Perkenalkan Sadariah Sebagai Busana Resmi Betawi!


Hasil Akulturasi Beragam Budaya

Halo Jakartans! Baju Sadariah disebut juga baju sadarie, tikim atau koko. Biasa dipakai pemuda yang bertugas membawa sirih nanas lamaran, mas kawin, dan sirih nanas hiasan pada prosesi pernikahan adat Betawi.

Baju resmi tradisional Betawi untuk laki-laki tersebut terdiri dari baju koko sadariah atau sering disebut baju gunting China, lalu celana batik / komprang, terompah / sandal jepit, dan peci / kopiah hitam atau merah. Pada mulanya baju tersebut dikenakan untuk acara keagamaan, seperti ke masjid, atau sedekahan.

Kini baju sadariah juga dikenakan untuk berbagai keperluan lain. Saat Joko Widodo menjabat Gubernur DKI Jakarta, ia mewajibkan seluruh pegawai negeri sipil (PNS) Pemerintah Provinsi untuk mengenakan busana Betawi setiap hari Jumat. Pengaruh budaya Arab dan China mendominasi pakaian tradisional Betawi yang biasa dikenakan untuk mengaji atau bersantai.

Tertanggal 1 Februari 2017, Pemprov DKI Jakarta juga menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 11 Tahun 2017 tentang Ikon Budaya Betawi. Baju Sadariah menjadi satu dari delapan ikon budaya Betawi yang wajib dilestarikan, selain Ondel-ondel, Manggar, Gigi Balang, Kebaya Kerancang, Batik Betawi, Kerak Telor, dan Bir Pletok.

Baju Sadariah telah disahkan sebagai salah satu ikon budaya Betawi yang wajib dipelihara. Hal ini akan semakin mendorong popularitas Baju Sadariah ke berbagai kalangan

Baju Sadariah telah disahkan sebagai salah satu ikon budaya Betawi yang wajib dipelihara. Hal ini akan semakin mendorong popularitas Baju Sadariah ke berbagai kalangan (via abnonjakpus.blogspot.com)

Pergub tersebut menyebut filosofi / makna baju Sadariah adalah sebagai identitas lelaki rendah hati, sopan, dinamis, dan berwibawa. Sedangkan fungsi dan penggunaannya adalah sebagai seragam karyawan berbagai kantor pemerintah dan swasta, industri pariwisata, sekolah dan berbagai acara seremonial, serta obyek dan atraksi pariwisata maupun pentas seni budaya.

Keberadaan baju Sadariah merupakan hasil akulturasi dari beragam budaya, namun keberadaannya mencerminkan kesederhanaan masyarakat Betawi. Terutama dilihat dari model bajunya yang memang sederhana. Ciri khas budaya Betawi memang banyak dipengaruhi oleh budaya Arab, China, dan Eropa. Hal itu tercermin pada keseluruhan tradisi budaya Betawi termasuk di antaranya baju Sadariah. Masyarakat Betawi mengembangkan tradisi budayanya dengan beragam pengaruh budaya yang mereka serap dari berbagai pendatang yang ada.

Baju adat Sadariah asli Betawi

Baju adat Sadariah asli Betawi (via tribunnews.com)

Dalam buku “Gado-Gado Betawi : Masyarakat Betawi dan ragam Budayanya” yang ditulis Emot Rahmat Taendiftia disebutkan, masyarakat Betawi sangat memperhatikan masalah penampilan. Mereka tidak hanya melihat dari fungsi pakaian itu saja, tetapi juga keindahan. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Apa saja kelengkapan Baju Sadariah?

  1. Baju longgar berleher tertutup (kerah shanghai) lengan panjang dengan dua kantong tempel di bagian depan bawah baju.
  2. Kopiah hitam polos sebagai penutup kepala.
  3. Kain sarung plekat terlipat rapi digunakan di leher.
  4. Celana bahan warna gelap dengan sepatu pantofel atau celana komprang bermotif batik dengan sandal terompah.

Upaya melestarikan Baju Sadariah

  • Pergub 11 Tahun 2017 lebih spesifik melengkapi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi dan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 229 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Pelestarian Kebudayaan Betawi.
  • Pergub 11 Tahun 2017 diantaranya mengatur mengenai warna Ondel-ondel dan Manggarnya ditetapkan 50.
  • Sebelumnya Pemprov DKI Jakarta telah menerbitkan Instruksi Gubernur Nomor 6 Tahun 2013 tentang Penggunaan Pakaian Dinas Harian. Instruksi Gubernur ini merupakan perubahan atas Peraturan Gubernur 209/2012 yang mengharuskan PNS memakai baju Betawi di hari Rabu.
Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.