Simpang Susun Semanggi yang Ikonik



Canggih, Kaya Akan Tradisi, dan Fungsional

Halo Jakartans! Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-72 pada 17 Agustus 2017 lalu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menorehkan sejarah di Simpang Semanggi. Dua buah jalan layang melingkar berhasil dibangun dengan kokoh.

Bernama Simpang Susun Semanggi (SSS), jembatan layang melingkar ini diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo. SSS merupakan ide Gubernur DKI Jakarta sebelumnya, Basuki Tjahaja Purnama yang bertekad mengurai kemacetan di Ibukota.

Pemandangan Semanggi interchange atau lebih dikenal Simpang Susun Semanggi yang megah

Pemandangan Semanggi interchange atau lebih dikenal Simpang Susun Semanggi yang megah (via youtube.com)

Pengendara dari arah Grogol yang hendak menuju Jalan Jenderal Sudirman ke arah Blok M kini bisa langsung melingkar di atas SSS tanpa melewati jembatan dan kolong Semanggi. Begitu pun sebaliknya, pengendara dari arah Cawang yang hendak ke jalan MH Thamrin bisa langsung memanfaatkan SSS ini.

Di titik ini, persimpangan menjadi monumental. Di bawah tanah ada terowongan jalur Mass Rapid Transit (MRT). Di kolong ada jembatan yang menghubungkan Blok M dengan MH Thamrin, lalu jalan Gatot Subroto dan tol dalam kota diatasnya.

Ornamen Betawi

Keunikan SSS adalah bagaimana ornamen Betawi menghiasi setiap sisi jalan layang melingkar tersebut, baik di parapet maupun railing. Yakni, motif Gigi Balang di sisi bagian dalam, dan motif daun semanggi di sisi luar. Ini adalah upaya membuat SSS sebagai ikon Ibukota.

Pada malam hari, jalan layang melingkar tersebut menyuguhkan permainan pencahayaan dengan beragam warna. Sedikitnya ada 550 titik lampu Light Emitting Diode (LED) yang terhubung langsung dengan Jakarta Smart City. Permainan lampu multi warna tersebut juga mendukung 12 lampu besar untuk penerangan jalan umum (PJU). Konstruksi melingkar SSS merupakan teknologi jembatan tercanggih saat ini dan pertama kali diterapkan di tanah air.

Suasana Simpang Susun Semanggi di malam hari yang berpendar cantik

Suasana Simpang Susun Semanggi di malam hari yang berpendar cantik (via seword.com)

Pengerjaan SSS dilakukan oleh PT Wijaya Karya Tbk. Pemerintah DKI Jakarta menganggarkan Rp 360 miliar untuk proyek tersebut. Dana tersebut berasal dari nilai kompensasi peningkatan koefisiensi luas bangunan (KLB) pengembang, yakni PT Mitra Panca Persada, anak perusahaan asal Jepang, Mori Building Company.

Jembatan layang Semanggi terdiri dari dua ruas. Masing-masing ruas memiliki dimensi panjang 800 meter dan lebar 9 meter. Kedua ruas menggunakan 333 segmental box girder yang telah dicetak (precast) untuk disusun. Setiap box girder memiliki ukuran tidak sama persis.

Ini menjadi tantangan, karena jika berbeda beberapa sentimeter saja, antara boks yang satu dan yang lain tidak akan bertemu sempurna. Pengerjaan pemasangan segmental box girder ini diselesaikan dalam waktu tujuh bulan. Sedangkan pengerjaan keseluruhan sekitar 16 bulan atau lebih cepat dua bulan sejak groundbreaking pada 8 April 2016 lalu. Proyek tersebut dimulai saat Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Urai Kemacetan Hingga 30 Persen

Menurut estimasi dari pihak Dinas Bina Marga DKI Jakarta, keberadaan jalan layang melingkar Semanggi bakal mengurai hingga 20 – 30 persen kemacetan di Ibukota. Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta meyakini hal tersebut tidak akan efektif jika ke depannya tidak ada pembatasan kendaraan pribadi. Oleh karenanya, Dishub akan memperluas kebijakan pelarangan kendaraan roda dua.

Proyek pembangunan Simpang Susun Semanggi dimulai sejak tahun 2016

Proyek pembangunan Simpang Susun Semanggi dimulai sejak tahun 2016 (via indearchipel.com)

Sedangkan untuk kendaraan roda empat, akan diberlakukan dengan kebijakan jalan berbayar atau Electronic Road Pricing (ERP). Pada tahun 2017 silam, Pemprov DKI Jakarta sempat melakukan lelang ERP tahap kedua. Karena mau hebat seperti apa juga, mau buat flyover, jalan layang, bahkan mau terbang juga, tetap macet kalau tidak ada pembatasan kendaraan pribadi. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Sejarah Jembatan Semanggi

  1. Simpang Semanggi dibangun Presiden Soekarno (Bung Karno) pada 1961.
  2. Bung Karno ingin membangun sebuah stadion olahraga mewah di kawasan Senayan.
  3. Ir. Sutami, Menteri Pekerjaan Umum (PU) mengusulkan agar dibangun jembatan pada titik pertemuan jalan besar, antara Jalan Gatot Subroto dengan Jalan Sudirman.
  4. Pembangunan jembatan Semanggi dijadikan satu paket dengan pembangunan Gelora Senayan (sekarang Gelora Bung Karno), Hotel Indonesia, dan lain-lain. Semua fasilitas itu dibangun untuk menyambut perhelatan Asian Games pada 1962.
  5. Dulunya kawasan tempat dibangunnya jembatan Semanggi berupa rawa-rawa dan banyak tumbuh tanaman Semanggi.
  6. Semanggi adalah nama lokal (Jawa) tumbuhan Marsileaceae yang bisa dijadikan lalapan. Tanaman merambat itu hidup di semak, berdaun majemuk, dan biasa ditemukan di dekat perairan.
  7. Filosofi daun Semanggi. Filosofi yang dimaksud adalah simbol persatuan.
  8. Presiden Joko Widodo yang juga mantan Gubernur DKI Jakarta membuat jalan layang melingkar Simpang Susun Semanggi. Jalan layang melingkar di desain oleh Jodi Firmansyah, ahli jembatan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pernah merancang Jembatan Barelang yang kini menjadi ikon dari Pulau Batam, Kepulauan Riau.
Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.