Suka Olahraga? Waspadai Cedera Ortopedi


Halo Jakartans! Ingin hidup sehat. Berolahragalah. Tentu saja sesuaikan antara jenis olahraga dan usia Anda. Sebab, tidak semua jenis olahraga bisa dilakukan Anda, terlebih berolahraga seringkali beresiko bagi kesehatan. Sebut saja, dapat menyebabkan cedera ortopedi.

Ancaman cedera yang dialami karena berolahraga, menurut dokter spesialis ortopedi dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Jakarta Selatan, Iman Widya Aminata, bisa mengakibatkan siapapun yang terkena tidak bisa menikmati aktivitas menyehatkan itu. Bahkan, ancaman paling serius, siapapun yang terkena tidak akan bisa melanjutkan kegiatan berolahraga lagi.

“Berolahraga itu jika tidak dilakukan dengan benar, sangat berisiko cedera,” ucap dia. Agar bisa menghindari resiko seminimal mungkin, Iman menghimbau kepada siapapun untuk melakukan olahraga dengan benar. Jika pun sudah terlanjur cedera, hal yang pertama harus dilakukan, adalah melakukan penanganan dengan cepat dan tepat oleh tenaga medis yang terpercaya.

Beberapa cedera yang sering dialami pada orang yang biasa berolahraga, bisa berupa peradangan otot dan sendi yang disebabkan salah posisi, otot yang sobek, salah posisi otot, tulang, dan sendiri. Jika sudah terkena cedera seperti itu sebaiknya langsung konsultasi dengan dokter ahli yang di bidangnya.

Cedera pada bahu bisa terjadi baru pertama kali yang mengakibatkan akut dan harus segera ditangani, dan ada juga yang kronik atau lama dan berulang. Sementara, untuk cedera yang terjadi pada tulang dan sendi, biasanya adalah patah, dan bergeser atau dislokasi. Selain itu, untuk tendon dan otot, biasanya terjepit dan robek atau putus. “Jika mengalami tanda-tanda cedera seperti itu, segera hentikan aktivitas olahraga dan lakukan secara perlahan segera lakukan pemeriksaan ke dokter ahli,” tutur dia.

Kesalahan Teknik

Penyebab seseorang didera cedera saat berolahraga, bisa jadi terjadi karena kesalahan posisi bagian tubuh saat berolahraga, teknik berolahraga yang kurang tepat, dan penggunaan otot yang berlebihan saat berolahraga. Penyebab-penyebab itu bisa menjadi acuan saat seseorang cedera ketika berolahraga.

Iman memaparkan, untuk cedera bahu yang ringan, itu bisa diatasi dengan cara melakukan peregangan dan memaksimalkan kerja bahu melalui fisioterapi. Sementara, untuk cedera akibat peradangan otot, bisa melakukan cara dengan beristirahat, penggunaan kompres es untuk mengurangi nyeri, pemberian analgesik, dan juga terapi untuk membantu proses pemulihan.

“Untuk cedera dengan kondisi tertentu, itu perlu penanganan lebih lanjut dengan dokter,” sebut dia. Dokter spesialis Ortopedi RSPI lain, Dimas R Boedijono, mengatakan penanganan cedera akibat berolahraga bisa dilakukan dengan metode magnetic resonance imaging (MRI) dan pemeriksaan computerized tomography (CT Scan). Pemeriksaan dengan dua teknologi canggih itu, menjadi tindakan non-invasive untuk mengetahui kondisi ligamen pergelangan kaki dan sekaligus melihat cedera lain yang ada.

Waspada cedera ortopedi yang kerap terjadi karena kesalahan teknik dalam berolahraga

Waspada cedera ortopedi yang kerap terjadi karena kesalahan teknik dalam berolahraga (via alodokter.com)

Dengan metode itu, cedera yang tidak terlihat bisa diungkap. Biasanya, jika menggunakan sinar X-ray yang merupakan radiologi konvensional, potensi seperti itu bisa terjadi. Pencitraan yang lebih baik memang bisa membantu untuk menentukan apa tindakan berikutnya, konservatif atau fisioterapi.

Selain itu, pemeriksaan MRI akan dilakukan jika ada kecurigaan cedera pada sendi, otot, ligamen, atau tendon. Dengan MRI, maka akan didapatkan pencitraan anatomi jaringan lunak di dalam tubuh dengan lebih jelas lagi. Pemeriksaan MRI akan memberikan informasi lebih rinci dan membantu dokter untuk mengambil tindakan yang tepat.

Untuk CT Scan, Dimas melanjutkan, akan dilakukan jika dokter mencurigai adanya cedera pada tulang. Biasanya, pemeriksaan CT Scan dilakukan dengan mengambil gambar dari berbagai sudut dan termasuk didalamnya adalah gambar kondisi tulang yang dicurigai patah. “Itu juga akan membantu dokter untuk memberikan tindakan penanganan yang tepat,” kata dia.

Metode berikutnya yang bisa dilakukan, adalah menggunakan Arthroscopy yang menjadi metode diagnosa dan penanganan minimal invasif untuk cedera yang serius pada sendi bahu dan kaki. Tindakan ini biasanya dilakukan dengan membuat sayatan kecil untuk memasukkan kamera dan alat yang keduanya bekerja ke bagian persendian yang mengalami cedera. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Gejala Cedera Ortopedi

  • Ketidakmampuan untuk menempatkan beban (untuk cedera kaki).
  • Nyeri.
  • Pendarahan.
  • Memar yang luas.
  • Kesemutan jika ada saraf yang turut mengalami cedera.
  • Nafas pendek.
  • Nyeri yang hebat ketika menghirup nafas (bagi tulang rusuk yang patah).
  • Pembengkakan.

Rehabilitasi Ortopedi Meliputi :

Terapi Okupasi :

  • Terapi tangan / tungkai bagian atas bagi orang yang memiliki keretakan tulang tangan.
  • Splint dan Ortosis untuk membuat splint yang disesuaikan untuk tungkai bagian atas dan bagian bawah tubuh, leher, dan tulang belakang.
  • Program rehabilitasi saraf untuk memaksimalkan potensi pemulihan.
  • Evaluasi / modifikasi rumah untuk membantu mengatasi rintangan fisik di dalam dan di luar rumah.

Fisioterapi :

  • Perawatan punggung atau leher untuk mempersingkat waktu pemulihan dan mengurangi kemungkinan nyeri punggung menjadi kronis.
  • Perawatan cedera akibat olahraga, seperti ligamen dan otot yang keseleo dan terkilir.
  • Pengendalian artritis untuk meredakan nyeri dan rasa yang tidak nyaman.
  • Pengendalian pembedahan pasca ortopedi melalui program rehabilitasi pasca operasi multi disiplin.
Bagikan :

Jakartan ID

Blog yang bercerita tentang kehidupan di Ibukota Jakarta. Mengulas segala hal sosial, wisata, kuliner, dan gaya hidup warga Jakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.