waze yang tersebar di sepanjang jalan tersebut menyampaikan informasi, tentunya nilai data yang masuk akan semakin akurat.

Sesuatu yang tampak smart yang menunjukkan efisiensi kota juga bisa diterapkan di sepanjang jalan atau di perkampungan. Misalnya semua lampu penerangan umum menggunakan LED dengan sistem sensor. Bila hari petang atau mulai gelap karena mendung, secara otomatis akan menyala. Demikian sebaliknya, begitu pertanda matahari akan muncul, lampu-lampu itu akan padam sendirinya.

Smart City kadang dipahami salah persepsi, seolah sesuatu yang hanya terkait dengan teknologi canggih. Tapi nilai efisiensinya, dan hasil, itulah yang penting. Ada contoh di sebuah kota maju yang mengalami empat musim di luar negeri, terdapat lahan yang tidak begitu luas tetapi sang petani dapat menghasilkan panen luar biasa. Lahan sekitar 1500 meter persegi, dengan teknologi hidroponik ditanami beberapa sayuran dan dipadukan dengan kolam ikan di bawahnya. Air limbah dari kolam itu diolah dan dijadikan pupuk sayuran. Dalam setahun produksi sayur seperti tomat, paprika, dan lainnya mencapai 30 ton. Itu salah satu contoh konsepi smart.

Dengan suatu teknologi, sebenarnya buangan air dari kamar mandi masih bisa diolah dan dimanfaatkan. Memang bukan untuk kebutuhan air minum atau memasak, tapi untuk mencuci mobil dan menyiram tanaman. Hal ini akan mengurangi eksplorasi dari air tanah. Ini salah satu perwujudan dari sikap cinta lingkungan.

Perkembangan teknologi dan kepesatan kemajuan IT yang mengubah peradaban harus tetap disikapi secara arif dan bijaksana. Kepedulian dan toleransi tetap dihadirkan, agar kita merasakan manfaat sebesar-besarnya dari perubahan ini. Suasana yang nyaman dari pengejahwantahan smart city bisa kita rasakan setiap saat dalam kegiatan sehari-hari asal dengan tetap menghidupkan kultur dari karakter masyarakat yang berbudaya. Jika tidak, kemunculan aplikasi-aplikasi yang super canggih pun akan sia-sia saja. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.