Tanjidor, Dari Pengaruh Eropa hingga Tionghoa


Halo Jakartans! Musik Tanjidor bergema di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta Barat. Saat itu, ratusan masyarakat menyaksikan perayaan Cap Go Meh yang dirayakan setelah tahun baru Imlek. Biasanya, masyarakat Tionghoa merayakan Cap Go Meh setelah 15 hari tahun baru Imlek.

Tanjidor merupakan alat musik yang menggunakan alat tiup (terompet dan trombone) dan perkusi (senar drum dan drum bass). Mirip seperti drum band atau marching band, tetapi tanjidor dimainkan dengan skala kecil (7 hingga 10 musisi). Sejak dulu, musik ini dipakai pada musik jalanan tradisional, pawai daerah, mengantar pengantin, dan perayaan Cap Go Meh.

Alat musik Tanjidor

Alat musik Tanjidor (via wikipedia.org)

Bangsa Portugis yang pertama kali mengenalkan orkes itu. Kesenian ini diduga datang ke Indonesia pada abad ke 14 hingga 16. Tanjidor berasal dari kata “Tanger” dalam bahasa Portugis yang berarti memainkan alat musik. Biasanya, kesenian ini dimainkan pada saat pawai militer atau upacara keagamaan. Pemain alat musik disebut “tangedor”. Setelah terasimilasi dengan budaya Betawi, kata tangedor menjadi tanjidor.

Tanjidor (kadang disebut tanji) adalah kesenian Betawi berbentuk orkes. Kesenian ini sudah dimulai sejak abad ke-19 atas rintisan Augustijn Michiels atau Mayor Jantje di Citrap atau Citeureup. Alat-alat musik yang digunakan biasanya sama seperti drumben. – KAMUS BETAWI

Ahli musik dari Belanda, Erns Heinz mengatakan, Tanjidor berasal dari para budak yang memainkan musik untuk tuannya. Hal sama turut diutarakan sejarawan Belanda, Dr. F. De Haan, pada abad ke 18, kota Batavia dikelilingi benteng tinggi.

Orkes Tanjidor

Orkes Tanjidor (via mpokiyah.com)

Para pejabat tinggi kompeni membangun villa di luar kota Batavia seperti Cililitan Besar, Pondok Gede, Tanjung Timur, Ciseeng, dan Cimanggis. Di villa itu terdapat budak-budak yang mampu memainkan alat musik. Alhasil, mereka menghibur para kompeni itu saat pesta maupun jamuan makan.

Lagu Khusus

Pada tahun 1860, perbudakan dihapus oleh pemerintah saat itu. Sehingga, beberapa pemain musik membuat perkumpulan musik bernama Tanjidor. Lagu-lagu yang dibawakan dipengaruhi musik Belanda seperti Batalion, Kramton, Bananas, Delsi, Was Tak-tak, Welmes, dan Cakranegara. Bahkan, lagu-lagu zaman Belanda juga dimainkan diantaranya Mares Merin, Mares Duelmus, dan Walsa.

Kendati begitu, mereka juga membawakan lagu-lagu Betawi yang biasa dimainkan oleh gambang kromong seperti Jali-jali, Keramat Karam, Merpati Putih, Surilang, Siring Kuning, Kicir-kicir, Cente Manis, dan Stambul Persi. Seiring berkembangnya musik, mereka membawakan musik pop, jazz, dan dangsut. Tanjidor berkembang di daerah pinggiran Jakarta, Depok, Cibinong, Citeureup, Cileungsi, Jonggol, Parung, dan hingga Bekasi.

Dahulunya kesenian Tanjidor sering dimainkan oleh para budak kompeni

Dahulunya kesenian Tanjidor sering dimainkan oleh para budak kompeni (via jakarta-tourism.go.id)

Salah satu lagu berjudul Keramat Karam (Kramat Karem) bercerita tentang peristiwa meletusnya Gunung Krakatau pada 26-27 Agustus 1883 yang menelan 36.000 jiwa akibat awan panas dan tsunami. Letusan itu terbesar sepanjang masa hingga menyebabkan perubahan iklim global.

Alat musik yang dimainkan antara lain : klarinet, piston, trombon, tenor, bas terompet, bas drum, tambur, simbal, dan lain-lain. Mereka memainkan lagu diatonik maupun lagu-lagu yang bertangga nada pelog dan slendro. Pada 1950, tanjidor semakin menjamur di Jakarta. Kesenian ini juga terdapat di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. Kesenian ini tak pernah absen dalam acara tahun baru masehi dan tahun baru imlek. Dengan telanjang kaki atau bersandal jepit, mereka tampil dari rumah ke rumah. (Sumber : Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.