Underpass Mampang – Kuningan Mengurai Macet di Poros Protokol


Halo Jakartans! Pembangunan underpass atau lintas bawah Mampang – Kuningan, rampung pada April 2018 lalu. Lintas bawah dengan panjang lintasan sekitar 827 meter dan lebar 14 meter ini disediakan untuk mengakomodir pergerakan arus lalu lintas dari Utara (Menteng) ke Selatan (Ragunan) maupun sebaliknya.

Underpass yang melewati dua persimpangan ini, menjadi solusi kemacetan di titik tersebut. DI titik ini, yakni Simpang Mampang – Tendean dan Simpang Mampang – Kuningan selalu menjadi langganan macet karena menjadi titik temu antara Jalan Gatot Subroto, Jalan Rasuna Said, dan Jalan Kapten Tendean. Bahkan, Pemprov DKI Jakarta menyebut titik ini sebagai ibukota kemacetan.

Lintas bawah yang dibangun oleh PT. Adhi Karya ini, mulai dikerjakan pada November 2016 menelan anggaran hingga Rp 202 miliar. Lalu ada penambahan anggaran sebesar Rp 33 miliar pada APBD 2017.

Para pengendara melintas di underpass Mampang - Kuningan

Para pengendara melintas di underpass Mampang – Kuningan (via tribunnews.com)

Terbentang dari Mampang Prapatan, tepatnya di sebelah halte Busway Mampang, sampai Jalan HR. Rasuna Said, tepatnya di depan Kejaksaan Tinggi Jakarta atau Kedutaan Besar Belanda, lintas bawah ini bisa mengurai kemacetan di beberapa titik. Yakni, kemacetan pada lalu lintas Barat – Timur di Simpang Kuningan yaitu pada Jalan Gatot Subroto.

Dari Semanggi menuju Pancoran dan sebaliknya. Kemudian, lalu lintas Barat – Timur di Simpang Prapatan yaitu pada Jalan Tendean. Mulai dari Santa menuju Buncit dan dari Pancoran menuju Santa. Dan lalu lintas Utara – Selatan melalui underpass antara Mampang ke/dan dari Rasuna Said.

Urai Kemacetan Hingga 40 Persen

Meski demikian, dalam pembukaan underpass Mampang itu tetap diperlukan rekayasa-rekayasa lalu lintas lainnya. Pasalnya, usai keluar jalur lintas bawah ini, para pengendara dihadapkan pada sumbatan lalu lintas di persimpangan lainnya. Pada pagi hari misalnya, terjadi penyumbatan di kawasan simpang HR Rasuna Said dan Kasablanka. Sedangkan sore hari ada penyumbatan di kawasan simpang Warung Buncit dan lainnya.

Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta pun melakukan beberapa rekayasa lalu lintas. Pihaknya meyakini, keberadaan lintas bawah Mampang – Kuningan ini bisa mengurangi kemacetan hingga 40 persen. Terlebih, pembangunan underpass ini juga mendukung pergerakan bus TransJakarta sehingga diharapkan moda transportasi massal itu berjalan lancar sembari tetap meminta agar warga mau beralih menggunakan sarana angkutan umum massal.

Desain Khusus

Tepat di bawah kolong tol dalam kota, di persimpangan Kuningan, sebuah tulisan Underpass Mampang berdiri megah. Sisi kiri dan kanan tulisan itu terdapat bangku-bangku dan taman yang bisa menjadi ruang bagi pejalan kaki untuk beristirahat sejenak.

Tiang lampu penerangan jalan (PJU) pun didesain semenarik mungkin, mirip sebuah daun yang  melengkung di tengah, lancip di ujung. Ratusan tiang-tiang daun ini dipasang di sepanjang Underpass Mampang itu. Begitu pun pada dinding-dinding dibawahnya, atraksi lampu beragam warna ditampilkan pada saat malam tiba.

Terlebih, pada dinding lintas bawah ini terdapat ukiran dengan motif Betawi. Nyiur melambai. Sebuah motif yang mirip bentuk lumba-lumba itu tertata rapi di sepanjang lintasan bawah itu. Di atas dinding, tepatnya batas penghalang antara jalur biasa dengan lintas bawah, dipasang tanaman bunga yang warna-warni.

Terdapat banyak ornamen bermotifkan Betawi di sisi dinging underpas Mampang - Kuningan

Terdapat banyak ornamen bermotifkan Betawi di sisi dinging underpas Mampang – Kuningan (via poskotanews.com)

Bunga-bunga itu tertanam dalam pot beton yang juga dihiasi motif Betawi, gigi balang dan tumpal. Biasanya, motif gigi balang dipakai warga Betawi untuk hiasan-hiasan di rumah mereka. Terpasang pada listplang rumah-rumah penduduk Betawi berbentuk segitiga dan bulatan yang bermakna kejujuran, keberanian, keuletan, dan kesabaran.

Beragam motif Betawi itu menjadi penanda kearifan lokal dalam setiap infrastruktur yang dibangun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Seperti di Jalan Layang Busway (JLKB) Ciledug – Tendean, Jalan Layang Non Tol Antasari, Jalan Layang Bintaro, Permata Hijau, Underpass Kartini, Matraman, dan banyak lagi. (Sumber : Pemerintah provinsi DKI Jakarta melalui Media Jaya)

Bagikan :
Irvano

Irvano

Pemilik dan pengelola dari situs Jakartan.id. Silahkan menhubungi saya melalui email di irvano[at]jakartan.id atau irvano[at]dkijakarta.id

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Konten Situs Terlindungi.