Sekilas Riwayat Waduk Pluit


Halo Jakartans! Waduk Pluit termasuk dari bagian rumusan masterplan tata air yang di dalamnya terdapat rencana pengendalian banjir di Jakarta. Dalam masterplan tersebut diatur pengendalian banjir dengan menerapkan sistem polder dan sistem saluran. Sistem saluran yang sudah terbangun adalah Kanal Banjir Barat (KBB) dan Kanal Banjir TImur (KBT).

Masterplan tata air ini didasarkan pada Peraturan Daerah (Perda) No.6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI Jakarta 2010 dan Raperda RTRW DKI Jakarta 2010 – 2030.

Waduk Pluit mulai dirintis sejak tahun 1960. Saat itu kawasan Pluit dinyatakan sebagai kawasan tertutup, karena kawasan ini direncanakan sebagai waduk dan polder Pluit. Namun pada perkembangan berikutnya terjadi perubahan dengan adanya pengembangan Pluit Baru untuk perumahan, industri, dan waduk. Adapun daerah Muara Karang, Teluk Gong, dan Muara Angke untuk perumahan dan pembangkit listrik, serta kampung nelayan.

Kawasan Pluit dengan perumahan dan komplek industrinya

Kawasan Pluit dengan perumahan dan komplek industrinya (via suara-jakarta.co)

Proyek Pluit terus berlanjut dengan perluasan wilayah hingga ke Jelambar dan Pejagalan. Tahun 1976, kawasan Pluit mengalami percepatan pembangunan. Bahkan kini Pluit bukan daerah rawan lagi, melainkan telah disulap menjadi daerah permukiman modern lengkap dengan tempat rekreasi dan lokasi perindustrian. Kini berkembang lagi dengan hadirnya mal, apartemen, pusat perdagangan dan pertokoan modern.

Sementara itu, untuk pengembangan Waduk Pluit, Pemerintah membentuk Komando Proyek Pencegahan Banjir DKI Jakarta (Kopro Banjir), sebuah badan yang khusus menangani masalah banjir di Jakarta pada masa pemerintahan Gubernur Dr. Soemarno. Kopro Banjir dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 29 Tahun 1965, tanggal 11 Februari 1965.

Waduk Pluit saat ini dengan taman hijaunya

Waduk Pluit saat ini dengan taman hijaunya (via kompasiana.com)

Dalam mengatasi banjir yang terjadi di wilayah DKI  Jakarta, Kopro mengembangkan konsep yang telah disusun Hans Van Breen dan kawan-kawan. Namun implementasinya disesuaikan dengan Pola Induk Tata Pengairan DKI Jakarta yang sudah ada. Sehingga, dalam pelaksanaannya Kopro Banjir mengutamakan sistem polder yang dikombinasikan dengan waduk dan pompa.

Karena itu, selain berhasil mengembangkan Waduk Pluit, Kopro Banjir juga berhasil mengembangkan waduk dan polder lainnya, seperti : Waduk Setia Budi, Waduk Tomang, Waduk Grogol, Polder Pluit, Polder Setia Budi Barat, Polder Setia Budi Timur, Polder Melati, Polder Grogol, Sodetan Kali Pesanggrahan, Sodetan Kali Grogol, dan Gorong-gorong di Jalan Jendral Sudirman.

Salah satu dari 3 pompa air yang dimiliki Waduk Pluit

Salah satu dari 3 pompa air yang dimiliki Waduk Pluit (via mediaindonesia.com)

Secara keseluruhan Waduk Pluit selesai dibangun pada tahun 1981. Namun bersamaan dengan selesainya pembangunan itu, pada tahun yang sama daerah Pluit mengalami banjir besar yang diperparah dengan matinya pompa Waduk Pluit karena pemadaman listrik akibat banjir. Banjir juga melanda Penjaringan, Pasar Ikan, dan perumahan mewah Pluit lainnya. Belakangan Pluit terus menerus menjadi langganan banjir. Dan banjir terakhir yang cukup parah melanda Pluit dan sekitarnya terjadi pada awal tahun 2013 silam.

Dataran Rendah

Kawasan Pluit merupakan salah satu kelurahan yang berada di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Pluit berada di dataran rendah di bawah permukaan laut berupa dataran rawa. Di bagian utara, Kelurahan Pluit berbatasan dengan Teluk Jakarta; sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Penjaringan dan Kelurahan Pejagalan; serta di sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Kapuk Muara dan Kelurahan Penjaringan di sebelah selatan.

Kelurahan Pluit mencakup Pluit, Muara Karang, Pantai Mutiara, Waduk Pluit, Kawasan Pergudangan Pluit, dan Permukiman Nelayan Muara Angke. Perumahan serta mal mewah seperti Pluit Village (sebelumnya Mega Mall), Emporium Pluit, dan Pluit Junction. Kelurahan Pluit memiliki penduduk lebih dari 16.112 KK dengan 18 RW dan 218 RT. Adapun luas wilayah kelurahan mencapai 7,71 kilometer persegi.

Taman Kota Waduk Pluit yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas olahraga dan bermain

Taman Kota Waduk Pluit yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas olahraga dan bermain (via ig @rakamengudara)

Selain berada di dataran rendah, Pluit juga memiliki jenis tanah lempung atau aluvial. Jenis tanah ini sulit meresapkan air karena terdiri dari pasir yang halus. Kondisi geologis ini makin diperparah dengan terjadinya penurunan muka tanah hingga 4,1 meter di satu titik antara Pluit dan Muara Baru. Akibatnya Pluit berada dibawah permukaan air laut. Baik saat air pasang maupun air surut, Pluit selalu terancam air laut. Karena itu Pluit harus mengandalkan pompa waduk dan dinding tanggul untuk mengurangi banjir dari hulu maupun air laut.

Lalu kenapa disebut Pluit? Ada beberapa versi yang berkembang berkaitan dengan penggunaan nama Pluit. Pluit dikatakan berasal dari kata peluit atau seruling. Pengertian ini mengambil istilah dari bahasa Belanda, Fluit yang berarti seruling atau peluit. Karena itu, lama-kelamaan kata peluit menjadi pluit. Tapi kata Fluit juga bisa berarti roti panjang yang sempit.

Versi lain mengatakan, nama Pluit berasal dari kata fluitschip yang artinya kapal (layar) panjang dan ramping. Dulu Belanda meletakkan sebuah fluitschip bernama Het Whitte Paert yang sudah tidak terpakai untuk melaut di pantai sebelah timur Kali Angke. Tempat ini dijadikan kubu pertahanan dalam menghadapi serangan pasukan Banten. Kubu ini dikenal dengan nama De Fluit. Sekarang dikenal dengan kawasan Pluit. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Sebarkan artikel :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.