Seni Betawi Dalam Akulturasi Budaya


Halo Jakartans! Jakarta sudah dikenal secara luas sebagai kota yang kaya. Pendapatan Asli Daerah (PAD) DKI Jakarta adalah yang tertinggi di Indonesia, sekitar Rp 34,4 triliun pada Oktober 2017 silam. Dan sebagai ibukota negara dan pusat pemerintahan, sekaligus kota jasa dan perdagangan, bahkan industri, Jakarta memiliki segalanya. Gedung-gedung tinggi dan megah tidak terbilang. Pusat perbelanjaan di pelbagai kawasan, gedung pertunjukan dan pusat hiburan pun mudah dicari, baik yang berkelas lokal hingga bertaraf internasional.

Selain dipengaruhi budaya lokal Sunda, Tarian Betawi juga hasil akulturasi dari budaya asing

Selain dipengaruhi budaya lokal Sunda, Tarian Betawi juga hasil akulturasi dari budaya asing (via indonesiakaya.com)

Dari aspek lain, perjalanan panjang yang dilalui Jakarta selama 491 tahun, sudah pasti juga memiliki berbagai kisah historis, termasuk seni budaya Betawi, yang tidak lepas dari akulturasi pelbagai budaya, seperti budaya Eropa, China, Arab, dan lainnya. Sementara pengaruh budaya lokal antara lain dari budaya Melayu, Sunda, Jawa, dan lain-lain. Dalam buku Data Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta tahun 2012, terdapat beberapa genre seni budaya Betawi yang mendapat pengaruh kuat dari pelbagai budaya tersebut, beberapa diantaranya adalah :

1. Tari Betawi

Bentuk tari lama yang ada di Betawi mendapat pengaruh cukup kuat dari Sunda terutama pada tarian yang biasa dibawakan dalam pertunjukan Topeng Betawi, tari Blenggo (Blenggo Rebana maupun Blenggo Ajeng), dan tari Uncul yang biasa diselipkan dalam pertunjukan Ujungan Betawi. Di kalangan masyarakat Betawi santri, kegiatan menari yang dilakukan perempuan kurang dikehendaki, karena itu tari Japin, Samrah, dan Blenggo dilakukan oleh kaum laki-laki.

2. Sastra Budaya Betawi

Sastra tulis adalah produk masyarakat tulis yang lahir setelah masyarakat mengenal tulisan dan teknologi percetakan. Sastra lisan mulai muncul bersamaan dengan terbentuknya budaya Betawi, yang dapat ditemukan di acara tradisi Betawi seperti pesta perkawinan, dan sunatan. Sedangkan sastra tulisan dihasilkan oleh sejumlah penulis sejak abad ke-19.

Di masa lalu pengarang hikayat dari Pecenongan bernama Sapirin bin Usman Al Faidil dan Muhammad Beramka, putra Sapirin, baru menulis naskah di awal abad ke-20. Naskah karya Sapirin berjudul Hikayat Nakhoda Asyik. Hasil karya Muhammad Bakir yang terkenal adalah Hikayat Merpati Mas.

Pengarang Betawi yang menulis cerita dalam sastra cetak di masa kemerdekaan adalah M. Balfas, S.M. Ardan, dan Firman Muntaco. Mereka menulis cerita tentang masyarakat Betawi dan kehidupan sehari-hari dalam dua bahasa sekaligus, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Betawi. Balfas menerbitkan kumpulan cerita dalam Terang Bulan Terang di Kali (1955), dan novelet Nyai Dasima (1965), yang kemudian diterbitkan ulang oleh penerbit Masup Jakarta (2007), dan Firman Muntaco menerbitkan dua seri Gambang Jakarta. Di samping itu, juga ada penulis yang bukan orang Betawi tetapi menulis cerita dengan dialek Betawi seperti Aman Datuk Madjoindo dengan cerita Si Dul Anak Betawi (1936).

Sastra lisan Betawi yang cukup dikenal yaitu:

a. Buleng atau dongeng tentang kaum kerajaan dan kaum bangsawan serta kehidupan sehari-hari. Lakon Buleng yang dikenal Gagak Karancang, Telaga Warna, Dalem Bandung, Ciung Wanara, dan Raden Gondang. Pengaruh Melayu maupun Eropa, agaknya cukup kuat dalam sastra ini.

b. Sahibul Hikayat adalah jenis sastra lisan yang masih bertahan di kalangan masyarakat Betawi, penyampai cerita disebut Juru Hikayat. Beberapa juru hikayat yang terkenal, antara lain Haji Ja’fat, Haji Ma’ruf, Mohammad Zahid atau Wak Jait. Cerita yang disampaikan biasanya berasal dari khazanah sastra lisan Timur Tengah “Seribu Satu Malam”.

c. Rancag atau pantun biasanya berbentuk pantun berkait yang secara keseluruhan melukiskan sebuah kisah utuh seperti Si Angkri Jago Pasar Ikan. Suatu cerita kadang bisa dipanjangkan ditambah dengan lawakan. Rancag
biasa diiringi dengan orkes Gambang Kromong, yang biasa disebut Gambang Rancag.

3. Teater Tradisional Betawi

Merupakan pertunjukan yang membawakan lakon atau cerita, baik dengan atau tanpa tutur kata. Ondel-ondel dan gembokan termasuk teater tanpa tutur kata. Sementara teater dengan tutur kata bisa dibedakan antara teater atau lakon, yang ceritanya dituturkan oleh seorang yang lebih profesional seperti Sahibul Hikayat, dan teater yang ceritanya dimainkan oleh sejumlah boneka atau orang seperti wayang dan lenong.

Tentang tradisi atau budaya Betawi yang juga mendapat pengaruh Cina adalah busana. Model busana Betawi yang tampak kuat mendapat pengaruh Cina adalah busana pengantin Betawi. Untuk busana kebaya Betawi khususnya encim yang berlengan pendek, juga merupakan pengaruh busana Cina. Demikian pula desain-desain busana wanita yang bisa kita lihat dari bentuk krah, garis potong untuk bagian kancing yang biasanya melintang pada bagian dada kiri atau kanan, dan lainnya. Termasuk pilihan warna yang dominan merah.

Akulturasi yang sudah berabad silam antara dua atau beberapa budaya bangsa yang saling mempengaruhi, pada akhirnya merupakan budaya tersendiri, yang memiliki corak baru. Kadang bisa ditelisik dari mana suatu pengaruh budaya tersebut berasal, namun kadang sulit “dibedah” budaya baru hasil akulturasi tersebut, karena telah mengalami perkembangan dan sentuhan-sentuhan kreativitas dari pelaku-pelaku budaya itu sendiri. Eksistensi budaya Betawi pun tentu tak lepas dari para pengabdi seni dan para tokoh masyarakat Betawi khususnya dan tokoh masyarakat Jakarta pada umumnya. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

 

Sebarkan artikel :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.