RPTRA Menaungi Anak Hingga Lansia


Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih terus berupaya menambah jumlah ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA). Seperti apa?

Halo Jakartans! Hingga Februari 2017, sedikitnya ada 189 RPTRA yang telah dinikmati oleh masyarakat Ibukota. Dari jumlah tersebut, 66 RPTRA di antaranya merupakan bantuan Corporate Social Responsiblity (CSR) dari sejumlah perusahaan.

Maraknya pembangunan RPTRA di seluruh wilayah jakarta, membuat Pemprov DKI Jakarta meraih penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya Kategori Utama Mentor dari Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Jakarta dinilai telah berhasil dalam melaksanakan pembangunan atau keberpihakan kebijakan pembangunan dan pemerintahan pada perempuan dan telah berhasil menjaga kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. RPTRA menjadi wadah di mana perempuan di berdayakan dan anak dilindungi.

Selain itu, RPTRA saat ini kerap dijadikan tempat studi banding baik oleh Pemerintah Daerah lain maupun tamu-tamu mancanegara. Menurutnya, jumlah kunjungan warga Jakarta ke RPTRA mencapai 125 orang hingga 852 orang per hari. Bahkan, dari survei internal yang dilakukan oleh Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DKI Jakarta (DPPAPP), 99 persen pengunjung merasa puas dengan berbagai fasilitas yang telah disediakan RPTRA.

Community Center

Menurut data dari Dinas Dukcapil, jumlah penduduk Jakarta mencapai 10,2 juta jiwa. Dari angka tersebut, 34% diantaranya adalah anak-anak dan 49% perempuan, serta 7% lansia. Karena itu bisa dibilang 90% warga Jakarta butuh community center, yakni wadah untuk mencapai masyarakat terpadu, harmonis, dan berperilaku positif. Fungsi dari RPTRA sendiri memang ditujukan sebagai pusat komunitas untuk menaungi anak-anak hingga lansia.

Selain sebagai paru-paru kota, RPTRA juga punya fungsi krusial sebagai wadah komunitas atau tempat berkumpulnya masyarakat untuk berkegiatan positif

Selain sebagai paru-paru kota, RPTRA juga punya fungsi krusial sebagai wadah komunitas atau tempat berkumpulnya masyarakat untuk berkegiatan positif (via liputan6.com)

Dalam pembangunan RPTRA pun masyarakat sekitar turut dilibatkan mendesain dan mengusulkan fasilitas di dalamnya. Usulan tersebut lantas di akomodasi melalui Fokus Grup Diskusi (FGD) yang melibatkan pakar dari beberapa Universitas. Sehingga, fasilitas RPTRA yang satu dan lainnya akan berbeda. Jadi bukan hanya sekadar arahan dari pimpinan atas, namun inisiasi masyarakat yang dibantu oleh Perguruan Tinggi.

Diharapkan pada 2019 nanti, Jakarta bisa menjadi indikator sebagai Kota Layak Anak. Komitmen untuk melakukan pembangunan anak tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Harus ada partisipasi dari masyarakat dan dunia usaha, sehingga akan memberikan tempat tumbuh kembang anak yang baik.

Indikator Kota Layak Anak

Untuk mencapai Kota Layak Anak, Pemprov DKI Jakarta setidaknya harus memenuhi 31 indikator. Utamanya masalah pendidikan, kesehatan, agama, hak anak hingga perlindungan. Dengan adanya RPTRA itu, diharapkan tumbuh kembang anak menjadi optimal. Telah direncanakan pembangunan 100 RPTRA yang tersebar di Jakarta Pusat, Barat, Selatan, dan Timur masing-masing 20 RPTRA, Jakarta Utara 15 RPTRA dan Kepulauan Seribu 5 RPTRA.

Dalam membangun RPTRA itu, pihak Pemprov DKI Jakarta memperhatikan tingkat kepadatan penduduk, kawasan kumuh, jumlah penduduk usia anak / sekolah, rawan sosial dan rawan kesehatan, pemetaan sosial, permintaan dari masyarakat, dan tentu saja ketersediaan lahan.

Tampak anak-anak bermain dengan riang di RPTRA

Tampak anak-anak bermain dengan riang di RPTRA (via koran-jakarta.com)

Dalam hal pemberdayaan masyarakat, Dinas terkait turut menerapkan pemberdayaan ekonomi, seperti pengembangan usaha, pelatihan urban farming, serta pelatihan kuliner sehat. Ada juga pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompetitif berupa bimbingan belajar, belajar bahasa asing, olahraga dan seni, pembinaan keagamaan serta program belajar paket A, B, dan C.

Pihak DPPAPP DKI Jakarta juga melakukan pemberdayaan kesehatan keluarga dan lingkungan. Seperti Kampung KB, gerakan masyarakat sadar kesehatan, sanitasi lingkungan dan bank sampah, serta program pencegahan tawuran dan narkoba. Pemprov DKI Jakarta akan terus membangun RPTRA di berbagai wilayah dengan fasilitas yang lengkap hingga mencapai jumlah yang ideal , bahkan kalau bisa setiap rukun warga (RW) bisa ada satu RPTRA.

Rata-rata RPTRA di Jakarta sudah dilengkapi berbagai fasilitas yang sangat menunjang anak untuk berkegiatan

Rata-rata RPTRA di Jakarta sudah dilengkapi berbagai fasilitas yang sangat menunjang anak untuk berkegiatan (via arsitag.com)

Pengamat perkotaan Universitas Trisakti Nirwono juga menilai, keberadaan RPTRA dan taman atau ruang terbuka hijau lainnya di Jakarta memiliki peran besar bagi perempuan dan anak. Meski awalnya RPTRA ditujukan untuk anak, tapi berbagai fasilitas yang disediakan bisa mewujudkan Jakarta yang lebih baik lagi.

“RPTRA awalnya dibangun untuk anak-anak, kemudian dilengkapi dengan perpustakaan dan klinik kesehatan. ini dimaksudkan agar sambil menunggu anak-anaknya bermain, ibu bisa membaca atau mengikuti kegiatan pelatihan keterampilan atau cek kesehatan” ungkapnya. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Apa saja Layanan RPTRA?

  • Layanan Kepada Anak : Pusat Informasi dan Konsultasi Remaja, Posyandu, Perpustakaan ramah anak, tempat berolah raga, tempat bermain, kegiatan kreatif, kegiatan forum anak.
  • Layanan Kepada Masyarakat : Kegiatan 10 program pokok PKK, peringatan hari besar, hajatan masyarakat, kegiatan olah raga masyarakat.
  • Layanan Kebencanaan : Pada situasi dan kondisi tertentu dapat dimanfaatkan sebagai tempat penampung sementara bagi pengungsi, yakni masyarakat umum korban bencana.
Sebarkan artikel :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.