MRT Jakarta Paling Modern di Asia



Mulai Beroperasi 2019

Halo Jakartans! Mimpi warga Jakarta memiliki Mass Rapid Transit (MRT) bakal segera terwujud. Penyelesaian proyek MRT Jakarta (MRTJ) tahap satu telah 76 persen rampung pada 2017 lalu, dan mencapai 97 persen pada saat ini. Bahkan pada hari Selasa, tanggal 6 November kemarin telah dilakukan uji coba MRT rute Bundaran HI – Lebak Bulus oleh Presiden Joko Widodo. Diperkirakan pada Maret 2019, MRTJ telah siap digunakan.

Proyek tahap satu MRTJ membentang dari Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia (HI). Stasiun MRT terdiri dari stasiun layang dan bawah tanah. Stasiun layang membentang dari Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, dan Sisingamangaraja. Sementara stasiun bawah tanah membentang dari Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran HI.

Uji coba perdana MRT Jakarta pada 9 Agustus lalu

Uji coba perdana MRT Jakarta pada 9 Agustus lalu (via medcom.id)

Setiap harinya, kereta listrik tersebut akan membawa 173.400 penumpang. Memang lebih kecil dibandingkan KRL Commuter Line yang telah mencatat rekor penumpang harian sebanyak 1.045.823 penumpang pada 24 Mei 2017 silam. Namun, diharapkan kedua moda transportasi tersebut dapat bersinergi.

Kereta MRTJ yang diproduksi oleh Sumitomo Corporation asal Jepang tersebut merupakan hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). Direktur Utama PT MRTJ William Sabandar mengklaim, MRTJ di Jakarta akan menjadi MRT paling modern di Asia.

“Teknologi yang dipakai canggih semua. Kita juga akan melakukan transfer teknologi dengan Jepang terkait dengan pemeliharaannya. Keberadaan MRT akan memudahkan masyarakat untuk bepergian. Selain masyarakat merasa memiliki, juga terdorong untuk beralih dari transportasi pribadi ke massal,” ungkap William.

Pembangunan salah satu Stasiun MRT

Pembangunan salah satu Stasiun MRT (via validnews.id)

Pada pertengahan 2017 lalu, di wilayah proyek pembangunan Lebak Bulus dan Bundaran HI, pengerjaan telah dilakukan di terowongan yang menghubungkan Bundaran HI – Senayan serta tiang jembatan layang Lebak Bulus – Sisingamangaraja. Konstruksi ini sempat menjadi fokus perhatian sebelum Asian Games 2018 lalu, agar tidak mengganggu jalannya kompetisi olahraga terbesar di Asia tersebut.

Proses finishing pembangunan fasilitas Depo Lebak Bulus saat ini juga sedang berlangsung. Antara lain gedung administrasi, infrastructure workshop, area workshop, dan inspection shed. Pihak PT MRTJ juga telah memasang rel kereta sepanjang 6.000 meter. Perkiraan seluruh proses pembangunan ini telah hampir rampung.

Infrastructure workshop merupakan tempat perawatan kereta inspeksi dan penyimpanan material suku cadang infrastruktur depo. Gedung administrasi berfungsi sebagai kantor penunjang kegiatan operasional MRT yang terdiri dari lima lantai, dipakai sebagai OCC (Operational Control Centre) atau pusat pengendali MRT.

Terowongan bawah tanah pada jalur MRT Jakarta tahap satu

Terowongan bawah tanah pada jalur MRT Jakarta tahap satu (via neighbourlist.com)

MRTJ akan memanfaatkan pembangunan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) yang memberikan manfaat besar bagi kemudahan pengguna transportasi umum dan pribadi. Sebab, MRT Jakarta akan membangun tempat untuk kegiatan-kegiatan bisnis seperti retail dan penyediaan jasa periklanan.

Ketika sudah ada transportasi massal, maka diharapkan ada kebangkitan ekonomi di 13 stasiun MRTJ, terutama di kawasan-kawasan TOD mulai dari Lebak Bulus, Cipete, Haji Nawi, Blok A, Blok M, Senayan, Bendungan Hilir, Setiabudi, dan Dukuh Atas.

Pembangunan MRT Jakarta diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi dengan cara membangun tempat untuk kegiatan-kegiatan bisnis di wilayah transit

Pembangunan MRT Jakarta diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi dengan cara membangun tempat untuk kegiatan-kegiatan bisnis di wilayah transit (via kompas.com)

MRTJ juga akan menjalin kerjasama dengan BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) lain, misalnya Pasar Blok A, yang disinergikan dengan Pasar Jaya. Begitu pula BUMD lain seperti Jakpro (Jakarta Propertindo). Dalam kawasan TOD, MRTJ akan bersinergi dengan transportasi-transportasi umum lain seperti TransJakarta. Misalnya integrasi MRTJ dengan TransJakarta di Koridor Lebak Bulus dan Blok M. Tidak menutup kemungkinan akan berintegrasi juga dengan moda transportasi umum lainnya. Transportasi umum yang utama untuk integrasi itu adalah TransJakarta. Nanti akan diusahakan menggunakan hanya satu tiket saja. Jadi supaya para penumpang tidak perlu membayar lagi jika berganti transportasi umum. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Seputar MRT

  • MRT Jakarta singkatan dari Mass Rapid Transit atau Angkutan Cepat Terpadu Jakarta.
  • Dibangun oleh PT Mass Rapid Transit Jakarta (MRT Jakarta), yang berdiri pada 17 Juni 2008.
  • PT MRT Jakarta adalah BUMD milik Pemprov DKI Jakarta dengan struktur kepemilikan : Pemprov DKI Jakarta dengan 99,98% dan PD Pasar Jaya dengan 0,02%.
  • Pembangunan MRT diresmikan Presiden Joko Widodo pada 21 September 2015.
  • Proyek ini dirintis sejak tahun 1985. Namun, saat itu proyek MRT belum dinyatakan sebagai proyek nasional.
  • Pada tahun 2005, Presiden Republik Indonesia menyatakan proyek MRT Jakarta merupakan proyek nasional.

MRT Jakarta Fase 1

  1. Koridor Selatan – Utara (Lebak Bulus – Bundaran HI) sepanjang 15,7 kilometer.
  2. MRT Jakarta memiliki 13 stasiun dengan 7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah.
  3. MRTJ akan membangun proyek TOD di empat stasiun yakni Cipete, Istora Senayan, Dukuh Atas, dan Blok M.
Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.